Mohon tunggu...
Adrian Diarto
Adrian Diarto Mohon Tunggu... orang kebanyakan

orang biasa. sangat bahagia menjadi bagian dari lansekap merbabu-merapi, dan tinggal di sebuah perdikan yang subur.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi: Sepotong Pisang Goreng Sisa Kemarin Sore

28 Maret 2020   09:51 Diperbarui: 28 Maret 2020   19:45 166 27 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi: Sepotong Pisang Goreng Sisa Kemarin Sore
dok. pribadi

Jalan depan rumah sepi hari ini
Sinar matahari sendirian menyinari got yang kemarin kubersihkan

Tadi pagi, hanya lewat seorang Ibu berambut keriting
Berjalan cepat dari timur ke barat
Lalu tidak lama bergegas dari barat ke timur

Sepagi tadi, biasanya ada tukang sayur di ujung gang

Menjual sayuran sehat yang disemprot pestisida
Dan makanan berbungkus plastik tanpa tanggal kadaluwarasa

Ada kue berwarna pink, seperti warna tas sekolah yang sudah luntur
Ada roti berwarna coklat seperti sewarna sarung jok mobil

Bukankah kematian sudah lama berlalu-lalang di negeri ini

Kadang bersorban, kadang berbaju panjang warna putih
Kadang berlompatan air ludahnya ketika berbicara kebenaran yang dikarang sebelum tidur, sebelum dengkur membasahi sarung bantalnya yang berwarna kusam

Tunas kamboja tumbuh lebih cepat hari-hari ini
Mungkin karena jalanan sepi
Dan sinar matahari tidak ada yang mengokupasi, seperti meletakkan kebenaran di bawah kursi yang kakinya dimakan rayap

Aku menemukan sepotong pisang goreng di rantang plastik, dekat kulkas yang lebih sering kosong
Sudah dingin, dan digoreng kemarin sebelum isya'

Sambil melihat sinar matahari yang menghangatkan got, kugigit tepung yang melapisi pisang: alot dan dingin

| Kalasan | 28 Maret 2020 | 9.31 |

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x