Mohon tunggu...
Dewi Nurbaiti (DNU)
Dewi Nurbaiti (DNU) Mohon Tunggu... Bookwriter, Storyteller, Lecturer

a woman who fall in love with book

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Masih Adakah yang Merahasiakan Pilihan?

27 Mei 2019   16:00 Diperbarui: 27 Mei 2019   16:04 0 1 0 Mohon Tunggu...

Setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya, termasuk pilihan sosok Presiden maupun Wakil Presiden bagi Negara yang ditinggalinya. Dianggapnya Presiden adalah benar hanya satu-satunya sosok yang akan menentukan bagaimana nasib kehidupan kita selama lima tahun ke depan, sehingga apabila calon yang digadang-gadang senantiasa bersemayam dihatinya tidak memenangi kompetisi pemilihan kepala Negara maka akan rusaklah sebelangan kehidupan gara-gara nila yang hanya setitik. 

Seperti yang telah kita ketahui bersama beberapa hari lalu baru saja terjadk kerusuhan di sejumlah titik Ibu Kota Jakarta sebagai aksi protes atas pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang pasangan yang meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Presiden Republik Indonesia. Aksi protes atau unjuk rasa tersebut kabarnya dilakukan oleh kubu sebelah yang tidak menyetujui hasil penghitungan suara KPU karena dianggapnya terdapat kecurangan dalam masa pemilihan. 

Meskipun hal-hal tersebut belum diketahui kebenarannya, apakah benar para pengunjuk rasa adalah simpatisan pasangan calon lawan atau ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan situasi. Pun terkait anggapan adanya kecurangan belum diketahui faktanya karena sampai saat ini masih dalam proses atas pengajuan sengketa ke Mahkamah Konstitusi.

Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun riuh bukan kepalang. Saling sahut-sahutan melalui unggahan status, berbagi berita yang belum diketahui kebenarannya, hingga upaya-upaya lain yang tujuannya hanya satu yaitu antara kedua kubu sama-sama ingin menunjukkan sisi kebenaran versi masing-masing. 

Tidak lagi ditemui rasa sungkan atau keinginan untuk merahasiakan siapa pilihan kita. Azas Pemilu yang LUBER atau Langsung Umum Bebas dan Rahasia ini tidak diamini lagi oleh banyak pihak. Berkaca pada kejadian ini saya pun percaya bahwa ada motif tertentu sehingga dirasa tidak perlu lagi menutup-nutupi siapa pilihan kita, motif baik maupun motif hanya ingin memperkeruh suasana.

Pun saya, memiliki pilihan dari salah satu Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, namun telah menjadi keputusan untuk tidak memperlihatkan. Bagi saya yang hampir setiap hari melihat kekacauan di dunia maya tentang saling unjuk keunggulan idolanya dari masing-masing partisipan, adalah hal yang membosankan hingga rasa untuk mempercayai unggahan justru tidak ada. 

Bisa jadi tujuan dari berbagai unggahan di media sosial adalah agar menarik kepercayaan pihak-pihak lain terhadap pasangan calon yang dijagokannya, namun apakah mereka ingat bahwa unggahan yang sekalipun berisi kebaikan namun disampaikan dengan nada kebencian hanya akan membaca acuh. Lebih kuat menilai bagaimana cerminan hati sang penggunggah ketimbang melihat isi unggahannya, karena apa yang kita unggah adalah bagaimana diri kita sebenarnya.

Panasnya suasana pemilihan Presiden dan Wakil Presiden kali ini mungkin menjadikan warganet tidak lagi merasa penting merahasiakan pilihan. Justru semakin kuat rasa untuk menunjukkan kepada dunia ada di pihak mana, dan sekuat tenaga melempar berbagai informasi yang dianggap benar di berbagai lapisan dunia maya. 

Seakan-akan biarkan saja orang tahu saya mendukung siapa, saya membela siapa dan saya benci kepada siapa, serta tidak perduli seperti apa orang yang saya idolakan. Lebih dari itu, sumpah serapah kerap dilemparkan untuk pasangan calon dari kubu lawan beserta pendukungnya, namun dibalik itu semua harap kita tidak pernah lupa bahwa apa yang kita doakan untuk orang lain niscaya akan kembali kepada diri kita.

Stop saling hujat, stop saling menjatuhkan. Sampaikan rasa keberatan dengan elegan dan tunjukkan jiwa kemenangan dengan rupawan. Isi Ramadhan dengan perbanyak amalan, lalu sambut lebaran dengan kedamaian.

(dnu, ditulis sambil ngabuburit, 27 Mei 2019. 15.48 WIB)