Dharmasuta
Dharmasuta

Petani Waktu: Buruh macul di "Tanah Harapan"

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Rindu untuk Sang Pemandu

21 Desember 2018   11:23 Diperbarui: 21 Desember 2018   11:57 118 1 0
Puisi | Rindu untuk Sang Pemandu
Dokumen foto pribadi

Ka'bah diranah Jawa

Kala itu kulihat kau begitu asyik; larut dalam tarianmu tatkala lenganmu begitu kuat,

Lincah memainkan Kayon Gunungan Api.


Perjumpaan kita;
adalah episode asing yang tak pernah kutulis dalam sketsa-sketsa, denah-denah dan rancang bangun ruang-ruang singgahku

Ku ingat; saat itu aku terlunta-lunta
terkaing-kaing, disepaki begitu dzalim oleh para anjing durhaka yang menjual murah sumpahnya pada Garuda,
dulu.

Perjumpaan kita;
adalah rahasia yang tak pernah dikabarkan angin, setidaknya untuk mendeskripsikan posisi bujur-lintangmu dipeta-peta perjalananku

Dipancoran itu, persis dibawah akar-akar bambu

Masih kuingati
Tentang kau yang membasuhi setiap kegembelan-kegembelan yang ku koleksi dilemari-lemari dungu,
dan hampir-hampir aku sepenuhnya tewas dalam sayatan-sayatan tangis,
lalu luruh bersama : banyu suci dadi sesucining aris

Tapi kau tau, aku tak sepecundang itu untuk secepatnya bergegas mati bukan?

Dibawah naungan batang-batang bambu;
diantara jutaan adukan-campuran-campuran rasaku,
kau mengasuhku tentang sandi-sandi pertarungan dalam kibasan-kibasan sunyi: 
gelut jeung diri sorangan

***

Semarang, kaline banjir Ojo sumelang Ojo dipikir, sadayana sampun ada aturannya.

21-12-2018

Dharmasuta