Dharmasuta
Dharmasuta

Petani Waktu: Buruh macul di "Tanah Harapan"

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Penggendong Luka

19 Desember 2018   10:16 Diperbarui: 19 Desember 2018   10:39 168 3 1

Kau masih saja tak mau dengar;

masih pula kau gendong luka itu diselipan-selipan pikiranmu yang terus mobat-mabit dipermainkan.

Hampir-hampir sabarku ini memerah;
Rasanya ingin kusepaki isi kepalamu itu dengan tendangan seribu bayangan

Biar sampah-sampah yang kau pulungi dari sisa-sisa jaman mati itu pupus;
Musnah dalam garangnya Api Pemusnah Jagad: geni dadi sesucining jagad

Kau tau?;
kulihat dia bergelantungan, lompat-lompat diantara celah-celah dahan gelisahmu yang kau tanam dengan cara tunai.
Lalu detik demi detiknya kau cicil dengan jerat-jerat riba yang mencekik aliran cinta yang tersendat-sendat.

Pergilah ke surau itu;
hampir-hampir rubuh ia menantimu.
Lantas;
Letakkan itu persis disebelah gentong banyu wudhu

Itupun jika kau masih cukup punya peka;
merasakan getar-getar aroma panggilan

Aku tak memaksa.

***

Demak, 19/12/18