Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... Lainnya - an ordinary people

ordinary people

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Di Balik Proses, antara Winnie The Pooh dan "Semoga Cepat...."

10 Mei 2020   10:10 Diperbarui: 10 Mei 2020   10:21 125
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi : jeda (sumber : Instagram |@ayu.diahas07)


Selamat merayakan hari ini....

Wew, waktu yang cukup lama bagi saya untuk mengambil jeda, yha? Rehat sebentar, kawan. Oh ya, semoga belum terlambat bagi saya untuk mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. 

Ternyata banyak hal terjadi di sekitar kita, yha? Pasti. Semoga semua baik-baik saja. Semoga ...

Hmm, denting meditasi hari ini membawa saya pada kata "semoga cepat...". Kali ini mari belajar kata "semoga cepat..." yang akhir-akhir ini sering kita dengar, atau bahkan kita ucapkan. 

Ketika beberapa waktu silam saya harus terbaring di rumah sakit, banyak rekan datang berkunjung, dan mereka seringkali berkata, "semoga cepat sembuh yha" atau "semoga cepat pulih kembali". Atau buat yang jomblo, seringkali pernyataan "semoga cepet nikah, yha" sering terdengar sebagai sebuah teguran daripada sebuah harapan atau doa.  Hal ini pula yang saya katakan kala menyikapi masa pandemi corona ini, "semoga cepat selesai, yha".

Salahkah pernyataan kita? Tentu harapan-harapan ini bukankah hal yang terdengar salah. Namun mari saya ingin mengajak teman-teman untuk sebentar saja belajar memahami kata "semoga cepat...".

Tanpa kita sadari, kehidupan era masa kini membawa kita untuk tergesa. Tergesa untuk bependapat, tergesa untuk beraktifitas dengan segudang target, tergesa untuk berkomentar, tergesa untuk ngecuwis di medsos, tergesa untuk marah, tergesa untuk ini dan tegesa untuk itu. Cepat, cepat, dan cepat. "Lha rebutan oq, mbak,"kelakar seorang kawan.

Tergesa membuat kita kemudian merasa lelah. Bahkan jika semua tak segera tercapai, seringkali kita menjadi down, stress, marah, bahkan uring-uringan (termasuk yang nulis). Mari sadari untuk sekedar mengambil jeda. 

Dalam alur kehidupan, kita dapati adanya stimulan dan respon. Setiap peristiwa ataupun kejadian adalah stimulan. Sedangkan kita mewujudkan respon atas stimulan tersebut dalam bentuk tindakan maupun ucapan. Bagaimana respon kita terhadap sebuah peristiwa akan menunjukkan seberapa dewasanya kita. Maka sangatlah bijak bila kita memberi jarak, semacam jeda antara stimulan dan respon.

Melalui mindfulness saya belajar untuk menyadari apa yang sedang saya pikir dan rasakan. Ini sangat membantu agar saya mampu mengambil keputusan sebagai respon atas peristiwa yang terjadi dalam hidup saya.

"Keputusan di masa lalu adalah arsitek masa kini kita" (Dan Brown, Inferno).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun