Mohon tunggu...
Adrian Diarto
Adrian Diarto Mohon Tunggu... Petani - orang kebanyakan

orang biasa. sangat bahagia menjadi bagian dari lansekap merbabu-merapi, dan tinggal di sebuah perdikan yang subur.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Pukul 03.10 di Stasiun Klaten

11 November 2019   18:28 Diperbarui: 11 November 2019   18:33 46
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokpri. Stasiun Klaten.

Kulewati banyak pemberhentian
Pada stasiun-stasiun yang telah melewati banyak waktu

Berdiri gagah dalam senyap malam
Saat angin dari selatan bertiup ke utara
Ketika angin utara bertiup ke selatan

Tidak sabar rasanya, menunggu kereta melambatkan laju saat memasuki stasiun berikutnya
Menderitkan roda-roda besi, memercikkan kembang-kembang api untuk menghangatkan malam

Pada lorong-lorong di bawah lengkungan malam, kulemparkan pandangan

Mencaritemukan dirimu berbaju biru lembut
Melenggangkan langkah di atas tegel-tegel semen, dengan tangan saling memeluk dingin

Langkahmu tidak lebih lebar dari langkahku, meski kakimu selalu nampak lebih menjuntai

Aku menunggumu mendekat, menyejajarkan kaki, lalu melambaikan tangan kanan. Tidak lebih tinggi dari lehermu yang jenjang

Senyum memensil seirama tanganmu yang bergerak lembut

Sejurus kemudian, rambutmu yang terjatuh kau selipkan lagi ke atas telinga

Pelahan kereta bergerak meninggalkan stasiun
Sebelum kutemukan dirimu di antara malam

Pada pukul 03.10 kuakhiri penantian itu
Tidak kunjung kutemukan dirimu di salah satu stasiun yang kulalui

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun