Mohon tunggu...
Dewips
Dewips Mohon Tunggu... Freelancer - Just an ordinary woman

Mau copy-paste artikel? Boleh saja, dengan tetap tampilkan asal sumber tulisan! Visit me @ ladiesbackpacker.wordpress.com, Email me : swap.commune@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Cara Bertahan dalam Situasi Krisis

2 April 2020   14:11 Diperbarui: 2 April 2020   14:04 450
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Melihat polemik yang sedang terjadi di Ibukota Jakarta yaitu adanya himbauan larangan para perantau untuk kembali ke kampung halaman menjadi alasan saya menulis artikel ini sebagai tindakan dari dampak hal tersebut. 

Bagi perantau di situasi krisis seperti sekarang ini memang sangatlah tidak mudah. Disaat event tahunan yang ditunggu-tunggu harus batal hanya karena penyebaran virus yang bisa tak terkendali apabila moment 'kumpul keluarga' tidak dibatasi. Sungguh miris memang kondisi kita saat ini namun jangan sampai hubungan sosial kita juga jadi semakin renggang.

Sebagai turunan orang Jawa kami selalu memegang teguh prinsip 'makan gak makan yang penting kumpul' tapi di kondisi seperti ini hal tersebut malah menjadi buah simalakama bagi kami yang sedang merantau. 

Gundah gulana pun menyertai aktivitas keseharian kami sebagai perantau yang sudah menunggu dengan sabar moment Lebaran datang untuk berkumpul dengan keluarga tapi melihat realitanya krisis seperti ini kami pun harus cerdas berinisiatif mencari jalan lain agar bisa tetap 'berkumpul' namun dengan tetap mengutamakan kesehatan bersama.

Langkah pertama adalah 'accept' atau menerima kenyataan bahwa kita sedang dihadapkan dengan kondisi krisis lalu apakah hanya dengan pasrah menerima saja cukup? Tentu tidak, karena Tuhan selalu mengajarkan kita untuk terus berusaha atau tawakal tapi bagaimana caranya? 

Cara yang ingin dibagikan disini tentu sesuai dengan kondisi sebagai perantau di negeri orang. Yang mana kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga lebih mustahil lagi karena jarak yang memisahkan kami jauhnya mencapai ribuan mil. 

Tapi bukan itu pokok masalahnya melainkan dampak ketidakstabilan ekonomi yang mulai membayangi kami karena kondisi krisis dimana-mana, terlebih lagi sebagai perantau di negara yang harga kebutuhan hidupnya tinggi tentu saja kami harus memutar otak agar bisa melewati krisis ini dengan baik.

Lalu usaha apa yang bisa kami lakukan sebagai perantau yang tetap butuh makan namun pemasukan harian semakin tidak pasti? Sebagai seorang freelancer contohnya yang mendapatkan upah tidak pasti tiap bulannya. 

Saya sempat mendapatkan pembelajaran penting selama hidup di negara orang yang mana warga terdahulunya sudah sempat mengecap masa-masa sulit saat Perang Dunia Kedua. Dahulu bahkan mereka rela bertahan hidup hanya bermodalkan roti dan air saja. 

Setelah akhirnya mereka mencari cara untuk tetap bisa makan sayur dan daging dalam kondisi perang maka dari peristiwa itulah makanan 'sauerkraut' dan 'salami' (kol asam dan sosis asap kering) tercipta. 

Dengan berpikir cerdas mereka akhirnya bisa bertahan hidup meski dengan kondisi yang tidak pasti. Hikmah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut adalah 'action'atau bertindak minimal untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang disekitar kita terlebih dahulu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun