Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... Lainnya - an ordinary people

ordinary people

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Tragedi Kanjuruhan: Gas Air Mata, Kecerdasan Emosi, dan Sebuah Ironi

4 Oktober 2022   18:20 Diperbarui: 6 Oktober 2022   10:35 1545
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Pray For Kanjuruhan. (dokumentasi pribadi by lintangayu)

Sedang pada hidung, selain gejala rasa terbakar, tanda terpapar gas air mata antara lain seperti hidung menjadi bengkak dan terus mengeluarkan cairan seperti saat kita pilek.

Apabila kulit kita yang terpapar gas air mata pada umumnya akan terjadi iritasi sehingga kulit terlihat kemerahan. 

Sungguh! Begitu berat efek dari penggunaan gas air mata bagi tubuh kita. Terlebih jika paparan menjalar ke saluran pernapasan. Pada paru-paru, akan timbul tanda seperti sesak nafas, batuk, dan wheezing (seperti pada penyandang asma). Lebih jauh lagi, jika seseorang mengalami kegagalan pada sistem pernafasan maka berujung pula pada kematian.

Apa yang dapat kita lakukan bila terpapar gas air mata?

  • Segera keluar dari area di mana gas air mata dilepaskan. Segera menjauh. 
  • Bila mata kita terkena gas air mata, sebaiknya segera basuh dengan air bersih selama 10-15 menit. 
  • Bila menggunakan lensa kontak, segeralah lepaskan lensa kontak Anda dan jangan gunakan lensa kontak tersebut. Namun, bila kaca mata Anda yang juga terkena percikan gas air mata, segeralah cuci menggunakan air bersih dan sabun. Lalu keringkan, barulah bisa dipakai kembali.
  • Begitu pula bila kulit kita yang terpapar, maka sebaiknya lekas mandi atau segera membasuh badan menggunakan air bersih dan sabun. 
  • Sedang pakaian yang terkena percikan sebaiknya segera lepas dan pastikan bungkus rapat pakaian tersebut dan alangkah baiknya tidak digunakan kembali.
  • Langkah terpenting, segeralah periksakan diri Anda ke rumah sakit atau dokter terdekat.

Berlatih Cerdas Mengelola Emosi

Sungguh! Kejadian Kanjuruhan bukan peristiwa yang pantas untuk kita anggap sepele. Gagapnya masyarakat kita memilah dan memberi diri lebih ramah pada setiap emosi, terpancar dalam insiden ini.

Pertandingan yang tadinya adalah sebuah realita intersubyektif, sebagai wadah pemersatu, kini berubah menjadi laga tanding lontar emosi antar sesama. Amarah, panik, takut, semua bercampur menjadi satu. 

Saya bukan ingin membela salah satu pihak atau menyalahkan pihak lainnya. Tapi apa yang terjadi merupakan bentuk keprihatinan pada emosi kita yang kurang terlatih.

Tidak ada sepak bola seharga nyawa manusia.

Berulang kali dalam artikel saya yang lalu, selalu saya unggah urgensi kecerdasan emosi. Mungkin belum lepas dari ingatan kita bagaimana Tugu Jogja beberapa bulan yang lalu menjadi saksi bisu masyarakat kita yang masih saja sering membuat keputusan berbalut emosi. Pada akhirnya berujung kerusakan.

Melintas dalam benak saya  pada hari Minggu, 2 Oktober 2022 dini hari yang lalu. Begitu banyak ratapan mereka yang berduka. Tragedi ini pun pasti membawa beban traumatik baik bagi mereka yang selamat maupun keluarga yang ditinggalkan.

Mengulik dari American Psychological Assosiation (APA), ada salah satu bagian  otak yaitu prefrontal korteks (PFC). Bagian ini merupakan area penting  terkait dengan sistem limbik kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun