Dewi Iriani
Dewi Iriani karyawan swasta

saya adalah diri saya, yang suka belajar, suka menulis. Sahabat yang baik membuat saya bahagia. Saya suka berteman. Teman bagi saya adalah aset, ia juga inspirasi sekaligus teman berbagi, terutama berbagi ilmu. Indahnya hidup jika mempunyai banyak teman - teman yang baik.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kiat Membuat Tulisan Narasi yang Memikat

23 Mei 2011   04:23 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:20 3764 0 0

Beberapa pesan, masuk lewat inbox di facebook saya. Mereka menanyakan bagaimana membuat sebuah tulisan narasi yang baik.Mulanya saya sempat kaget juga. Kok beberapa orang menanyakan hal yang sama. Usut punya usut, ternyata beberapa naskah saya lolos seleksi sayembara untuk kategori tulisan berupa narasi. Karena mereka meminta kiat-kiat khusus. Saya pikirada baiknya saya berbagi ilmu dan pengalaman lewat tulisan ini. Saya berharap semoga ada manfaatnya.

Pertama yang harus dilakukan dalam menulis narasi adalah mencari ide yang cemerlang. Seperti kita ketahui, ide bisa kita temukan dimana saja. Di jalan, di terminal, di tempat kerja, di sekolah dan dimana pun. Caranya pun bisa dengan berbagai cara. Ada yang dengan membaca, dengan bernyanyi, dengan berjalan-jalan, merenung dan lain sebagainya. Apa dan dimana pun kita mencari ide, sebaiknya berakhir pada satu ide yang paling cemerlang.

Saya pribadi biasanya menuliskan sebanyak mungkin ide yang saya temukan. Kemudian saya mempertimbangkan untuk mencari satu yang terbaik diantaranya. Tentu saja dengan berbagai alasan yang melandasinya. Misalnya saya berencana menulis tentang pengalaman berteman paling mengesankan. Maka saya akan mencoba berbagai alternatif pilihan.

Pertama mungkin si A yang sangat cerewet tapi baik hati. Bisa juga tentang si B yang sok tahu, menyebalkan tapi pernah menolong dalam masalah keuangan. Atau si C yang miskin tapi pintar. Kemudian saya memutuskan untuk memilih si C misalnya.

Berikutnya saya akan membuat kembali poin-poin sisi menariknya. Misal si C ternyata adalah seorang anak yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Rumahnya lebih mirip gubuk. Ibunya sudah tua dan berjualan gado-gado sebagai penunjang kehidupan mereka. Si C selalu juara umum di sekolah. Ia tak pernah bosan menerangkan tentang rumus matematika dan fisika yang bagi kebanyakan orang ngejelimet itu. Kalaupun ternyata ia jatuh cinta, ternyata wanita yang disukainya memang wanita yang langka dan istimewa. Pokoknya semua poin-poin menarik itu saya tulis, lalu saya susun yang kira-kira menunjang ide saya.

Kemudian saya akan mempelajari banyaknya tulisan yang diharapkan sekalian mengatur spasinya. Hal itu berguna untuk mengatur paragraf agar tidak mengembang kemana-mana.

Yang kemudian saya pikirkan adalah bagaimana pendahuluan akan dibentuk. Seperti kata teori tentang kepenulisan, bahwa pendahuluan itu penting. Ia menjadi semacam alat ukur apakah tulisan kita menarik atau tidak. Jika pendahuluan sudah menarik, maka orang cenderung melanjutkan membaca isinya. Kalau isinya memikat, maka pasti pembaca akan menyelesaikan sampai penutup. Intinya tulisan kita dibaca utuh sebagai apresiasi bahwa tulisan kita memang layak dibaca.

Pendahuluan bisa dimulai dengan apapun yang kira-kira menarik. Bisa cerita lucu, dialog yang penting, gambaran yang menantang emosional dan lain-lain. Saya sendiri cenderung menggunakan berbagai macam cara. Kadang memulainya dengan sebuah pertanyaan.

Yang penting diingat, ketika sedang menulis jangan mempedulikan bahasa, salah ketik dan lain sebagainya, menulislah dulu. Biarkan ide mengalir keluar dengan lancar.

Kalau sudah memasuki bagian isi mulailah memasukkan hal-hal menarik. Sebaiknya alur menanjak menuju klimaks. Pembaca akan disuguhi kepuasan berupa penutup yang bisa menggiringnya pada sebuah jawaban, menarik atau tidak, setuju atau tidak, sedih atau bahagia. Pokoknya dua hal yang berbeda itu dipertentang dalam seni menumpahkan kata-kata.

Mengenai pemilihan kata yang dikenal dengan istilah diksi, saya sendiri tidak begitu mahir berdiksi. Kata-kata yang biasa saya gunakan hanya kata-kata sederhana. Simak contohnya (tulisan ini ada di buku antologi pertamaku : Gado-Gado Cinta).

Akhirnya kuputuskan untuk melakukan penyelewengan agar dia membenciku. Tetapi dia memaafkanku. Aku gundah sungguh. Aku menyeleweng kedua kali dengan orang yang sama dan minta putus dengannya. Kita putus akhirnya. Sejak saat itu aku benar – benar merasa sangat malas untuk menjalin hubungan dengan pria. Bagiku teman saja cukuplah. Perkara jodoh aku serahkan pada Tuhan saja. Walau dalam hati yang terdalam selalu kumembayangkan ada super hero berhati mulia mau mencoba memahami dan menyatukan hatinya denganku dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Segerakan itu untukku, Rabku. Amien.

Begitulah kehidupan cintaku, para pria datang kemudian menghilang.

Ada satu lagi yang menjadi kekhasan tulisan karya saya. Lihat di akhir paragraf penutup. Selalu ada kalimat penegas seperti itu. Hanya satu kalimat saja. Perhatikan contoh yang ini. Tulisan ini adalah cuplikan dari naskah saya yang diikutkan salah satu lomba kepenulisan tentang motivasi menulis.

Itulah sekelumit pengalaman menulisku. Harapanku kelak aku menjadi penulis besar dimana buku-bukuku dinilai bermutu. Serta dialihbahasakan dalam beberapa bahasa di dunia. Seperti gajah yang meninggalkan gadingnya, maka aku ingin meninggalkan nama besar sebagai seorang penulis.

Kututup tulisan ini dengan doa dan harapan, semoga cita-citaku kesampaian. Amien.

Satu hal lagi yang ingin saya dapatkan yaitu gaya kepenulisan yang khas. Dan itu sukar sekali didapatkan. Mereka yang berbakat khusus dan mereka yang telah bergelut lama dalam dunia kepenulisanlah yang biasanya mempunyai gaya sendiri yang unik dan menarik. Khas, sehingga yang membaca akan segera tahu kalau tulisan seperti itu adalah karya siA, B atau C.

Setelah tulisan mentah jadi, biasanya saya mematikan komputer, kemudian melakukan hal lain. Selang beberapa lama, membuka komputer kembali. Lalu merevisi ejaan, tanda baca, kalimat yang salah ketik dan lain sebagainya. Sesudah semuanya benar, saya mulai merevisi isi. Pertama kalimat. Apakah kalimat sudah padat dan menyampaikan pesan secara baik? Kemudian apakah kalimat dalam satu paragraf saling berhubungan. Setiap paragraf saya revisi seperti itu. Lalu antara satu paragraf dengan paragraf lainnya apakah saling berhubungan? Setelah itu selesai, saya mulai menganalisa isi atau muatannya. Lalu revisi dan revisi lagi. Pada akhirnya saya merasa puas dan siap jika tulisan itu harus dipublikasikan.

Adapun kemana naskah kita mau dipublikasikan, sebaiknya ditentukan dari awal dulu. Apakah kita mau memuat tulisan kita di blog, diikutsertakan lomba, dikirim ke media dan lain sebaginya. Sebab peruntukkan seperti itu juga kadang menentukan karakter tulisan kita bisa dimuat dimana.

Jangan lupa, pembaca paling senang dengan tulisan yang alurnya mengalir lancar. Kesan perasaan bisa langsung didapat. Apakah kita jadi bersimpati, membenci, memaklumi, mengagumi dan lain sebagainya.Sejatinya narasi adalahbercerita, bermain perasaan lewat kata-kata. Ia butuh diapresiasi untuk sebuah aktualisasi diri lewat penjabaran hasil kerja pancaindranya berupa mata, kuping, hidung, mulut, kulit dan rasa.

Apalagi narasi yang berkisah tentang pengalaman pribadi. Kalau pandai memainkan kata dengan emosinya tersendiri, sudah pasti hasilnya menarik hati. Untuk itu, ayo membuat tulisan narasi. Tidak susah kok. Seperti bagaimana kita menulis Diary. Bedanya kita harus lebih memoles kata dan isi agar bisa menarik dibaca oleh orang lain. Bukan hanya memuaskan diri sendiri. Semangatlah, karena menulis narasi itu tidak susah kok.