Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Asisten Pribadi

karyawan swasta, seneng jalan, love to share inspirational life stories (asal ga gibah hehehe), nulis, sukak denger musik n nyanyi, suka baca buku meski slow reader..

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Dengerin Musik? Sambil Nulis, Yuk

15 Mei 2019   16:14 Diperbarui: 15 Mei 2019   18:19 20 2 0
Dengerin Musik? Sambil Nulis, Yuk
pascalcampion.tumblr.com

Uups...hai, hai....teman-teman ini kolom hobi, bukan?  Wah,...saya harap saya tidak salah masuk kamar. Biasanya sih, saya nulis di fiksiana (hehehe ....promosi dikit lah....). Lalu kenapa hari ini nulis di hobi, ...ya....pengen bagi-bagi cerita ajah, mungkin artikel ini berguna bagi temen-temen. Kalau Kompasiana berkenan memberi label "pilihan" atau yang lainnya...waw itu anugerah...hehehe...

Selain menulis, saya juga sangat suka untuk menghabiskan waktu saya dengan mendengarkan musik. Hampir semua genre musik menjadi bagian dari aktifitas saya sehari-hari. 

Hobi mendengarkan musik ini seringkali saya gunakan sebagai stimulan saya dalam menjalani hari. 

Saat saya butuh moodbuster, saya senang mendengarkan genre musik hip hop atau RnB. Saat saya sedang ingin menulis puisi atau cerpen biasanya saya mendengarkan musik indie, jazz, atau pop. Begitu pula saat saya ingin menulis laporan kerja, biasanya saya memilih musik klasik karya Bach, Bethoven, Mozart, dan yang lain.

Sedikit menyinggung tentang musik, sepertinya jika saya amati, dalam aktifitas kita setiap hari sudah pasti kita pasti bersentuhan dengan musik. Tidak percaya? Coba saja kita ambil satu hari lalu kita amati apakah dalam sehari itu kita tidak mendengarkan musik atau lagu apa pun.

Di sini saya tidak akan menulis tentang genre musik tertentu. Saya hanya ingin membagikan satu hal, bahwa sebenarnya mendengarkan musik = membaca. 

Bagaimana mungkin?

Saat kita menulis suatu karya, bukankah kita juga harus memilih buku yang tepat, yang mendukung tulisan kita? Begitu pula musik. Pemilihan musik yang tepat akan membantu kita untuk lebih nyaman dalam menuangkan ide dan gagasan dalam tulisan kita.  

Dan jika kita kaji kembali, bukankah membaca itu sama halnya saat kita "mendengar" penuturan penulis lewat hasil tulisannya? Maka dalam sebuah lagu atau musik instrumental kita pun belajar untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh penulis lagu atau komposer musik.

Jika saya boleh membagikan apa yang ditulis oleh I. Hastomi dan E. Sumaryati dalam salah satu subbab bukunya yang berjudul Terapi Musik, maka ijinkan saya membagi sebagian kecil manfaat mendengarkan musik.

Musik tertentu menurut beberapa ahli, mampu menstimulasi kecerdasan janin. Beberapa pakar psikologi juga menjelaskan bahwa mendengarkan musik mampu membantu menanggulangi anak-anak yang mengalami gangguan disgrafia (gangguan pada anak yang kurang bisa mengekspresikan pikirannya ke dalam tulisan). Bahkan dalam budaya Jawa ada terdapat tembang macapat, yang di dalamnya terkandung syair-syair ajaran leluhur sebagai bahan pelajaran penanaman budi pekerti kita.

Wah...ternyata banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari mendengarkan musik, bukan? Hmmm, apakah masih belum tertarik untuk menjadikan mendengarkan musik sebagai hobi baru kita?

Saat saya menulis ini pun saya juga sedang mendengarkan musik. Karena bagi bebrapa orang, mendengarkan musik adalah sarana untuk memblokade semua yang sedang terjadi di sekitar kita saat menulis. Artinya dengan mendengarkan musik kita berusaha untuk membangun fokus pada apa yang sedang kita kerjakan.

Anda boleh saja memilih genre musik apa pun untuk disukai. Saat Anda menyukai satu genre musik, maka tidak menutup kemungkinan Anda juga akan tertarik untuk mendengarkan musik yang lain. Lalu...rasakan perbedaannya. Hidup dengan musik, atau tanpa musik?

Saya akan tutup artikel saya dengan sebuah cerita unik dari seorang siswa saya.

Sebut saja, namanya Fajar. Dia duduk di kelas 8 SMP. Usianya 14 tahun. Pertama kali kedatangannya di kelas kami dengan kebiasaannya dalam mengerjakan soal-soal matematika sangat mengganggu kami, karena setiap kali ia mengerjakan soal-soal Calculus tingkat lanjut, dia selalu bernyanyi sehingga membuat gaduh seluruh kelas. 

Hingga suatu saat, ia meminta ijin untuk meggunakan headset dan gawainya karena menurutnya soal-soal itu akan mudah dikerjakan sambil mendengarkan musik.

Saya sangat penasaran dengan genre lagu yang didengarkannya, hingga kemudian dia mengijinkan saya untuk mendengarkan musik digitalnya. Ternyata yang dia dengarkan bukan musik klasik atau instrumental, melainkan lagu-lagu EDM dengan beat yang cepat.

Mungkin masing-masing dari kita punya kebiasaan tersendiri saat menulis. Kalau saya memilih menulis sambil mendengarkan musik, lalu bagaimana dengan Anda? Mau mencoba hobi baru ini? Silahkan saja....