Mohon tunggu...
Diana Putri
Diana Putri Mohon Tunggu... On Proses

Berdamai dengan diri sendiri adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Maha

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mengeja Angka

25 Januari 2021   16:56 Diperbarui: 25 Januari 2021   17:12 89 1 0 Mohon Tunggu...

Tubuh mungilnya yang masih menggunakan rok pendek siap mengayu mainan baru. Ukuran badan dengan mainannya tak begitu sepadan bertemu. Tangan yang harus lurus menatap ke depan tak kesampaian, melainkan Ia harus menggantungkan sikunya bak perosotan di taman kanak-kanak. 

Pinggul yang seharusnya menapaki tempat duduk, nyatanya tak dapat diraihnya. Namun, perihal yang tak sesuai dengan ukuran badannya, semangat yang dimilikinya tak pernah padam berkurang. Sesekali ia terpatah-patah dalam mengayuh. Terjatuh dari atas mainan baru. Terkadang Ia menyentuh lutut merah beretnya dengan berdiri sambil menatap Sang Ibu. Tak ada lemparan kata dari Sang Ibu, namun Ibu hanya melambaikan kedua tangan berbalik seolah berucap untuk bangkit kembali.

            Decakan kaki dewasa itu tak pernah berhenti mengikuti. Jemari-jemari bagian kanannya tak pernah lepas dari sadel hitam. Dan kedua netranya tak pernah  lari dari binar-binar hingga kaki mungil itu dapat lihai dalam mengayuh.

            "Nak, bangun nak. Salat subuh dulu, antarkan Bapak ke jalan raya ya?!" Sambil mengelus lengan kanan.

            "Tapi ini kan masih gelap buk, Lila gak berani" Jawabnya dengan memainkan tangannya ke mata.

            "Bapak mau berangkat kerja. Sekarang Lila sudah ada sepeda dan Lila juga sudah bisa. Sekarang waktunya Lila bantu Bapak" Sahut ibu kembali bersamaan mengangkat kedua tangan Lila.

Kemeja biru panjang tertekuk selengan. Celana kain gombrong abu menjadi teman. Ritme olahan kaki yang ditentukan begitu pelan perlahan. Menikmati sisa-sisa malam yang berserakan. Beraroma ketenangan tanpa mendeham. Garis asap tak beraturan sesekali meluncur di depan bibir saat bersua sapa dengan bocah ciliknya. 

Lila yang tak sadar sepenuhnya meski sudah menyapa percikan air, tak dapat mewujudkan penuh atas nyawanya. Hanya lingkaran tangannya menemukan paksa antar jari-jemarinya. Sesekali Ia menempelkan kepalanya ke punggung Bapak, sambil melengos ke kanan maupun ke kiri. Saat benda mati  putih itu menghadang jalan dengan beberapa temannya, olahan kaki Bapak makin kuat untuk menapakinya.  

            "Aduh sakit Pak" Ungkap Lila saat dibonceng Bapak. "Lah wong dalane nggronjal ndok arep piye maneh?" Pangkas Bapak singkat ditemani suara bising yang terus mencecar dari arah kejauhan. "Pak nanti kalau Lila gak berani pulang bagaimana? Kan masih gelap. Lalu kenapa Lila harus nganterin Bapak, Lila kan masih kecil. Kenapa bukan orang gede aja yang nganterin Bapak?" tanya Lila dengan polos. Tanpa sempat menjawab, sebuah bus menghampiri gapura merah. Bapak yang masih berada di sepeda merah bertuliskan merek warna kuning, dengan secepat kilat Ia bergegas meninggalkan. Hanya uluran tangan yang Ia sodorkan ke Lila sebagai lambang perpisahan dan ditutup dengan salam. Dengan mata berbinar-binar, rasa-rasanya Lila ingin bergelayut pada Bapak.

Mata berbinar-binar itu kembali hadir setelah 13 tahun. Perjalanan singkat dengan sepeda merah menjadi cerita sebelum akhirnya Bapak melapas Lila. Bukan Lila yang berkaca-kaca tapi melainkan Bapak. Yogyakarta menjadi pilihan hatinya, keinginannya Ia dekap penuh erat. Setiap malam Ia memimpikan angannya dengan melangitkan bait-bait bercerita kepada Sang Maha. Dan kini waktunya telah tiba.

            "Assalamualaikum Pak" Ucap Lila saat menelepon Bapak

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x