Mohon tunggu...
Deni
Deni Mohon Tunggu... Wiraswasta - Manusia biasa

Menjalani hidup dengan apa adanya

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Supremasi Waktu

22 Februari 2020   02:30 Diperbarui: 22 Februari 2020   02:24 45
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Sampai hari ini, aku masih menggudangkan tiga belas resapan huruf yang sempat kuberitakan ijmalnya kepadamu. Tak ada yang beralih, setiap gubalnya selalu mendindingi karakteristik dari pemiliknya.

Lantas, apa yang bisa kulakukan? Semata menelaahmu dari kerangka hambar, sembari menyeperah separuh perasaan dengan saksama. Selebihnya, beranjak melancong untuk mempelajari situs keadilan yang pasti bagi si pengutip aksara.

Potret sebuah pengabdian terhadap supremasi waktu. Entah terperangkap atau terperosok ke dalam lembah kehidupan. Pastinya akan ada yang dikorbankan, disalahkan, dan diperjuangkan demi menafkahi kiprah yang berlangsung selayaknya pendramaan insani.

Semua tentangmu yang masih kukemas di bawah naungan rindu. Ingin segera tertangani sesi traumatis ini sampai pada tetesan temu. Hingga harmonisasi namamu dan wujudmu sama-sama dapat kugapai dengan langkah-langkah kesederhanaan.

Untukmu; yang sedang bercengkerama dengan kota hujan.

Sukabumi, 22 Februari 2020

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun