Mohon tunggu...
Dhany Wahab
Dhany Wahab Mohon Tunggu... Penulis - Lembaga Kajian Komunikasi Sosial dan Demokrasi [LKKSD]

IG/threads @dhany_wahab Twitter @dhanywh FB @dhany wahab Tiktok @dhanywahab

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cerita Haji yang Tertunda

10 Juni 2020   12:45 Diperbarui: 22 Juli 2020   20:41 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Namun apa daya, Allah SWT punya skenario yang berbeda. Kurang sebulan dari waktu yang dijadwalkan tiba-tiba ada pemberitahuan kalau keberangkatan dibatalkan karena satu dan lain hal. Saya hanya bisa pasrah dan berserah kepada Allah SWT. Menyakinkan diri jika memang Allah SWT sudah memanggil pasti tidak akan terhalangi.

Setelah menunggu dan mengulangi proses yang harus dilakukan seperti pengurusan dokumen. Alhamdulillah pada Kamis tanggal 18 Oktober 2012, Allah SWT takdirkan saya bersama rombongan KBIH Al Fatonah dan Madania Semesta Wisata bisa berangkat ke Arab Saudi melalui Bandara Soekarno Hatta dengan pesawat Qatar Airways.

Take off dari Jakarta sekitar pukul 22.30 Wib, pesawat singgah dulu di Bandara Doha, Qatar. Meski cukup lama waktu transit namun kami tidak bisa keluar dari dalam bandara. Kami baru tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah hari Jumat (19/10/2012) sebelum waktu Isya. Selanjutnya meneruskan perjalanan dengan menggunakan bis menuju Kota Mekkah Al Mukarramah.

Subhannallah walhamdulillah pada hari Sabtu (20/10/2012) untuk pertama kalinya saya dapat menunaikan sholat shubuh berjama'ah di Masjidil Haram dan melihat ka’bah secara langsung. Sungguh momen yang tak bisa saya lupakan sepanjang hidup. Tak terasa air mata berlinang karena rasa syukur dan takjub dapat bersujud di depan ka’bah, kiblat umat muslim sejagat.

Seusai melaksanakan umroh pertama, kami menuju ke apartemen yang berlokasi di Jalan Sharj Al Hajj (maaf rada lupa namanya) sebagai tempat tinggal selama di Mekkah sambil menunggu prosesi Armina. Aktivitas sehari-hari sholat di Masjid terdekat yang fasilitasnya cukup nyaman, ber-ac, tersedia air minum kemasan, buah-buahan dan kurma. Setiap sholat terasa khusyu’ dengan suara imam yang terdengar merdu dan fasih khas tanah suci.

Tak terasa prosesi ibadah haji segera tiba, pagi hari kami sudah bersiap di bus hendak menuju Mina mengawali rangkaian Armina. Kami menempati tenda maktab 54 khusus bagi para jamaah ONH plus. Meski berada di tanah suci tapi suasana seperti di tanah air, orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam hamparan tenda yang sangat luas. Berderet spanduk yang menandai asal daerah dan nama travel yang mengkoordinirnya.

Selama di Mina kami mejalani hari-hari dengan membaca al qur’an dan berzikir, berbincang dengan sesama jamaah sambil menuggu pelaksanaan wukuf di Arafah. Seingat saya sempat ngobrol bareng Bapak Lukman Abu Nawas (Bupati Konawe), saat ini sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara yang menunaikan ibadah haji bersama keluarga besarnya.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Waktu yang dinanti akhirnya tiba, kami berangkat pagi hari dengan niat haji dan berihram menuju ke Arafah untuk menjalani wukuf sebagai ritual puncak haji. Tenda-tenda terlihat rapi berjejer tempat bagi para jamaah berteduh. Padang Arafah tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya (panas, kering dan gersang) tapi terlihat banyak pepohonan (konon diantaranya ada jenis pohon yang berasal dari Indonesia).

Di beberapa sudut terlihat tumpukan air mineral, buah-buahan dan lainnya. Memang udara terasa panas tapi tidak begitu menyengat. Jutaan orang berkumpul dari berbagai penjuru dunia. Menyatu dalam niat yang sama untuk beribadah dan mendekat kepada Allah yang Maha Kuasa di padang Arafah, laksana padang Mahsyar di akherat kelak.

Menjalani wukuf dengan pakaian ihram, menanggalkan semua atribut duniawi, tiada pangkat dan jabatan yang tersisa raga manusia yang penuh dosa. Memohon ampun atas segala salah dan khilaf. Berserah diri dan berharap menjadi manusia berguna, bermanfaat bagi sesama karena itulah esensi haji mabrur seorang hamba.

Selepas maghrib jama'ah mulai bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit sembari mengumpulkan batu kerikil sebagai persiapan melempar jumrah di Mina. Siang hari kami mulai bergegas menuju ke Masjidil Haram, jalanan macet penuh sesak, kami baru bisa melaksanakan tawaf mengelilingi ka’bah selepas maghrib. Subhanallah...Masjidil Haram dipenuhi lautan manusia, jama'ah berdesak-desakan seakan tiada ruang yang tersisa. Para jama'ah melakukan tawaf silih berganti tanpa henti. Sebagaian besar berusaha sekuat tenaga agar bisa mendekat dan mencium Hajar Aswad. Tekad dan semangatku juga sama hingga akhirnya bisa merapat ke dinding ka’bah meski tak mampu mendekati Hajar Aswad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun