Mohon tunggu...
Dhany Wahab
Dhany Wahab Mohon Tunggu... Peminat Komunikasi dan Sosial; Pegiat Pemilu; Tinggal di Bekasi.

Merangkai kata menguntai makna.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan Karakter Jalan Kesuksesan

13 Juli 2020   15:00 Diperbarui: 15 Juli 2020   20:26 45 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan Karakter Jalan Kesuksesan
republika.co.id

Usia anak merupakan salah satu persyaratan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Permendikbud Nomor 17/2017 maupun Permendikbud Nomor 44/2019 menyebutkan, persyaratan calon peserta didik baru kelas satu SD berusia tujuh hingga 12 tahun, atau paling rendah enam tahun pada 1 Juli tahun berjalan. Untuk SMP berusia paling tinggi 15 tahun pada 1 Juli tahun berjalan, dan untuk jenjang SMA/SMK berusia paling tinggi 21 tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan.

Ketentuan tersebut yang memicu kegaduhan dalam proses PPDB di DKI Jakarta. Seperti ramai diberitakan sejumlah orang tua mengaku kecewa dengan pemberlakukan batas usia anak dalam seleksi penerimaan peserta didik baru. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad menjelaskan ketentuan tersebut sebenarnya sudah lama, namun baru diterapkan di DKI Jakarta mulai tahun ini. (https://tirto.id/syarat-usia-ppdb-jakarta)

Pendidikan merupakan pintu gerbang bagi perjalanan kehidupan seorang anak di dunia. Memilih sekolah untuk putra-putrinya adalah tahap awal para orang tua agar anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Tak heran bila para orang tua berupaya sekuat tenaga agar anaknya bisa masuk sekolah pilihan. Maka setiap awal tahun pelajaran, banyak orang tua yang cemas dan stress karena memikirkan sekolah anaknya.

Jalan panjang pendidikan anak di Indonesia memerlukan waktu yang relatif lama jika merujuk pada ketentuan yang berlaku. Dalam kondisi normal, kebanyakan anak mulai masuk SD pada usia 7 tahun. Butuh waktu sekitar 6 tahun untuk menyelesaikan sekolah dasar dan lulus pada umur 12 tahun. Ditingkat sekolah dasar anak diajarkan banyak macam mata pelajaran yang sebenarnya bisa lebih disederhanakan.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Prof. Dr. Soedijarto, MA mencontohkan di negara-negara maju para siswa tidak dibebani banyak mata pelajaran. Sistem pendidikan di negara maju lebih mendukung anak bereksplorasi sesuai minat. Sekolah baru selesai pada sore hari bersamaan dengan waktu para orangtua pulang kerja. Sehingga ketika sampai di rumah, anak bisa bertemu dan berinteraksi dengan orangtuanya. Di tanah air, siswa pulang ke rumah pada siang hari, ketika orang tua masih sibuk bekerja di luar rumah sehingga anak kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga inti.

Sekolah Dasar sebaiknya difokuskan pada pendidikan karakter sehingga siswa tidak dibebani banyak mata pelajaran. Pendidikan nilai-nilai agama yang ditanamkan sejak dini akan memberikan pengaruh pada perilaku anak terhadap lingkungan sekitar. Sekolah memang bukan tempat satu-satunya bagi seorang anak untuk memperoleh pendidikan, namun sekolah berperan penting dalam membentuk akhlak mulia. Sekolah Dasar menjadi pusat pembudayaan dengan model pebiasaan sehingga mampu mengubah perilaku, misalnya anak yang pemarah menjadi penyabar.

Pada rentang usia 12 sampai 15 tahun, anak melanjutkan pendidikan ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Proses pembelajaran yang diberikan lebih ditekankan kepada pengenalan bakat dan life skill sehingga anak lebih mengenali potensi diri. Pada rentang usia ini biasanya anak sudah memasuki masa akil baligh. Pertumbuhan fisik dan mental harus menjadi perhatian agar anak berkembang sesuai dengan harapan.

Selepas SMP melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat pada usia 15 sampai 18 tahun. Seharusnya ditingkat SMA, siswa lebih difokuskan pada penjurusan yang dikehendaki agar mereka lebih dapat mengenal skill yang dimiliki. Hal ini sangat penting bagi siswa yang akan melanjutkan ke per­gu­ru­an tinggi sehingga dapat lebih mengetahui kemana arah dan tujuan yang ingin dicapai.

Pendidikan formal yang dilalui setiap anak seolah menjadi peta jalan bagi nasibnya kelak di kemudian hari. Bagi yang memilih bekerja setelah lulus SMA maka harus bersaing untuk mencari peluang kerja. Sedangkan yang ingin melanjutkan kuliah maka mesti menjalani seleksi penerimaan dengan banyak modelnya. Perjuangan untuk menentukan nasib sepatutnya dijalani sungguh-sungguh agar bisa mencapai hasil seperti yang diinginkan.

Menyelesaikan kuliah dalam rentang waktu normal empat tahun, anak sudah berumur 22 tahun. Bagi laki-laki itu artinya 3 tahun lagi waktunya jika ingin mengakhiri masa lajang mencontoh pada usia Nabi Muhammad SAW saat menikah pertama kali. Perjalanan kehidupan seoarang anak manusia sejatinya ditentukan oleh Allah SWT, tetapi yang harus kita pedomani Allah tidak akan mengubah nasib seorang hamba jika ia tidak mau berusaha. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra'd:11).

Perlu diketahui bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tiga hal yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam menilai seseorang yaitu karakter (atttitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Faktor karakter yang paling dominan dan menjadi bahan pernilaian dalam dunia kerja. Karakter positif seperti disiplin, tanggungjawab, rajin, inisiatif, peduli merupakan nilai-nilai dasar yang semestinya menjadi materi pembelajaran sejak dini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN