Mohon tunggu...
Dewi Leyly
Dewi Leyly Mohon Tunggu... Tenaga Kesehatan - ASN

Life is a journey of hopes.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi Dewari Serial: Sapa Angin pada Jelita

26 Juni 2021   10:43 Diperbarui: 26 Juni 2021   11:06 171
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Puisi Dewari Serial : Sapa Angin Pada Jelita

Wahai Jelita
Yang menyapaku di kitaran perjalanan semesta
Yang memaknai keberadaanku di setiap peristiwa
Kemurnian perhatianmu menyentak jiwa

Dengarkanlah dengan hatimu
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu :

Ketika kulihat kelelahan di mata seorang ibu
Menemani buah hatinya yang terlelap dalam buaian
Kuhembuskan tiupan sepoi-sepoi menerpa wajah sayunya
Memberinya kesejukan setelah penat seharian
Berharap kesegaran menemani raganya menyongsong esok hari
Apakah itu berlebihan ?

Ketika kulihat ada semangat terpancar di mata para nelayan
Mengembangkan layarnya menyambut petang yang menjelang
Kugiring mereka ke tengah samudera untuk menjemput harapan
Membawakan kebahagiaan di sela senyum pagi anak-anaknya
Apakah itu berlebihan ?

Ketika kulihat bocah-bocah bertelanjang kaki berlarian di antara hijau rerumputan
Tawa mereka memecah kesunyian angkasa dengan keceriaan
Kutiup perlahan layang-layang yang mereka mainkan
Menari-nari diiringi kebahagiaan tatap mata penuh sukacita
Apakah itu berlebihan ?

Harmoni di laku lajuku
Menjadi musik alam bagi jiwa yang melihat semesta dengan penuh rasa syukur
Di sela-sela dedaunan yang terayun-ayun seirama
Kubisikkan melodi penyubur rindu pada kampung halaman
Yang pernah menorehkan kenangan di awal kisah kehidupan
Apakah itu berlebihan ?

Aku tak kuasa memilih
Ketika tekanan udara yang berbeda mengiringi langkah jalanku
Dan pergerakanku serupa penari siang hari
Membentuk pusaran yang berputar-putar kencang
Meluluhlantakkan tempat berteduh dan berbagai milik kesayangan
Aku takkan menolak cacimu yang juga tak sanggup menahan tarianku
Apakah itu berlebihan ?

Ketika lajuku mengurai simpul-simpul awan nan elok di angkasa
Memberi ruang untuk memaknai kebersamaan
Yang tidak akan abadi selamanya
Ada saat untuk bertemu, ada saat untuk berpisah
Jalani peran diri dengan penuh tanggung jawab
Apakah itu berlebihan ?

Duhai Jelita,
Yang sedang merindukan seseorang di seberang benua
Usah kau tanya akan waktunya, kapan ia kembali lagi
Mungkin esok ia akan datang ?
Atau selamanya takkan bersua ?
Jangan lelah nantikan dia senantiasa dengan segenap asa
Dan melakukan segala karya dengan penuh cinta

Duhai Jelita,
Kau tak akan sendirian...
Aku di sini menemanimu...
Bercakap-cakap dalam kesunyian kita
Dan coba dengarlah :
Aku sedang mengidungkan suka dan duka yang mewarnai kehidupan
Apakah hatimu mendengarnya ?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun