Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... karyawan swasta, ngajar math, seneng jalan, love to share inspirasional life stories (asal ga hibah, hehehe), sukai nulis, ndengerin musik, nyanyi, n suka baca buku meski slow reader...

karyawan swasta, seneng jalan, love to share inspirational life stories (asal ga gibah hehehe), nulis, sukak denger musik n nyanyi, suka baca buku meski slow reader..

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Belajar dari Mereka yang Menyulitkan

18 Mei 2019   12:42 Diperbarui: 18 Mei 2019   12:57 0 8 1 Mohon Tunggu...
Belajar dari Mereka yang Menyulitkan
island-of-silence.tumblr.com

Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran, dan kebaikan dari yang jahat. Namun anehnya, aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada guru-guru ku ini.

Membaca sekelumit puisi karya pujangga Libanon tersohor, Khalil Gibran ini, mengingatkan saya akan sesuatu hal.

Saya sangat teringat suatu hari ketika saya sedang berada di sebuah bus, ada seorang ibu-ibu separuh baya masuk ke dalam bus membawa begitu banyak barang bawaan. Di dalam bus ia tiba-tiba menyelonjorkan kakinya, sehingga dua tempat duduk dipakainya sendiri. Hal ini membuat penumpang lain terganggu olehnya.

Ada begitu banyak hal yang terkadang sangat membuat tidak nyaman bagi kita. Sederhana saja, seperti berjumpa dengan seseorang yang sangat temperamen, seseorang yang egois, seseorang yang sinis dalam berbicara, seseorang yang sangat sombong, dan lain sebagainya.

Apakah mereka sangat mengganggu dan menyebalkan? Hmmm, tunggu dulu.

Mari kita coba untuk sesaat saja merenungkan, seberapa beranikah kita bertanya pada sahabat atau teman-teman kita tentang kebiasaan-kebiasaan kita saat kita bersama mereka? Apakah hal-hal tersebut membuat mereka nyaman atau tidak?

Seberapa beranikah kita untuk mencoba mencari tahu dari orang-orang di sekitar kita tentang segala perilaku atau perkataan yang kita keluarkan sehari-hari, apakah itu memberi berkah atau lebih sering menyakiti hati mereka?

Saat pertama kali saya mencoba bertanya kepada beberapa teman dekat saya, ada perasaan takut dalam diri saya untuk mengetahui semua pengakuan mereka. Namun setelah mendapatkan jawaban tulus dari mereka, saya justru merasa lega, karena semua pengakuan mereka membawa saya untuk lebih bisa menerima orang-orang yang "tidak membuat nyaman" di sekitar saya.

Saya tidak sedang mencoba untuk menggurui Anda. Di sini saya hanya ingin berbagi.

Mengapa sangat sulit rasanya bagi kita untuk menganggap orang-orang yang "menyulitkan" kita ini adalah guru kita? Rupa-rupanya, kita melupakan, bahwa istilah guru sangat berkaitan dengan istilah murid. 

Tugas seorang murid adalah belajar. Menyediakan hati, waktu, dan dirinya untuk diisi dengan berbagai ilmu. 

Humble, atau sikap rendah hati adalah hal yang tidak bisa lepas dari segala hal yang berkaitan dengan belajar. Mau tidak mau atau suka maupun tidak suka, seorang murid harus mau untuk belajar. Sesulit apa pun pelajarannya.

Hal lain yang tak kalah penting kala belajar adalah sikap mau membuka pikiran dan diri kita untuk mencoba meletakkan dasar pemikiran baru yang lebih positif dalam diri kita. 

Ijinkan saya juga membagikan kisah saya. Adakalanya saat sedang menulis artikel, Bapak saya yang sudah tua datang, dan mengajak saya bercerita tentang banyak hal. Dulu saya sering merasa terganggu dengan hal ini. Namun akhir-akhir ini saya mencoba untuk menempatkan beliau sebagai seseorang yang "tidak bersalah". Keinginannya untuk berbagi waktu dengan saya adalah bentuk perhatiannya pada saya. Apakah saya terganggu dengan hal itu? Tentu tidak, bukan?

Kita bisa belajar mendengarkan dari mereka yang cerewet, kita bisa belajar bersabar dari mereka yang pemarah, kita bisa belajar untuk rendah hati dari mereka yang sombong, kita bisa belajar untuk bersikap lebih toleran dari mereka yang tidak bisa bertoleransi, dan masih banyak hal-hal menarik lainnya dari orang-orang yang  kita anggap "menyulitkan".

Alih-alih marah dan menghabiskan energi kita, mari kita saling belajar satu dengan yang lain untuk bisa saling menerima dan melengkapi.

Mari kita belajar, dan selamat belajar.