Mohon tunggu...
Dhimas Agung Ramadhan
Dhimas Agung Ramadhan Mohon Tunggu... Arsitek - seorang arsitek yang memiliki kegandrungan di dunia organisasi kepemudaan

- Penikmat Arsitektur - Pecandu Buku - Penggila Organisasi - Pemuja Tuhan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Desa dan Kepulangan Anak Muda

18 Juli 2019   12:21 Diperbarui: 18 Juli 2019   12:53 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: tripisia.id

Menurut Permendagri nomor 56 tahun 2015 terdapat 74.754 desa di Indonesia  melihat kondisi seperti peran desa sangatlah krusial terutama peran pemerintahan desa sebagai ujung tombak membangkitkan partisipasi masyarakat agar mereka aktif dalam pembangunan. Namun dalam perjalanannya peran pemerintah desa belum begitu terasa disebabkan karena kurangnya kelengkapan-kelengkapan sarana-prasarana terutama aspek SDM dari aparatur desa itu sendiri.

Disparitas penduduk desa dengan penduduk kota disektor kualitas SDM menjadikan desa cenderung mengalami stagnasi. Lahirnya UU desa membawa konsep baru  dalam pembangunan desa dimana dengan adanya dana desa yang dikelola sendiri oleh desa diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan dan pembangunan sarana prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.

Sinyal positif ini mulai bermunculan di desa ponggok, kabupaten Klaten melalui BUMDes yang mengelola sector pariwisata mampu menarik wisatawan dengan omset 15 Milyar pertahun (2017). 

Kesuksesan pengelolaan BUMDes tidak hanya di umbul Ponggok saja tapi juga di Kalibiru, Panggungharjo melakukan pengelolaan sampah melalui BUMDes Panggung Lestari mampu menghasilkan 1.4 Milyar per tahun, Pandeglang, dan desa Padang Jaya , kabupaten Paser, Kalimantan Timur membangun BUMDes kelapa sawit sehingga menjadi salah satu yang terbaik secara nasional. 

Usaha pembangunan desa mulai memunculkan hasil, tergambar dari gini ratio perkotaan dan perdesaan Indonesia Indonesia yang berkurang 0.017poin dari yang sebelumnya 0.408 pada maret 2015 menjadi 0.391 pada 2017 yang mengindikasikan tingkat ketimpangan di desa mulai memunculkan tanda-tanda penurunan. Disatu sisi tahun 2017 kemiskinan di desa menurun 786, 95 ribu orang dibandingkan di kota yang menurun hanya 401,28 orang.

KEPULANGAN ANAK MUDA
Melihat kondisi masa depan desa yang mulai cerah sebenarnya kita sudah tidak memiliki alasan lagi bahwa harapan muncul dari desa bagi anak muda desa diperantauan bisa mulai merubah paradigma berpikir tentang hegemoni urbanisasi adalah solusi utama, saya tidak melarang anak muda kita pergi merantau ke kota besar, banyak orang-orang besar muncul justru lahir dari desa.

Zaman telah berubah maka dari itu diperlukan cara-cara tak biasa dalam menjawab perubahan itu yaitu dengan pulang ke desa, anak muda desa yang semula ingin menetap di kota mulailah berpikir ulang dengan merantau hanya untuk sementara dengan tujuan mencari pengalaman dan mempelajari pola sukses dan mencari koneksi dan mengumpulkan modal untuk kembali ke desa dan menyiapkan segala infrastruktur di desa, terutama para sarjana kita, pembangunan infrastrukstur yang sedang dilakukan pemerintah seperti pembangunan Jalan Tol, Jembatan, pelabuhan dan Bandara bertujuan agar pergerakan ekonomi tumbuh lebih merata serta mempermudah kita dalam  melakukan mobilisasi dari satu tempat ke tempat yang lain dapat kita tempuh dalam waktu singkat tak selama dulu. 

Bukan tidak mungkin kita dapat hidup di desa karena akses transportasi yang makin mudah kita akan dapat berpindah-pindah jika ada keperuan mendadak harus ke kota atau luar daerah dengan mengakses kendaraan baik itu kereta api, pesawat, mobil maupun kapal laut.

Salah satu contoh sosok Nofi Bayu Kurniawan pemuda purbalingga founder Kampung Marketer  mempunyai mimpi, bisa menggerakkan sebanyak-banyaknya warga desa untuk berjualan online yang sehat, berkelanjutan, dan terukur. Tidak asal memiliki toko online. Upayanya pun tak sia-sia, banyak warga desa yang terbantu berkat gagasan Novi. Pengorbanannya pun tak sedikit demi mewujudkan mimpi dimana Novi rela keluar dari salah salah satu kementerian untuk menggeluti bisnis online. 

Alhasil Pria ini berhasil membuat digital pbg yakni tentang tips dan trik berbisnis online, akan semakin intensif menggerakan masyarakat agar semakin menyadari jika peluang usaha selalu terbuka untuk siapapun yang mau belajar. Saat ini nofi focus berbagi pemikirannya agar kedepannya akan muncul pemuda-pemuda yang bergerak memajukan masyarakat desa. Saya percaya banyak anak muda kita yang mulai sadar ini dan seyogyanya semangat ini harus digaungkan.

Adapun cara lain yaitu  dengan terlibat langsung menjadi bagian membangun desanya salah satunya dengan mengaktifkan kegiatan kepemudaannya, pengelolaan BUMDes, menjadi enterpreneurs atau mencalonkan diri sebagai pemimpin desa dapat menjadi salah satu alternative agar proses regenerasi kepemimpinan ke tangan anak muda dapat terjadi tentu semata-mata untuk memastikan harapan baru demi perubahan ke arah yang lebih baik dimana tahun 2030 nanti Indonesia akan menyambut Bonus Demografi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun