Dewi Nurbaiti (DNU)
Dewi Nurbaiti (DNU) karyawan swasta

Dreamer to be a Bidadari Syurga - Ibu 2 anak - Karyawati Swasta - Mahasiswi Strata 2 - Professional Volunteerism for Marginal Children & Education - Author at www.tulisandnu.net - Owner Online Shop - Fun Runner - dengan kegemaran tak berkesudahan untuk menulis... Karena menulis lebih dari sekedar berbicara...

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Jelang Pelantikan Anies-Sandi, Dua Televisi Adu Berita dan Opini

13 Oktober 2017   08:42 Diperbarui: 13 Oktober 2017   08:47 842 1 2

Menurut kabar yang beredar, Senin (16/10) mendatang pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih untuk periode 5 tahun ke depan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akan dilantik dan diresmikan sebagai orang nomor satu di Ibu Kota ini. Bukan tanpa perjuangan dan persaingan sengit dalam masa kampanye hingga saat Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) yang begitu ramai dibicarakan, akhirnya pasangan ini berhasil meraih suara terbanyak dan mengalahkan pasangan Ahok -- Djarot serta Agus -- Silvy. Begitu juga dengan dua pasangan yang tidak memenangkan pemilihan ini, mereka pun telah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan. Menang atau kalah semua adalah buah dari prosesnya masing-masing. Tidak hanya yang menang berarti proses perjuangannya lebih berat, tetapi yang kalah pun tentu sama beratnya.

Jelang hari pelantikan suasana kembali memanas, diantara sekian banyak penyebab ramainya situasi adalah sajian berita dari media televisi. Seperti yang saya saksikan pada Selasa (10/10) kurang lebih tayangan pukul 7 malam, di mana televisi pertama yang saya nikmati acaranya adalah televisi berlogo hewan burung yang sepertinya masih satu grup dengan surat kabar Media Indonesia. Satasiun televisi ini menyajikan acara berupa siaran langsung dari Monas DKI Jakarta terkait adanya seremoni peresmian Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) yang jumlahnya tidak sedikit itu, oleh Gubernur DKI Jakarta di akhir masa jabatannya. Di layar kaca selain ditampilkan wajah sang reporter, disajikan pula daftar "warisan" Gubernur DKI Jakarta yang menjabat pada periode 5 tahun terakhir. Banyak hal yang disajikan pada daftar warisan tersebut, selain informasi pembuatan RPTRA, pembangunan jalan layang dan lain sebagainya, yang hasil nyatanya memang ada dan bukan sekadar tulisan belaka. 

Tidak hanya melalui sajian gambar dan tulisan, siaran langsung yang bertemakan "warisan karya" ini juga dilengkapi dengan berbagai informasi yang terus menerus mengatakan bahwa kondisi Kota Jakarta kini adalah hasil karya yang sesungguhnya tidak mudah untuk diwujudkan, namun karena kegigihan dan kelebihan yang dimiliki oleh Gubernur pada periode tersebut maka yang sulit pun dapat diwujudkan demi kenyamanan warga Kota Jakarta tercinta. Berbagai ucapan penekanan bahwa Jakarta adalah bukan kota yang mudah untuk dipimpin mengingat banyak sekali hiruk pikuk yang terjadi di sini, dan saat sekarang ini telah banyak kenyamanan yang dirasakan, maka timbul pertanyaan apakah pemimpin Kota Jakarta periode berikutnya dapat melanjutkan perjuangan ini atau bahkan memberikan hasil-hasil yang lebih baik dari saat ini. Terkesan meragukan dan tak percaya dengan kemampuan pemimpin berikutnya, terus menerus saja keragu-raguan dengan nada sedikit mengecilkan kerap dilontarkan.

Bagi sebagian orang, mungkin memang merasa senang melihat keberhasilan pemimpin Jakarta sebelumnya, tetapi bukan tidak mungkin sesekali terasa gerah saat mendengar ungkapan yang mengecilkan lawan politiknya. Termasuk saya, yang ikut menikmati hasil karyanya namun juga gerah mendengar ungkapan-ungkapan yang meremehkan lawan. Karena hal ini lah maka saya pindah saluran televisi ke stasiun televisi swasta lainnya, lalu tanpa sengaja saya tertarik menyaksikan sebuah acara yang disiarkan secara tunda oleh televisi pemilik maskot Bang One.

Beberapa menit saya menyaksikan acara di saluran ini, lalu terasa ada sesuatu yang menarik untuk saya nikmati. Satu menit, dua menit, saya belum mengerti tayangan apa sebenarnya, namun memasuki menit ke lima saya baru memahami, ternyata tayangan ini tengah membahas tentang peraturan pemilikan lahan parkir bagi warga Jakarta yang ingin membeli mobil. Cukup menarik untuk saya, karena saya termasuk warga yang memiliki lahan tempat tinggal seadanya, jadilah saya putuskan untuk menyaksikan acara ini dan melupakan tayangan sebelumnya.

Semakin saya nikmati acara ini, semakin jelas saya temukan pertikaian antar stasiun televisi. Pasalnya ternyata di televisi ini tengah mengangkat kekecewaan warga Kota Jakarta yang berkeberatan dengan adanya peraturan pemerintah yang mengharuskan pembeli kendaraan roda empat haruslah memiliki lahan parkir sendiri. Reporter dalam acara ini juga mewawancarai beberapa warga Jakarta yang parkir sembarangan dan berakhir dengan kendaraanya diderek oleh Dinas Perhubungan. Tayangan demi tayangan yang menyuarakan bahwa rakyat kecewa dengan peraturan yang terbit belum lama ini terus saja ditampilkan. Suara pendukung dibalik gambar juga menyatakan bahwa Kota Jakarta kian hari kian semrawut maka sudah sepatutnya kita semua mendukung pemimpin baru yang akan membenahi kota metropolitan ini. Kalimat sejenis yang mengatakan kota Jakarta belum juga nyaman bagi penduduknya terus saja dilontarkan.

Ya, ini adalah perang antar stasiun televisi, di hari yang sama dan jam yang sama.

Sebagai warga Jakarta saya semakin gerah saja melihatnya. Bermaksud mengganti saluran televisi untuk menghindari pemikiran-pemikiran yang buruk terhadap sepasang pemimpin tapi justru mendapatkan balasan dari televisi lain yang mendukung pasangan lainnya. Saya memang pendukung salah satu pasangan tersebut, namun bukanlah sebuah kesukaan untuk menyaksikan aksi pengguguran karakter seseorang yang dilakukan oleh kubu yang saya dukung.

Saling menjelek-jelekan dan menjatuhkan terus saja dilakukan sepanjang acara berlangsung. Saya yang menjadi penikmat televisi malam itu jadi tertarik membolak-balik saluran televisi antara stasiun televisi berlogo burung dengan televisi bermaskot Bang One. Yang satu membeberkan apa saja yang telah dihasilkan oleh Gubernur di lima tahun terakhir, sedangkan televisi yang satu seakan menghilangkan semua hasil karya tersebut dengan mengatakan Jakarta kini belum juga membaik kondisinya. Saling menaruh ragu hingga nyaris mengecilkan kemampuan Gubernur yang akan dilantik tanggal 16 Oktober 2017 nanti, seolah membuat suasana kembali keruh seperti jelang masa-masa pemilihan beberapa waktu lalu.

Saat ini stasiun televisi terasa kurang sehat dalam hal persaingan beritanya, maka kita sebagai penontonlah yang harus sehat menyikapi apa yang disajikan di depan mata. Fair saja, setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangan, lantas mengapa senang sekali menjatuhkannya dengan berbagai cara hingga membuat kita sedikit naik di udara. Sungguh bukan sebuah perbuatan yang elok jika kita ingin menanjak tinggi tapi dengan cara menginjak yang lain.

Gubernur periode sebelumnya tentu tentu telah bekerja untuk kenyamanan masyarakat, namun Gubernur periode berikutnya juga tentu memiliki kemampuannya tersendiri untuk melanjutkan pembangunan agar masyarakat menjadi lebih nyaman dari sebelumnya. Toh telah terbukti terpilihnya Gubernur baru ini adalah hasil suara terbanyak warga DKI Jakarta, lantas mengapa perang opini masih saja digencarkan dengan kesan hanya ingin menjatuhkan. Kita tentu punya harapan yang sama agar Jakarta tercinta menjadi kota yang nyaman dan bersahabat untuk dihuni, maka pengakuan atas hasil karya sebelumnya dan karya yang akan dihasilkan berikutnya hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang biasa saja namun tetap mengangkat sisi kebenaran.

Jelas kita tidak bisa mengubah wajah media, maka kita lah yang harus mengubah cara pandang kita sendiri. 

(dnu, ditulis sambil nonton tips mengupas kulit udang "lauk kesukaan saya" di CNN Indonesia, 13 Oktober 2017, 08.16 WIB)