Mohon tunggu...
Diajeng Suryowardoyo
Diajeng Suryowardoyo Mohon Tunggu... Citizen Journalist

Penikmat Isu-Isu Ekonomi

Selanjutnya

Tutup

Karir

Mengapa Akuntan Indonesia Tidak Bisa Setegas Akuntan Singapura?

15 Januari 2020   15:40 Diperbarui: 15 Januari 2020   16:02 543 0 0 Mohon Tunggu...
Mengapa Akuntan Indonesia Tidak Bisa Setegas Akuntan Singapura?
Dosen mengajarkan perbedaan antara pengawasan dengan pengendalian. Sumber: dukecronicles.com

Saya punya tiga kritik untuk akuntan Indonesia.

Satu: Kalau IAPI Hanya Ngeles, Korban Baru Berdatangan
Membaca nota penyebaran berita IAPI (Ikatan Akuntan Publik Indonesia), Indonesia berduka. "Hanya membela diri, tidak memperbaiki".Kalau cuma begini, yang akan menjadi korban dari kasus Jiwasraya orang-orang yang tak tahu menahu: Moeldoko, Eric Tohir, Sri Mulyani, Wimboh Santoso, dan Joko Widodo. Mereka yang bersih-bersih tapi kena ulah dari cara kerja akutansi berkualitas rendah.

Mengapa akuntan kita tak bisa setegas akuntan negri tetangga yang busa mencegah banyak fraud?

Ya, saya mengerti kita bisa berkelit bahwa tugas akuntan "hanya" memberi opini. Tapi ilmu kita lebih dari itu dan akuntan dituntut mengawal ekonomi dari ancaman fraud dan krisis yang berdampak sistemik.

Sekarang saya jadi mengerti, bahwa kualitas
akuntan kita hanya sampai pada memilih soal pilihan berganda yang namanya opini akutansi, bukan memeriksa, apalagi mengendalikan. Padahal waktu kuliah judul bukunya Accounting and Controlling.
Dengan susah payah, dosen-dosen tua di kampus menjelaskan beda antara pengawasan dengan pengendalian. "Akuntan itu ibarat kusir pedati. Kalau di depan ada jurang dan kudanya berlari terlalu kencang, akuntan yang hebat harus tahu bahwa itu maut. Pengendalian itu artinya  tarik talinya agar kuda dan keretanya tidak masuk jurang. Jangan cuma diawasi," begitu ujar dosen saya di UI tahun 1970-an.

Sekarang IAPI mengatakan, akuntan Indonesia hanya memberi opini saja. Harap dicatat hanya opini. "Soal laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen," itu kata IAPI. Yang dibayar puluhan miliar rupiah oleh BUMN. Ini benar-benar jadul.  

Saya tambahkan, opini di BUMN termasuk di Jiwasraya itu nilainya puluhan miliar rupiah. Dan tahukah anda, opini itu hanya bersifat multiple choice?
A. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)
B. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified Unqualified Opinion)
C. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
D. Pendapat tidak wajar (Adverse Opinion)
E. Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer of Opinion)

Mudah bukan? Pilihannya juga suka-suka akuntan saja. Bukan ditetapkan dosen.

Harusnya sebelum sampai ke opini itu perbaiki dulu, kasih warning yang jelas seperti akuntan Singapura. Dan jangan lupa kita kontraknya bertahun-tahun. Ingat ya, bertahun-tahun.  Bukan cuma sekali deal beres. Maka tahun depannya kita sudah tahu masalahnya.

IAPI dan para akuntan pembina jangan ngeles bahwa seakan-akan akuntan hanya tahu setelah kejadian. Hanya post audit. Kalau seorang akuntn mendapat kontrak 4 tahun, hanya tahun pertama yang dia belum 100% tahu penyakit perusahaan yang diaudit. Tahun kedua dan ketiga dia sudah tahu.
Ibarat dokter hebat, kita tahu isi jeroan pasien. Jangan hanya mau duitnya saja! Saya kecewa kalau akuntan Indonesia melepas tangan dan tak bertanggungjawab atas laporan keuangan yang sudah dia tangani.

Dua: Akuntan bukan lagi Profesi yang Keren
Akuntan itu profesi yang keren! Itu yang selalu diucapkan para dosen akuntansi.  Untuk membuktikan ujaran itu, akuntan sering menyebut nama Frank J Wilson, seorang forensic accountant  yang berhasil menyeret mafia terkenal Al Capone ke dalam penjara.  Yang kedua, sudah menjadi rahasia umum orang yang memilih profesi ini selalu diming-imingi gaji besar, banyak duit, mudah dapat pekerjaan.

Frank J. Wilson. Sumber: The Daily Beast
Frank J. Wilson. Sumber: The Daily Beast
Tentu saja kedua hal di atas tidak sinkron. Frank J Wilson tidak matrelialistis mengkomersialkan profesi.  Dia teguh menjalankan misi forensic untuk memperbaiki governance. Hasilnya mafioso di Amerika Serikat punah. Ekonominya maju pesat. Indikasinya, tax ratio naik. Penerimaan pajak berlipat ganda. Rakyat dapat fasilitas publik yang bagus karena akuntan kerja benar.

Sedangkan di sini akuntan itu tak berbeda dengan konsultan.  Yang penting terima bayaran bagus, berkuasa lebih dari direksi yang diperiksa dan punya mobil keren. Tapi begitu ada kasus lalu cuci tangan. Cita-citanya menjadi partner di KAP.

Beda sekali bukan? Inilah benih kesulitan bangsa ini yang tak akan pernah bisa menjadi bangsa besar. Tak bisa keluar dari perangkap negri kelas menengah, apalagi keluar dari krisis semacam Jiwasraya.

Habis Jiwasraya ada Asabri, lalu lihat saja.  Akan ada kasus besar yang menjerat lembaga-lembaga dana pensiun-dana pensiun.

Lalu setelah itu perbankan yang tersangkut ketiga industri tadi. Semua berkelindan menjadi kesatuan. Meledaknya tahun depan, 2021.

Jadi setiap kali bangsa ini akan naik kelas,selalu dihantui kasus keuangan yang ditenggarai oleh niat cepat menjadi kaya para akuntan publik dan akuntan konsultan pajak yang dibela oleh organisasi profesinya...

Tiga: Berhati-hatilah Terhadap Mereka Yang selalu bicara Kejujuran atau Integritas.
Akuntan itu juga profesi yang paling sering bicara tentang transparansi, integritas, governance, ethics dan seterusnya.

Namun kini pupus sudah keren-keren itu. Profesi ini ternyata lebih banyak menyembunyikan angka ketimbang mengedepankan transparansi.

Sejak kecil kita diajari, waspadalah terhadap orang yang menasehati kejujuran secara berlebihan. Sama seperti ulama yang hanya selalu membicarakan dosa, mereka sedang menutupi perbuatannya sendiri.Kini saya harus kecewa dengan para akuntan yang telah melanggar janji setianya untuk mengawal republik ini dari kehancuran. Kini saatnya akuntan jangan lagi mengaku transparan dan punya integritas paling keren. Tugas internal kita begitu besar untuk memperbaiki diri.

VIDEO PILIHAN