Diana Lieur
Diana Lieur Pelajar / Mahasiswa

There were nights whn i was doubting myself

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Prinsip "Asal Anak Diam" Masihkah Berlaku untuk Saat ini?

12 Juli 2018   07:24 Diperbarui: 12 Juli 2018   20:31 2102 11 6
Prinsip "Asal Anak Diam" Masihkah Berlaku untuk Saat ini?
medicalnewstoday.com

Setiap orang pasti pernah memiliki kenangannya masing-masing saat masih usia anak-anak. Entah jatuh dari sepeda, ketabrak gerobak pecel, atau kecebur empang pantatnya robek disosor bebek hehee. Namun yang pasti adalah rata-rata anak-anak kelahiran tahun 90'an kebawah memiliki kebiasaan yang hampir sama dalam bermain.

Berbicara tentang prinsip "yang penting anak diam" pun pasti pernah kita rasakan ketika orang tua membiarkan apa yang sedang kita lakukan. Dan saya termasuk dalam kategori anak kelahiran tahun 90'an, jadi pengalaman saat saya kecil pasti agak kejadul-jadulan hehehee. 

Dulu, prinsip yang penting anak diam akan menguasai hati orang tua saya ketika saya mulai asik bermain rumah-rumahan dan mengeluarkan gelas-gelas kecil (seukuran untuk tuang teh) di dalam lemari pajangan. Memang agak sedikit was-was karena takut gelas tersebut pecah, namun apa boleh buat ? kan yang penting anak diam (gak rewel) hehehee.

Tapi sayangnya zaman sekarang saya jarang menemukan anak-anak yang merengek dan menangis karena ingin bermain hujan-hujanan, rumah-rumahan atau coret-coret tembok rumah, yaaapss, bukankah itu masalah terbesar pada orang tua saat dulu? 

Orang tua akan dihadapkan pada dua pilihan yakni, anak terus-terusan menangis atau berhenti menangis. Dan yang dikhawatikan pada pinsip "Yang penting anak diam" pun hanyalah si anak akan sakit jika terkena air hujan, atau tembok rumah akan kurang enak dipandang jika ada tamu.

Kalu dipikir-pikir, dulu masalah terbesar pada orang tua memang hanya hal-hal sepele jika dibandingkan dengan keadaan saat ini. Sebab semakin berjalannya waktu bersamaan dengan perubahan zaman, rasanya saya mulai ragu dengan prinsip "yang penting anak diam". 

Kenapa? karena saya sering sekali menyaksikan ponakan-ponakan saya yang usianya baru memasuki 2 th mulai menangis apabila tak diberikan smartphone atau gawai sejenisnya, kemudian mereka akan berhenti menangis apabila sudah diberikan barang tersebut. Bukankah itu sama saja dengan prinsip "Yang penting anak diam" ?

Ponakan yang usianya hampir 2 tahun, kalau dia sudah bosan atau rewel bermain, dia pasti akan meminta handphone, tapi saya tak terlalu khawatir pada ponakan yang satu ini, toh dia cuma buka-buka youtube yang khusus lagu anak-anak atau video Si Bebel yang belajar nama-nama buah dan edukasi lainnya. 

Namun berbeda dengan beberapa ponakan saya yang sudah memasuki usia 5 tahun, dia akan asik sendiri melihat youtuber dewasa atau bermain game online jika smartphone sudah di tangannya. Apalagi kalau sudah terpengaruh setelah melihat video salah satu youtuber, wah ponakan saya ini bisa merengek meminta mainan yang harganya lumayan mehong seperti video review di youtube.

Beralih dari handphone atau gawai sejenisnya. Saya pernah melihat video di instagram, dalam video tersebut ada seorang anak sedang menangis di pangkuan ibunya, namun setelah diberikan rokok yang menyala akhirnya ia berhenti menangis, waduh itu rokok beneran lho dia hisap. Ide tulisan ini pun sebenarnya berasal dari video tersebut. 

Memang semua pasti ada plus minusnya, entah bermain hujan-hujanan atau asik bermain smartphone pada anak-anak. Tapi tingkat kekhawatiran bermain smartphone bisa lebih tinggi dari sekedar bermain hujan-hujanan atau coret-coret tembok rumah, apalagi kalau mainannya sudah merambah ke yang berasap, wew.

Prinsip yang penting anak diam memang selalu diraskan oleh setiap orang tua, bahkan sampai saat ini. Dan pengawasan dari orang tua memang penting, malah semakin dibutuhkan, tapi sayapun sangat berharap setidaknya pihak-pihak yang turut mewarnai dunia hiburan terutama yang dapat di akses melalui smartphone dapat memikirkan dan memastikan bahwa konten atau hiburan yang mereka buat bisa ramah dan aman untuk perkembangan anak-anak. 

Toh kita tak bisa memastikan dengan tegas bahwa yang dapat memngkonsumsi konten atau hiburan yang dibuat adalah kalangan usia tertentu saja. Sebab semua orang bisa melakukan berbagai cara untuk mengakses.

Tangerang, 12 Juli 2018

Salam, Diana.