Media Pilihan

Media Analog dan Digital, Saling Melengkapi dalam Informasi

13 Februari 2018   19:52 Diperbarui: 19 Februari 2018   00:07 363 1 1
Media Analog dan Digital, Saling Melengkapi dalam Informasi
Ilustrasi Persaingan Media Digital dan Analog

Mengawali karir melalui media tradisional, beberapa media cetak malah gulung tikar, karena tidak kuat lagi menahan gempuran media digital. Mereka memilih mundur karena sudah tidak ada lagi peminat. Namun tidak semuanya mundur dan menghilang, ada sebagian yang bertransformasi menjadi media online.

Sekitar tahun 2015, ramai orang berbondong menulis tentang "Senjakala Media Cetak dan Kebangkitan Media Online". Topik tersebut menjadi hal yang mulai diperbincangkan pada sat itu. Bukan tanpa alasan, hal ini karena dalam kurun waktu satu tahun, ada lebih dari dua media cetak yang berhenti beroperasi. Satu diantaranya adalah Koran Tempo Mingguan. Tentu hal ini menjadi sebuah perbincangan yang luar biasa, tidak hanya terkait kemajuan teknologinya, tapi juga terkait kebiasaan masyarakat Indonesia yang biasanya selalu ditemani koran di setiap pagi.

Belum cukup sampai disitu. Ketika beberapa media cetak ini berhenti beroperasi dan media online mulai melakukan banyak ekspansi. Permasalahan baru kembali muncul. Masyarakat mulai menyerang media online dengan mempertanyakan kredibilitas tulisan mereka. Orang mulai curiga dengan tulisan yang ada di media online. Beberapa tulisan disinyalir tidak diverifikasi ke narasumber, sehingga menimbulkan perdebatan. Berbagai pemberitaan dan tulisan opini mulai bermunculan menyerang media online terkait etika penulisan dan pemberitaan.

Dilema lantas dirasakan oleh masyarakat. Mereka mulai bingung dengan segala pemberitaan yang ada. Di satu sisi mungkin media cetak lebih kredibel, akurat dan terpercaya. Namun, di sisi lain, media online lebih cepat dalam mengabarkan pemberitaan.

Pada dasarnya yang harus dipahami adalah, keduanya sama-sama memiliki kekurangan dan kelemahan masing-masing. Lagi pula, zaman sudah berubah. Media online juga sudah mulai berbenah. Orang kini mulai serius dalam melakukan perbaikan dalam penyelenggaraan bisnis media online. Namun, tentu media cetak juga berbenah. Mereka semakin inovastif dan tidak kaku. Semua perubahan tersebut dilakukan demi pemberitaan yang lebih baik lagi.

Tapi, memang tidak ada salahnya jika melakukan evaluasi terkait kinerja dan beberapa printilan lain terkait media analog dan media digital.

Nah, memang semua orang pada dasarnya bisa dan bebas untuk menulis. Terlebih setelah adanya internet dan media digital dengan penyedia jasa blog seperti Kompasiana atau Indonesiana, serta kolom interaktif dalam beberapa media online, pastinya orang semakin bebas untuk menulis dan mengutarakan pendapatnya. Namun, sebelum itu, perlu diketahui bahwa sebelum menulis ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan. Beberapa peran penulis seperti yang ada dalam buku Writing for Digital Media karya Brian Carroll, disebutkan ada peran penulis, diantaranya:

Komunikator Pesan, bahwa penulis harus bisa menyampaikan pesan informasi dengan terampil dan benar. Kemudian, Penyelenggara Informasi, bahwasanya dalam menyelenggarakan sebuah informasi, penulis harus benar-benar membantu pembaca agar mendapatkan informasi yang diinginkan. Di sisi penulis harus pintar menfilter informasi dari yang penting hingga yang paling penting. Terakhir penulis sebagai Interpreter. Seorang penulis adalah interpreter dari sebuah pesan informasi sebelum pesan itu sampai di masyarakat. Jadi, sebagai inpreter, penulis harus memperhatikan medium dan khalayaknya.

Berkaitan dengan tiga hal di atas, tentu tulisan yang ada juga pasti memiliki kriteria. Salah satunya yang sempat menyerang media online, yakni Kredibilitas.

Persaingan Kredibilitas

Berbicara tentang kredibilitas, tidak ada yang meragukan kredibilitas media cetak. Informasi yang dijual diproduksi dengan sangat teliti dan jeli. Verifikasi tidak pernah ketinggalan, oleh karena itu berita yang ada di media cetak terkesan lebih lengkap dan akurat. Bahkan dalam dunia cetak, sebelum tulisan dicetak, mereka harus melewati minimal dua tahap editing, yakni editing konten dan editing tata bahasa (EYD).

Lantas bagaimana dengan media online. Dulu, di awal kemunculannya, dan seperti yang ada di buku Carroll (2002), dikatakan bahwa kredibilitas dari media online sangat rendah dan mereka rawan verifikasi. Jadi informasi yang disampaikan sangat minim kebenaran.

Namun, memasuki tahun 2017 media online mulai berbenah diri. Mereka mulai memperbaiki dapur redaksi dan mencari reporter tetap, bukan lagi reporter lepas. Mereka juga mulai melakukan ppemberitaan dengan baik dan benar. Ditambah lagi, beberapa media online sekarang ini mulai berkolaborasi dengan elemen lain, seperti menambahkan video, suara, gambar, atau infografis.

Dengan kesadaran dari dua media terkait pentingnya sebuah kredibilitas, maka semuanya menjadi semakin baik. Kedua belah pihak, baik analog atau digital benar-benar melakukan perbaikan atas isu kredibilitasnya. Kini, tidak perlu ada keraguan lagi, sebab media online tengah melakukan perubahan dalam kredibilitas dan media cetak tetap dan semakin kencang mempertahankan kredibilitasnya.

Sejatinya kredibilitas merupakan sarat utama yang harus dipunyai oleh semua media. Namun selain kredibilitas ada beberapa hal lain yang sering dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan satu media dengan media lain.

Cepat, Selalu Baru dan Lengkap

Ini merupakan salah satu syarat yang seharusnya dimiliki dan oleh kedua belah pihak. Baik analog atau digital mereka apasti punya salah satu dari kecepatan, kebaharuan, dan lengkap. Ini merupakan karakteristik gabungan. Agar tidak terjadi persaingan, maka penulis berusaha menggabungkan beberapa karakteristik di atas.

Media digital dalam bentuk online pasti selalu identik dengan yang namanya kecepatan. Ini adalah ciri khas bahkan bisa jadi kebanggan bagi media online. Berbekal koneksi internet yang stabil, media online sangat mampu menayangkan lebih dari enam berita dalam satu hari. Selain itu, internet juga memberikan kemudahan akses. Karena media online dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Mungkin bisa dibilang, berselancar di media online lebih mudah dibanding berselancar di perpustakaan.

Tapi, satu yang tidak dimiliki oleh media online adalah detail dan kelengkapan berita. Media cetak adalah sumber dari segala berita. Hal ini karena kelengkapan berita yang disajikan oleh media cetak. Sajian informasi berita di media cetak juga sangat terjangkau dan merakyat. Semau kalangan dapat dengan mudah mengakses berita di media cetak, tak terkecuai mereka yang tidak memiliki akses internet.

Terkait kebaharusn, dua media ini memang selalu uptodateberitanya setiap hari. Pasti ada sesuatu hal yang baru yang diberikan setiap harinya. Oleh karenanya, terkait kebaharuan, keduannya pasti akan selalu berusaha menyajikan sesuatu berita dan informasi yang baru untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.

Baik media digital ataupun media analog pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika terkait proses produksi memang media cetak lebih membutuhkan biaya yang lebih besar. Hal ini terkait proses panjang yang harus dilewati sebelum naik cetak. 

Bahan baku yang dibutuhkan juga mahal. Ini berbanding terbalik dengan media online tentunya. Biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuh portal online masih terbilang terjangkau. Semua orang bisa mendirikan dan memproduksi informasi melalui media online. Inilah alasan mengapa sekarang media online mulai menjamur. Yang pasti dan harus kita tahu adalah bahwa kedua media selalu berusaha untuk berbenah menjadi media yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Membandingkan mereka berdua memang bukan hal yang salah. Namun perlu disadari bahwa keduanya juga bisa saling melengkapi satu sama lain. Bisa saja media cetak yang menjadi sumber tulisan media online atau sebaliknya. Tentu tidak ada yang tahu, maka sebaik-baiknya penikmat informasi adalah mereka yang selalu mendukung dan menghargai setiap informasi yang diberikan. Semuanya kembali lagi kepada filter yang dipasang oleh pembaca.