Mohon tunggu...
WARDY KEDY
WARDY KEDY Mohon Tunggu... Alumnus Magister Psikologi UGM

SAYA adalah apa yang saya TULIS

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Membaca Kekuatan Iman di Tengah Pandemi

28 April 2020   12:15 Diperbarui: 28 April 2020   12:17 194 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membaca Kekuatan Iman di Tengah Pandemi
sumber gambar

Banyak orang mengatakan kalau Gereja saat ini sedang mengalami 'krisis' iman karena berhadapan dengan pandemi Covid-19. Krisis ini terjadi karena sudah hampir 1 bulan umat Katolik tidak menerima Komuni Kudus dalam Ekaristi, setiap hari minggu di Gereja. Bagi saya, hal ini hanya suatu kemungkinan. 

Mengapa saya katakan mungkin, karena sampai saat ini pula, umat terus berdoa bersama (misa dari rumah) setiap hari Mimggu, sembari menerima 'Komuni Batin (Spiritual). Karena itu, terlalu prematur kalau saya mengatakan bahwa Gereja sedang dilanda krisis iman.

Namun demikian, tak bisa kita pungkiri bahwa secara pribadi, orang merasa tidak aman dan cemas akan perkembangan dunia saat ini, khususnya gelisah karena harus berhadapan dengan wabah mematikan, dan wajib mengikuti instruksi Pemerintah. Kebiasaan pergi ke Gereja dan merayakan Misa, merupakan tindakan 'suci' yang kini harus dipending untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. 

Akan tetapi, kecemasan dan kegelisahan ini tidak serta merta dikatakan sebagai 'krisis' iman. Orang kemudian bertanya, sampai kapan kita akan terus merayakan Perayaan Ekaristi dari rumah? Sampai kapan kita hanya menerima 'Komuni Batin'? Bisa dibilang inilah dasar munculnya persoalan tentang iman itu sendiri.

Menurut saya, paling sedikit ada dua faktor yang menyebabkan adanya keraguan dan  'krisis' iman, khususnya mengenai iman zaman dahulu dalam Konsili dan Pembangunan Masyarakat.

  • Konsili Vatikan II, mencoba merumuskan iman Gereja dalam bahasa yang sederhana dan lebih manusiawi. Khusus dalam Gaudium et Spes, (tentang Gereja dan dunia), konsili diadakan bukan untuk mengubah iman tetapi untuk 'aggiornamento' : untuk membuat Gereja menjadi lebih terbuka dan up to date, atau lebih sesuai dengan perubahan zaman yang ada sekarang ini. Cukup lama Gereja mempunyai bahasa yang hanya dapat dipahami oleh kalangan klerus pada khususnya dan orang katolik pada umumnya. Karena itu, konsili tidak mau memakai bahasa yang sulit dipahami untuk membicarakan hal yang biasa. Namun, karena adanya sikap terbuka terhadap perkembangan zaman, maka banyak orang mulai berani mempertanyakan iman dan perkembangan Gereja dalam mengikuti arus perubahan zaman. Pertanyaan itu sudah ada dalam diri orang katolik sejak dahulu, namun selalu didiamkan saja karena dianggap kurang pantas. Sekarang umat Kristiani mulai berani mengungkapkannya secara terbuka. Banyak orang mulai mempertanyakan hal-hal yang dulunya dianggap suci, sakral dan keramat. Sangat terasa bahwa dengan diberikannya kesempatan pada orang untuk bebas berekspresi, maka persoalan menjadi semakin rumit. Ternyata kesadaran Paus Yohanes sebelum konsili, sekarang menjadi kecemasan umum yaitu bahwa ada jurang yang dalam antara ajaran Gereja dan kebutuhan hidup setiap hari. Pertanyaan sekarang adalah apa artinya semua doa dan kesucian bagi kebutuhan orang yang berjuang dalam kesulitan hidup setiap hari?
  • Persoalan akan semakin besar ketika dilihat dari sudup pandang pembangunan masyarakat. Gaudium et spes (GS) berbicara mengenai kesatuan Gereja dan dunia. Namun, bagaimana kesatuan itu? Segala pembicaraan Gereja mengenai kewajiban orang terhadap Tuhan dan sesama memberi kesan yang bisa dikatakan 'kurang' tepat. Sebagai contoh, orang mungkin akan berpendapat seperti ini : Lebih baik meminta maaf dengan tulus pada orang yang kita anggap salah, dari pada masuk kamar pengakuan dan menceritakan semua persoalan pada Imam, yang nota bene tidak ada hubungan dengan pribadi saya sendiri. Atau lain lagi mengatakan : Air lebih penting bagi kehidupan saya khususnya bagi sawah, dari pada air digunakan untuk permandian. Memang kedua contoh ini terlihat sangat 'ekstrem'. Tetapi inilah realita yang terjadi sekarang. Banyak yang akan bertanya apa artinya iman bagi hidup kongkret setiap harinya.

Dalam menjawab kedua peroalan tadi, konsili memberikan pandangan baru terhadap iman.[1]

1. Iman adalah Sikap Hidup

Tepat sekali apa yang dikatakan bahwa pertama-tama, Iman merupakan suatu sikap batin kepada Allah. Namun kemudian iman haruslah menjadi sikap hidup orang Kristiani. Iman tidak saja berarti sikap batin terhadap rahmat Allah tetapi lebih dari itu, iman merupakan sikap hidup seseorang akan Allah. 

Hal ini sudah terdapat dalam Kitab Suci khususnya dalam Injil dan tulisan rasul Paulus. "Berdasarkan kepercayaan, kita hidup dalam perdamaian dengan Allah" (Rm. 5:1) atau "Barang siapa percaya akan Putera, akanmempunyai hidup abadi". (Yoh. 3:36).

2. Iman itu Dinamis,  Bukan Statis seperti Sebuah Teori

Selain itu, iman juga dinamis. Iman akan terus berkembang sesuai sikap hati kita. Iman tidak saja mengenai sikap hati kita terhadap Allah, tetapi mengenai rencana Allah dengan manusia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x