Mohon tunggu...
Dhimas Raditya Lustiono
Dhimas Raditya Lustiono Mohon Tunggu... Senang Belajar Menulis

Perawat di Ruang Gawat Darurat | Gemar Menulis | Kadang Merasa Tidak Memiliki Banyak Bakat

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Stop Kuliah di Jurusan Kesehatan karena Gengsi

19 Juni 2020   15:22 Diperbarui: 22 Juni 2020   02:03 3244 13 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Stop Kuliah di Jurusan Kesehatan karena Gengsi
Ilustrasi banyaknya tugas mahasiswa kedokteran (sumber: presse.inserm.fr.com)

Profesi di dunia kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, radiologi, analis laboratorium medik, apoteker dan lain sebagainya rupanya memiliki "level gengsi" yang menjadikan sebagian orangtua menyarankan anaknya untuk melanjutkan sekolah di jurusan kesehatan.

Gengsi adalah sebuah alasan umum yang menjadikan orangtua memfasilitasi pendidikan anaknya. Terkadang gengsi juga menyebabkan sebagian orangtua cenderung memaksa anaknya untuk lanjut sekolah di jurusan yang diinginkannya. Padahal sebenarnya anaknya tidak mampu namun dipaksakan untuk mampu.

Misalnya ada anak lulusan SMA jurusan IPS, tapi orangtuanya ingin anaknya menjadi bidan, keinginan tersebut tentu bukan sebuah kesalahan mutlak, tapi kira-kira apakah anak dari jurusan IPS itu mampu menghafalkan anatomi pelvis dan ilmu fisiologi dengan baik?

Tentu bisa saja lulusan SMA IPS melanjutkan kuliah di jurusan Kebidanan. Namun hal tersebut dibutuhkan effort yang lebih ketika dalam proses perkuliahan, dirinya wajib memahami proses persalinan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran Geografi.

Gengsi sendiri merupakan tameng dari keluarga untuk menangkis rasa kepo tetangga yang menanyakan "di mana anaknya lanjut sekolah?" rasa kepo tersebut sangat mungkin muncul dalam forum arisan ibu-ibu dan emak-emak yang sedang mengantre di warung sayur.

Ibu saya sendiri menganggap bahwa pekerjaan yang bergengsi adalah pekerjaan yang memungkinkan seseorang berada di kantor dan memiliki meja kerja. Pekerjaan ini dianggap keren dan agak ningrat untuk diperbincangkan dengan saudara atau untuk sekedar menjadi bahan obrolan di warung sayur.

Mahasiswa-mahasiswi kedokteran (Dokumentasi pribadi)
Mahasiswa-mahasiswi kedokteran (Dokumentasi pribadi)
Selain profesi kesehatan, profesi seperti guru juga dianggap memiliki gengsi yang cukup tinggi. Para tetangga yang haus akan informasi tetangga sekitar, tentu tidak akan menanyakan berapa banyak gaji anaknya yang sudah menjdi guru.

Padahal sesuatu yang bergengsi belum tentu duitnya banyak. Kita semua tahu bahwa masih banyak guru honorer dengan gaji yang tidak mencapai separuh UMK. Masih banyak juga perawat yang tidak mendapatkan penghasilan mencapai 1 Juta tiap bulannya. Profesi yang dianggap bergengsi itu rupanya masih kalah dalam hal penghasilan dibandingkan dengan peternak ikan atau petani yang setiap hari berkubang dengan lumpur.

Gengsi tentu boleh-boleh saja agar hidup lebih bergairah, namun memaksakan sesuatu karena gengsi tentu bukanlah hal yang bijak dalam mengarahkan seorang anak yang hendak melanjutkan studi.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu bapak dan ibu ketahui sebelum mengirimkan anaknya ke fakultas ilmu kesehatan, seperti kedokteran, keperawatan, kebidanan dan lain sebagainya.

Biaya
Semua sudah tahu bahwa biaya untuk studi di kesehatan itu mahal. Terakhir yang saya tahu ada salah satu fakultas kedokteran di universitas swasta yang biaya per semesternya mencapai 15 juta. Biaya tersebut belum termasuk biaya uang gedung yang harus dibayarkan pada awal masuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN