Mohon tunggu...
Didik Sedyadi
Didik Sedyadi Mohon Tunggu... Administrasi - Suka berdiskusi tentang matematika bersama anak-anak SMAN 1 Majalengka. Hobby menulis. Tinggal di Majalengka Jawa Barat

Suka berdiskusi tentang matematika bersama anak-anak SMAN 1 Majalengka. Hobby menulis. Tinggal di Majalengka Jawa Barat

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Sepakbola Konyol : Masih perlukah Mens Sana in Corpore Sano?

31 Oktober 2014   06:10 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:05 176 6 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sepakbola Konyol : Masih perlukah Mens Sana in Corpore Sano?
14146861831957986020

Sepakbola konyol, sepakbola asem tenan, sepakbola badut, sebakbola ngisin-isini/memalukan, sepakbola model cah umbelen, atau apa sajalah istilah yang dilontarkan oleh mereka yang kesal dengan kasus tontonan sepakbola yang anti sportif.

Malu pasti. Siapa yang malu? Yang punya rasa malu tentunya. Warga daerahnya malu (malahan mungkin takut dibully di medsos). Pemda-nya malu. Indik olahraganya malu. Bahkan menurut informasi, sepakbola konyol ini telah go internasional . Artinya orang sedunia pada tahu. Jadi, yang malu bertambah banyak, yakni sebagian rakyat Indonesia. Mestinya yang seharusnya dilihat dan didengan oleh dunia adalah prestasi, bukan penyimpangan semacam itu. Mungkin pelaku dan penginstruksi tak bakal mengira bahwa dampaknya akan sedemikian luas.

Slogan Fair Play yang Terlupakan

Slogan yang sangat familier bagi pecandu sepakbola (terutama ISL) kadang-kadang dianggap sebagai sebuah prosesi yang tanpa makna. Membawa slogan sebelum pertandingan ke tengah lapangan hanya sekedar urutan acara berbaris.

Ketanpamaknaan itu tampak ketika di lapangan hijau banyak tejadi perkelahian antar pemain, wasit dikejar-kejar pemain, bentrok antar pendukung, wasit yang dikeroyok ofisial dan sebangsanya, Benar-benar mereka melupakan fair play atau memang tak ada penekanan khusus dari klub masing-masing untuk menjunjung fair play tersebut? Itu urusan intern masing-masing.

Mens Sana in Corpore Sano, benarkah?

Sejak kita sekolah di SD telah mengenal semacam semboyan dalam olahraga Mens Sana in Corpore Sano, jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Semboyan ini sangat didengung-dengungkan oleh guru olah raga agar anak-anak gemar berolah raga. Sebab dengan berolah raga, badan jadi sehat. Dengan badan sehat diharapkan jiwanya sehat. Indikasi jiwa yang sehat di antaranya adalah optimis, sportif, terpuji, berfikir jernih, menimbang baik-buruk suatu tindakan.

Dengan membandingkan kasus-kasus di sekitar kita, sepertinya semboyan tersebut di atas sudah saatnya direnungi kembali. Artinya jika memang isinya tak sesuai harapan, maka tidak perlu disosialisasikan lagi kepada anak-anak.

Kita mengambil contoh yang mudah (dan ekstrim) saja dari pinggir jalan. Orang gila. Dia tidur malam di emperan toko atau di mana saja, tanpa selimut tanpa baju. Hujan dan angin malam menerpa secara frontal. Tetapi tubuh meraka sehat. Mereka tidak masuk angin. Seger waras. Tetapi jiwanya? Ada gangguan. Artinya, di dalam badan yang sehat tidak / belum tentu bersemayam jiwa yang sehat.

Menurut mereka yang menuturkan semboyan tadi, kalau dibalik menjadi semakin rancu saja. Orang yang jiwanya sehat, belum tentu badannya sehat. Contoh yang mudah adalah mereka yang masih mampu berkarya (mungkin dengan berfikir, mengetik, bisnis online) walaupun sedang didera sakit berkepanjangan.

Blunder dalam Sepakbola terhadap “Ngebulnya Dapur”

Bagi sebagian orang, sepakbola adalah profesi. Bagi anak-anak muda yang punya talenta profesi ini bisa jadi memnajdi mimpi yang selalu terpateri dalam jiwanya. Motivasinya di antaranya dengan melihat betapa tingginya gaji para pemain sepakbola professional , baik transfer, royalti iklan, maupun bayaran per pecan.

Mari kita coba cermati dengan bijak, kasus-kasus ketidaksportifan yanag saya sebut sebagai sebuah blunder dalam sepakbola dan pengaruhnya bagi keluarga mereka.

1.Ada pemain sepakbola yang punya naluri untuk menyakiti atau mencederai lawan main. Mencederai sesama manusia dengan mata pencaharian yang sama, sepakbola, berarti telah memutus jalan rizki pemain yang dicederai. Apa yang harus dilakukan oleh pemain yang cidera? Berobat dengan biaya yang tidak murah. Stabilitas ekonomi keluarga terganggu. Mungkin anak-anak mereka tidak bisa melanjutkan sekolah karena ayahnya cedera berkepanjangan, sedangkan kemampuannya hanya bisa bermain sepakbola. Di sini tak ada sportivitas sama sekali. Tak   ada Mens Sana in Corpore Sano.

2.Ada pemain yang selalu mengharapkan teman satu klub-nya cedera atau halangan lainnya, agar dirinya bisa menempati posisi yang ditinggalkannya. Di sini tak ada sportivitas pula. Tak   ada Mens Sana in Corpore Sano.

3.Pelatih menginstruksikan untuk memainkan sepakbola konyol kepada para pemainnya. Di sini tak ada sportivitas . Tak   ada Mens Sana in Corpore Sano. Jika akhirnya klub-klub itu dikenai sanksi, bahkan mungkin untuk beberapa pemain diskorsing seumur hidup, berarti telah mematikan jalan rizki untuk keluarga mereka.

4.Pengurus menyuap wasit untuk memenangkan klub-nya. Di sini tak ada sportivitas sama sekali. Tak   ada Mens Sana in Corpore Sano. Jika suatu saat kasusnya terungkap di hadapan public, maka hancurlah sudah kehidupan keluarga, anak istri atau orang tua mereka. Mungkin harta tidak, tetapi rasa malu yang tak tertutupi.

Itulah blunder-blunder pemain dan praktisi sepakbola yang mungkin terjadi di seluruh hamparan bumi ini. Saya rasa masih banyak blunder-blunder yang lain.

Apakah Mens Sana in Corpore Sano masih diperlukan? Sebagai sebuah semboyan yang baik tentu masih diperlukan. Yang dibutuhkan adalah usaha untuk ndandani karakter diri agar ketika badannya sehat, jiwanya sehat pula. ***

Tulisan ini telah dipost ulang di http://m.bolabanget.com/reader.php?id=45050055

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x