Media Pilihan

Bukan Agama, Tapi Kemanusiaan

14 Februari 2018   21:13 Diperbarui: 14 Februari 2018   21:23 714 0 0
Bukan Agama, Tapi Kemanusiaan
gabrielaprokop.com

Maraknya kasus penyerangan yang terjadi bukan tentang agama, tapi tentang kemanusiaan.

Peristiwa penyerangan dilakukan oleh seorang pria bersenjata tajam, kepada umat katolik sedang beribadah di Gereja St Lidwina Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta. Kejadian itu terjadi pada Minggu (11/02/2018) waktu setempat.

Tampak depan Gereja Bedog. Foto oleh Tempo
Tampak depan Gereja Bedog. Foto oleh Tempo
Akibat penyerangan itu lima orang terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Mereka adalah  Romo Edmund Prier, Budiono, Yohanes Triono, Permadi, dan pelaku penyerangan. Setelah dilarikan ke rumah sakit, kabar terbaru menyebutkan keadaan korban sudah mulai membaik.

Belakangan diketahui bahwa pelaku bernama Suliono (22). Pria asal Krajan RT 02 RW 01 Kandangan, Pesanggrahan Banyuwangi, Jawa Timur tersebut,  pernah menjadi santri di  Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin Payaman I, Magelang. Namun, hanya bertahan sampai lima bulan.

Peristiwa penyerangan ini tentu memberikan luka tersendiri bagi para jemaat yang menghadiri Misa pagi di Gereja Bedog.  Maka, untuk berjaga-jaga, pihak gereja dengan tanggap segera membentuk tim untuk mengatasi trauma dan ketakutan psikologi yang dialami jemaat geraja.

Dikatakan oleh Pastur Gereja St. Lidwina, Yohanes Dwi Harsanto bahwa tim tersebut bernama Tim Trauma Healing. Tim tersebut bekerja sesuai dengan kebutuhan umat dan bekerja sama dengan beberapa psikolog untuk mengatasi trauma pada anak-anak dan ibu-ibu.

Satu hari setelah kejadian penyerangan, warga dan umat Gereja St. Lidwina Bedog mulai melakukan kerja bakti untuk membersihkan gereja. Di hari yang sama tiba-tiba viral foto perempuan berjilbab turut ikut membersihkan gereja. Hal ini seakan menyiratkan bahwa ternyata rasa kemanusiaan sesama manusia itu masih ada.

Menyikapi berbagai rentetan peristiwa yang terjadi terhadap Gereja Bedog St. Lidwina, tentu muncul berbagai spekulasi. Secara otomatis semuanya pasti akan disangkut pautkan dengan agama.

Segala pemberitaan tentang krisis toleransi akan mulai muncul ke permukaan. Baik motifnya memang agama atau bukan, namun jika ada kasus penyerangan umat beragama, tombol permikiran kita seakan sudah otomatis mengarah pada dendam antar agama.

Apalagi terkait kasus teror tentu, semua mata akan secara otomatis tertuju pada salah satu umat beragama. Sudah menjadi hal yang klise jika teroris diidentikkan dengan agama tertentu.

Memang bukan sesuatu yang mengejutkan jika semua penyerangan terhadap umat beragama selalu dikaitkan dengan agama. Namun, sebelum itu, perlu diketahui bahwa terror dan agama adalah dua hal yang bertolak belakang.

Teror adalah sebuah kegiatan untuk menimbulkan ketakutan yang intens atau seseorang atau hal yang sangat menyebalkan atau tidak menyenangkan. Berdasarkan definisi tersebut, tentu dapat diketahui bahwa tujuannya adalah untuk menjadikan orang takut, cemas dan tidak berani.

Lantas kita beralih ke agama. Agama merupakan seperangkat keyakinan tentang penyebab, sifat, dan tujuan alam semesta, terutama bila dianggap sebagai penciptaan lembaga atau agensi super manusia, biasanya melibatkan ibadah renungan dan ritual, dan seringkali mengandung kode moral yang mengatur perilaku urusan manusia. Tujuannya adalah untuk menjadikan hidup manusia lebih baik.

Hal yang sangat lucu ketika segala hal terkait teror dikaitkan dengan agama. Agama (bagi yang mempercayainya) menjadikan hidup orang lebih teratur. Moral manusia menjadi lebih baik berkat agama, karena segala nilai moral aturan di dalamnya.

Maka akan sangat tidak masuk akal jika dua hal itu disamakan. Namun, lain halnya jika teror itu dikaitkan dengan rasa kemanusiaan. Kemana rasa kemanusiaan seorang peneror, ketika dia melakukan aksi teror?

Kegiatan penyerangan dan semacamnya seharusnya lebih cocok dikatakan sebagai degradasi kemanusiaan daripada aksi teror. Manusia menyerang manusia lain atau manusia meneror manusia lain. Bukankah itu tidak manusiawi. Tombol otomatis itu harusnya tertuju pada rasa kemanusiaan ketika teror, perang, atau penyerangan terjadi.

Pemeran utama di sini seharusnya rasa kemanusiaan, bukan teror. Fokus utama di sini juga bukan tentang masalah tingginya intoleransi, tapi masalah tipisnya rasa kemanusiaan antar sesama. Setinggi apapun intoleransi, jika rasa kemanusiaannya tinggi, maka bukan tidak mungkin hal semacam teror dan penyerangan itu bisa dihindari.

Semua orang pasti tahu, bahwa tidak mungkin agama mengajarkan hal yang buruk. Agama apapun pasti melarang umatnya untuk berbuat buruk. Dalam skenario terburuk pun, agama melarang umatnya untuk membunuh. Pasti, semua agama dan keyakinan selalu memupuk nilai kemanusiaan, saling menghormati dan menghargai atar manusia. Hanya mereka yang dangkal pengetahuan yang akan berbuat tidak baik.

Oleh karenanya, mari kita berkaca pada diri sendiri. Seberapa tinggi jiwa kemanusiaan kita, sehingga kita bisa tidak menyulut bara atas segala yang terjadi. Pun halnya dengan media. Menjadi media yang lebih manusiawi, yang selalu memberikan solusi dan menjadi penengah, akan lebih baik daripada menjadi media yang provokatif dan sebelah mata.

Editor: Laksmiworo Kaniraras (150905792)