Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... Lainnya - an ordinary people

ordinary people

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mistisisme dalam Bingkai Neurosains

23 September 2022   20:11 Diperbarui: 24 September 2022   08:08 439
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi artificial neural network | via sciencephoto.com

Hmmm, tunggu dulu, Kawan. Narasi rasionalisasi mistisisme memang rada galak sih. Seperti halnya saya, bagi sebagian orang membaca teori mekanika kuantum mungkin akan membikin bulu kuduk dan bulu mata berdiri. Hehehe just kiddin'.

Manusia cenderung lebih menyukai segala sesuatu yang pasti. Ketidakpastian termasuk ketidaktahuan akan sesuatu hal membuat manusia terus mencoba mencari tahu. Tak luput pula keingintahuan manusia mengenai misteri tentang alam semesta.

Beberapa ahli fisika mencoba menjawab pertanyaan tersebut dalam kaca mata rasional. Munculnya teori relativitas, teori gravitasi, maupun beragam teori lain yang mencoba menyibak tabir misteri. Alih-alih memberi jawab atas tanya, teori tersebut malahan berdiri dengan argumentasi yang saling melawan satu dengan yang lain.

Hingga akhirnya hadir seseorang yang mencoba memberikan gambaran mengenai misteri alam semesta. Yaps. Stephen Hawking menyodorkan teori mekanika kuantum modern. 

Misalkan untuk mengukur usia saat bumi tercipta hingga sekarang kita belum menemukan "waktu" yang tepat. Hawking mencoba menyodorkan alternatif waktu imajiner untuk mengukur probabilitas partikel melewati sebuah titik. 

Hawking digadang banyak pihak sebagai pengganti Einstein abad now menggegerkan dunia sains dengan teori String-nya. Hawking menolak metafisika yang digaungkan oleh fisika klasik yang memandang realitas sebagai sejarah tunggal tertentu. 

Meskipun telah menghadirkan Theory of Everything, pada kenyataanya teori dan prinsip mekanika kuantum belum mampu menjawab "mengapa dunia ini diciptakan". Namun perlu diakui, hingga kini teori tersebut mampu menjadi gerbang pembuka bagi prediksi sains berikutnya yang mungkin dapat memberikan jawaban yang tidak hanya berhenti pada teori atas perhitungan matematis mengenai misteri alam semesta.

Begitu banyak ide-ide dari para fisikawan dan filsuf di masa lalu mencoba memberi jawab pada setiap misteri irasional ini. Namun masih saja misteri tentang alam semesta, layaknya mistisisme hingga kini belum dapat dijelaskan dengan rasional. 

Kalau dari sudut pandang neurosains gimana?

Mistisisme tidak dapat dipisahkan dari perilaku manusia. Terbukti dengan masih maraknya praktek "mistis" di era 5.0 kini. Bahkan dalam beragam tradisi masih dibalut oleh ritual-ritual yang dianggap di luar nalar.

Yuval Noah Harari, penulis buku kontroversial Sapiens: A Brief History of Humankind pernah menyatakan bahwa otak manusia berupaya upaya untuk membuat asosiasi yang senantiasa bertumbuh dan berkembang selama masa evolusi kognisi.

Satu bagian otak yang paling sering berperan dalam pengambilan keputusan adalah sistem limbik. Bahkan pada masa pra sejarah sistem limbik inilah yang digunakan sebagai "senjata" untuk bertahan hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun