Mohon tunggu...
Empuss Miaww
Empuss Miaww Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Free thinker

Biarkan sang Rembulan bercerita,,, ( http://empuss-miaww.blogspot.com/ )

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Kedamaian Negeri tak Beragama

3 Agustus 2015   07:25 Diperbarui: 3 Agustus 2015   08:07 343
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

4 juli 1776 adalah hari besar bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi warga negara Amerika Serikat saja, namun juga bagi seluruh pendukung gerakan sekulerisme diseluruh dunia.

4 juli 1776 adalah hari dimana manusia merasa telah menyatakan kemenangannya atas Tuhan, saat manusia mendirikan sebuah negara yang telah lepas dari intervensi agama apapun dalam penyusunan “Declaration of Independence”, disaat negara dalam pelaksanaan pemerintahannya lepas dari agama, dan agama menjadi urusan individu.

Efek besar euforia kemenangan manusia atas agama tidak hanya berlanjut pada benua amerika saja, namun juga mampu menjangkau jantung eropa, Perancis, lewat revolusi Perancis 1789 - 1799, dan negara – negara lainnya, terutama negara – negara baru yang terbentuk semenjak penghujung tahun 1920-an.

“Agama adalah sumber dari segala peperangan dibumi ini” pikiran Bramantyo berbicara.

“Agama adalah pembelenggu kebebasan manusia” batinnya lagi, jiwanya bergejolak penuh antipati terhadap agama – agama yang ada didunia ini, telah banyak kejadian yang seolah membuktikan kebenaran hipotesanya itu.

Setiap fatwa atau keputusan yang muncul dari setiap organisasi keagamaan selalu dia pandang dengan sinis, baginya, keputusan itu adalah sumber kesulitan dalam kehidupan masyarakat untuk beraktivitas sehari – hari.

Tidak satu atau dua artikel saja yang ia muat dalam kolom opini surat kabar, sebagai pemberontakannya terhadap hegemoni agama, karena dia yakin manusia terlahir sebagai mahluk bebas, lepas dari indoktrinasi agama yang terbentuk semenjak masa anak – anak.

***

Hari itu ia bersua dengan Hasan dikedai kopi, aktifitasnya sebagai seorang jurnalis, membuat dia mencari berita kesetiap sudut kota, tugas yang membuat dia wajib menyetor berita kepada redakturnya setiap hari, pagi dan petang, soal pemuatan, itu adalah hak redaktur.

Hasan adalah seorang ketua dari sayap kepemudaan sebuah organisasi keagamaan di kota ini, perjumpaan ini bagi Bramantyo, selain sebagai tugas, namun juga sebagai pelampiasan beban pikirannya atas antipatinya terhadap agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun