Mohon tunggu...
danang kristianto
danang kristianto Mohon Tunggu... seorang biasa yang hobi membaca dan menulis.

freelancer, menatap dunia lebih apa adanya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Katanya, Terpaksa Jauh

24 November 2019   06:10 Diperbarui: 24 November 2019   06:36 65 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Katanya, Terpaksa Jauh
Ilustrasi : katanya, terpaksa jauh (olahan pribadi)

Aku berdiri ditepian pantai berpasir putih disebuah bagian paling selatan Jawa Barat. Di Pangandaran, Tempat sebuah kisah yang pernah ada dan masih tampak jelas di benak serta ingatan dalam raga meski sudah mulai renta.

Kemudian kembaliku dimana kisah - kisah cengeng anak remaja berpadu cinta pada sesosok gadis yang memang sangat menyita pikiran di setiap waktu yang ku Lalui. Dialah Andhita. 

"Kamu lebih sempurna dari gugusan bintang pada dimusim kemarau, lebih bermakna dari puluhan puisi."

Mas Pras, begitu panggilan manja yang ia sering sematkan untuk memanggilku. Begitu merdu terdengar melalui nadanya yang lembut. Dia cinta keduaku setelah Tuhanku.

Senja atau bahkan setiap hariku kini seakan terasa passif tanpa hadirnya lagi. Sewindu sudah berlalu saat keputusan itu terjadi. Keputusan yang pada akhirnya menghadirkan rindu. Rindu pertemuan pada sosok Andhita.

Aku menatap matanya berbinar membendung bulir air mata. Keputusan memang harus ku buat. Mengatasnamakan masa depan lebih baik serta menjaga harga diriku tetap utuh. Senang tidak senang memang harus.

Dibawah langit dengan awan mendung, beberapa saat setelah ku hentikan laju kendaraan roda duaku dan menyetandarkannya. Tak sengaja ku tangkap kejadian yang tak sedap di rasa hati terpampang di depan mata kepalaku langsung. Hal apalagi yang lebih menyakitkan untuk disaksikan bagi kaum muda yang tengah kasmaran selain "perselingkuhan."

Terenyuh, seluruh tubuh sontak lemas bagai terkuliti. Lidahku kelu serta mendadak ragapun menjadi kaku.

Tepat satu tahun "Anniversary" ku dengan Andhita. Tepat saat itu pula cerita perjalanan kasih kita mengalami sebuah badai percintaan yang kuat. Bagaimanapun diri dan rasionalitas pikiran ini selalu dengan segenap kemampuannya mencoba mencari jalan agar semua tetap baik - baik saja. Mencoba mengambil perspektif lain agar hal buruk dan tak di inginkan terjadi.

Dia yang kukenal sangat bersahaja, ceria dan manja lantas berulah centil pada pria lain. Dalam batin ingin ku teriak dan ku pecahi langit jika saja ku mampu. "Sudah, sudah, sudah," suara hatiku berusaha menenangkan.

Dari kejauhan ku pandang Andhita duduk diantara baris kursi meja makan sebuah rumah makan seafood tak jauh dari lokasiku memarkir kendaraan. Samar - samar ku lihat sesosok pria berawak gagah berada tepat di sebelahnya. Untuk menegaskan, akupun bergegas berjalan menghampiri guna memastikan segalanya dibanding membiarkan pikiran liarku terus berkecamuk bukan main.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x