Mohon tunggu...
Humaniora

[Inspirasi Hidup] Sanggupkah Aku? (Kisah Nyata Perempuan Kecil Titipan Tuhan)

18 Januari 2018   07:49 Diperbarui: 18 Januari 2018   09:16 8146 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: https://rebanas.com/

Hidup memang tak selalu indah namun akan selalu ada keindahan dalam hidup, terkadang harapan dan keinginan tak sesuai dengan kenyataan tapi tak ada satupun di dunia ini yang diciptakan tanpa pasangan. Begitu pula saat musibah menimpa pastilah akan ada hikmahnya, dan juga sebuah masalah pasti akan dibarengi dengan solusi. Bagaikan sebuah film, kehidupan yang kita alami sudah terskenario dengan baik di dalam kitab Lauhil Mahfudz.

Dan setiap orang mempunyai kisahnya masing-masing dan menjalaninya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin diantara mereka ada yang hidup dengan bergelimangan harta, hidupnya dipenuhi dengan kesenangan, sampai mereka yang hidup serba kekurangan dan mempunyai banyak cobaan. Akan tetapi rencana Allah tidak pernah salah dan Dialah Yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Hal itulah yang membuatku tidak pernah putus asa dan tetap semangat dalam menjalani hari-hariku. Terkadang saya sering membayangkan jika saja terlahir diantara orang kaya, tapi saya sangat mensyukuri kehidupan yang sedang kujalani karena bukanlah harta serta kekayaan sebagai penentu kebahagiaan seseorang tetapi bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah dengan tidak pernah mengeluh dan berputus asa.

"Dhila, sarapan dulu nak" panggil ibuku.

Tanpa berfikir panjang saya langsung bergegas dan terhentak dari lamunanku mendengar suara ibu dari luar pintu kamar yang seakan-akan tidak terdengar olehku.

"Iya bu, tunggu sebentar" jawabku

Dhila, itulah nama terindah yang diberikan orang tua saya terhadapku sebagai tanda pengenal bagi mereka dan orang-orang disekitarku. Saya terlahir di sebuah desa yang kebanyakan penduduknya adalah petani termasuk ayah saya.

Sesampainya di dapur, saya langsung mencicipi masakan ibu meskipun terlihat sederhana namun bagiku itulah makanan yang terbaik bagiku. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah beberapa orang temanku dan langsung mengajakku untuk menonton sebuah pertandingan futsal di lapangan yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahku. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, namun melihat mata mereka yang begitu mengaharapkanku untuk ikut dengannya selagi libur sekolah, akhirnya kuputuskan menontonnya bersama.

Namun sebelum sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba badanku terhenti seakan tak bisa digerakkan membuatku tertinggal jauh dari mereka. Entah mengapa seakan-akan ada sesuatu yang menahan diriku dan sepertinya menarik badanku yang lemah untuk menoleh ke belakang. Perlahan kugerakkan kepalaku kesamping dan membalikkan badanku. Akan tetapi tak seorang pun yang saya lihat, saat hendak mengejar ketertinggalanku dengan teman-teman tiba-tiba seorang anak perempuan yang berumur sekitar 10 tahun dengan pakaian yang kusut menarik bajuku dari belakang sambil menjunjung setandan pisang yang sudah matang dan terpisah-pisah.

"Kakak mau beli pisang?" pintanya dengan wajah yang memohon.

Melihat tubuhnya yang kian lelah membuatku merasa iba, akan tetapi saat hendak membantunya tiba-tiba badannya terhempas ke tanah dan kulihat tubuhnya yang kian melemah. Keringatnya bercucuran, serta kedua bibirnya mulai mengering. Tak ada satupun orang di tempat tersebut kecuali saya dan anak tersebut. Akhirnya tanpa berfikir panjang kulangsung membangunkannya dan menggandengnya ke sebuah batu besar yang tidak begitu jauh dari kami untuk beristirahat. Dijadikannya diriku sebagai tempat bersandar sambil menangis seakan-akan aku adalah kakaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan