Mohon tunggu...
Dian Nirmala
Dian Nirmala Mohon Tunggu...

Pemerhati kisah manusia dan menuangkannya dalam catatan.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Terus Berjalan: Bertekuk Lutut di Teluk Hijau

10 November 2018   09:37 Diperbarui: 10 November 2018   14:57 0 0 0 Mohon Tunggu...
Terus Berjalan: Bertekuk Lutut di Teluk Hijau
Teluk Hijau (dokumentasi Awesome Travelmates)

Hai! Saya Dian. Saya merupakan bagian dari sebuah kelompok jalan-jalan bernama "Awesome Travelmates". Pada beberapa perjalanan bersama, moto yang kami bawa adalah terus berjalan. 

Sederhana sekali ya. Kesederhanaan yang dapat membawa kami melalui masa-masa sulit perjalanan, ketika merasa ragu untuk maju dan merasa sayang untuk kembali. Salah satunya adalah pengalaman jalan-jalan yang satu ini.

Tahun 2016, kami membuat waktu terus berjalan menuju tempat wisata di Banyuwangi, Jawa Timur. Yap, Banyuwangi memang terkenal dengan Taman Nasional Baluran, sebagai salah satu ikon wisata Indonesia. 

Namun, ada dua lagi saudaranya yang gak begitu disorot oleh warganet, yaitu Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Menu Betiri. Yang namanya taman dengan skala nasional, kebayang yah, luasnya kaya apa tau. Kita akan selalu saja mendapat kejutan di dalamnya. Nah, salah satu harta karun terindah di sana adalah Teluk Hijau, destinasi untuk kaki menginjak dan hati berpijak. Berlokasi di dalam Taman Nasional Menu Betiri, di Desa Sarongan, sekitar 90 kilometer dari kota Banyuwangi.

Sebagai warga Jabodetabek yang manis manja ini dan ga bisa lepas dari kereta, alternatif murah dan terjangkau adalah dengan kereta api tujuan Surabaya, yang bisa dipesan melalui aplikasi Pegipegi. Sebenarnya, ada stasiun kereta di Banyuwangi, sehingga kalian bisa melanjutkan perjalanan kereta dari Surabaya. 

Hanya saja, karena kami berniat muter-muter dulu di Surabaya dan sekitarnya, kami lanjut patungan untuk sewa mobil muter-muter dulu dan tiba di Banyuwangi. Bermalam di kantor warga di sekitar Taman Nasional Menu Betiri, adalah opsi yang kami pilih waktu itu. Kenapa? Karena numpang itu lebih murah meriah.

Keesokan harinya kami memulai petualangan. Kami berangkat dengan membawa bekal minum dan kue seadanya. Jarak dari kantor tumpangan ke Teluk Hijau gak jauh, hanya 2 km saja. 2 km jalan kaki naik turun gunung. 

Teluk Hijau bukan destinasi ekstrim tapi juga bukan destinasi yang mudah pada saat itu. Cocoklah untuk kami-kami yang ada di level menengah ke bawah berdasarkan tingkat kecekatan berpetualang (baca: yang engap-engapan kalau sedikit mendaki, yang ada takut-takutnya kepeleset batu, yang minta istirahat setiap 10-15 menit sekali, yah intinya orang-orang yang kebanyakan iklan dan drama dalam perjalanannya seperti gampang terdistrak oleh keindahan alam). 

Meskipun tidak terlalu ekstrim, namun diperlukan kekuatan fisik yang memadai, mental yang teguh tidak mengeluh, dan bawa juga kawan jalan yang menyenangkan, untuk bisa tiba di sana dengan suka cita.

Perjalalanan diawali dengan melewati rerumputan menuju tepi pantai. Kiri kanan kami masih sawah hijau terhampar, dengan pohon kelapa di jalan setapak kami. Masih ada beberapa rumah penduduk di situ, di tepi pantai dekat rumah mereka terparkir kapan-kapal pengangkut penumpang. Kami membelah jalanan berumput hingga tiba di tanah dengan rumput yang hijau kering, jarang-jarang, mencoba eksis di antara tanah berpasir.

susur sawah (dokumentasi Awesome Travelmates)
susur sawah (dokumentasi Awesome Travelmates)
keramaian pesisir (dokumentasi Awesome Travelmates)
keramaian pesisir (dokumentasi Awesome Travelmates)
Tiba di pesisir pantai yang luas dengan sedikit karang, langkah kami masih ringan, lebih banyak derai tawa bersambutan daripada debur ombak yang tenang. Di sana, ada beberapa batu karang berukuran besar yang menarik untuk dijadikan objek panjat, tapi mesti berhati-hati ya, karena masih banyak kerang-kerang tajam menempel di sana. Dari sana, jika kita menghadap lurus ke arah timur, maka setangkup bukit hutan menjadi satu-satunya petunjuk untuk melanjutkan perjalanan. Ya, kami perlu masuk ke sana. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3