Diana Lieur
Diana Lieur Pelajar / Mahasiswa

There were nights whn i was doubting myself

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Benarkah Jumlah Following di Media Sosial Menunjukkan Derajat Seseorang?

5 November 2018   10:30 Diperbarui: 7 November 2018   14:31 705 12 8
Benarkah Jumlah Following di Media Sosial Menunjukkan Derajat Seseorang?
Ilustrasi: tekno.kompas.com

Bagi kebanyakan masyarakan saat ini, mengenal istilah "following" dan "followers" bukanlah lagi hal yang asing di dunia maya. Nah, biasanya kita sering sekali menilai dan mengamati seseorang berdasarkan jumlah followers atau pengikutnya saja di akun sosmednya. Semakin banyak followers-nya, maka semakin kuat perspektif bahwa orang tersebut terkenal di sosmed. Namun ada satu hal yang lebih menarik dari sekedar mengamati jumlah followers-nya saja, yakni mengamati jumlah following-nya.

Dan di zaman "Semua ingin terkenal" saat ini memang banyak sekali memberikan hal-hal baru dalam diri manusia yang menarik untuk diamati.

"Buat apa minta follback, kalau ujung-ujungnya cuma di-unfollow?"

Kalimat di atas sudah sering sekali saya temui di beberapa bio pengguna media sosial seperti twitter, dan instagram (kebanyakan anak remaja). Menarik memang mengamati jumlah followers di zamannya selebgram saat ini, tapi lebih menarik lagi kalau kita mengamati jumlah following-nya. Hal seperti ini mulai saya amati ketika saya baru sadar bahwa akun instagram milik saya ternyata di-unfollow oleh salah satu teman sendiri. Toh, tak ada angin tak ada hujan kok tiba-tiba akun saya malah di-unfollow sih?

Sumber : Yandex.com
Sumber : Yandex.com
Dan setelah saya meluncur ke akun miliknya, ternyata jumlah followers-nya mencapai ribuan, tapi tidak dengan jumlah following-nya yang di bawah dari dua ratus saja. Saya sempat berpikir "Ada apa?" tapi setelah dipikir-pikir kembali, saat ini kita memang hidup pada zaman di mana sebagian orang menganggap bahwa jumlah following adalah menunjukan derajatnya, di mana semakin tinggi derajatnya, maka semakin selektif ia dalam menentukan siapa saja yang layak ia jadikan following. 

Karena kalau dibilang seseorang sengaja unfollow akun milik teman-temannya sendiri dengan alasan tak ingin terlalu kepo dengan aktivitas teman-temannya, maka saya rasa itu adalah alasan yang ngawur.

Toh pada kenyataannya, kita adalah makhluk yang kepo dengan aktivitas orang lain, sekalipun hanya sedikit saja yang ingin diketahui dari orang lain, setidaknya kita kepo atau penasaran. Dan hal-hal kepo seperti itu memang ditandai dengan banyaknya orang yang masuk dalam dunia sosial media. Lah iya dong, ngapain coba orang bikin akun sosial media kalau bukan karena kepo?

Hanya saja, bagi mereka yang sudah asik dengan tombol unfollow tanpa alasan yang jelas memang sedang menderita penyakit sosial kekinian yang belum ditentukan nama penyakitnya apa. Atau sebenarnya sudah ada nama penyakitnya, hanya saja saya belum mengetahuinya wkwkkk.

Kebanyakan orang-orang yang jumlah following-nya sangat rendah dibanding jumlah followers-nya memang cenderung orang yang tekenal namun bukan berarti ia adalah selebritis yang sering muncul di TV, toh kita tahu bahwa selberitis seperti Lee Jong Suk yang hanya memiliki dua following saja, atau Taylor Swift yang jumlah following-nya benar-benar nol di Instagram, namun bagi saya itu wajar untuk mereka karena bisa jadi Taylor dan Lee Jong Suk tetap menjalin hubungan yang baik dengan teman-temannya di media lain secara privasi. Tapi bagaimana dengan orang-orang biasa yang menderita penyakit unfollow ini?

Sepertinya kurang lengkap drama sosial media yang mereka buat jika tidak mengurangi jumlah following-nya. Bagi saya, jika seseorang sudah menderita penyakit sosial seperti ini, ia tak lagi menimbang bijak seberapa dekat dan baiknya sebuah pertemanan. Ia justru menggunakan ukuran derajat atau status sosial seseorang untuk memilih siapa saja yang harus di-unfollow, dan tak perlu di-unfollow.

Dalam kasus seperti ini, saya sering menemukan beberapa teman yang unfollow akun saya tanpa sebab, padahal kalau dipikir kembali, saya bukanlah pengguna sosmed yang spaming, hanya saja mungkin saya terlihat seperti orang pinggiran hehehee. Hal ini jelas saya tanggapi dengan mengunfollow balik akun teman saya ini, toh untuk apa saya terus-terusan follow orang yang meninggalkan kesan tak jelas? lebih enak kalau sama-sama tak saling mengikuti di sosial media.

Pun tulisan seperti ini tidak sengaja saya buat untuk menyinggung seseorang, toh saya yakin banyak orang yang pernah mengalami hal tersebut selain saya. Karena hal seperti ini adalah gejala sosial terbaru di zaman kekinian ini. 

Pesan saya cukup singkat untuk orang-orang yang sedang mengalami penyakit seperti ini, yakni "Jangan sungkan-sungkan memberitahu bahwa kalian telah menekan tombol unfollow kepada pemilik akun yang kalian unfollow!" Sebab itu cara yang lebih elegan, dan apa adanya. Kalau masalah takut di-unfollow balik, dan jumlah followers kalian akan berkurang, ya itu risiko dong. Salam.

Tangerang, 5 November 2018
Diana