Dewi Damayanti
Dewi Damayanti pegawai negeri

Tentang badai: seperti semua badai, dia akan berlalu. Semakin kejam badai itu, semakin cepat perginya

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Ani Natalia, Ubah Kendala Jadi Peluang

18 Mei 2018   12:08 Diperbarui: 30 Mei 2018   19:13 922 0 0
Ani Natalia, Ubah Kendala Jadi Peluang
Dok.pribadi

Jika ada orang yang berusaha menyembunyikan masa lalu yang pahit, tidak demikian bagi Ani Natalia. Sebagai Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Humas Ditjen Pajak dia telah membuktikan bagaimana sebuah keterbatasan yang dimiliki bisa berubah menjadi peluang untuk maju jika mau.

"Tuhan membangunkan sebuah jembatan untuk saya mengubah nasib, melalui pendidikan gratis yang saya terima dari pemerintah. Karena itu saya bertekad untuk membalas semua yang saya dapat dari negara dengan pengabdian terbaik yang bisa saya berikan," tegas Kak Ani. Begitu dia membahasakan dirinya untuk disapa.

Itu salah satu kata-kata bijak yang diucapkan Kak Ani  selama wawancara hampir satu jam yang berlangsung di ruangannya di Direktorat P2 Humas Ditjen Pajak. Apa yang diucapkannya tak sekedar pemanis bibir. Kata-kata itu dibangun lewat sebuah keyakinan karena perjalanan hidup penuh warna yang  pernah dilaluinya.

Setelah tamat dari SMAN 91 Jakarta tahun 1992, Kak Ani berhasil meneruskan kuliah ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jurang Mangu, Tangerang. Sebuah sekolah tinggi kedinasan tak berbayar yang digagas Kementerian Keuangan.

"Secara logika nggak mungkin saya melanjutkan kuliah saat itu. Ibu saya hanya pedagang jeruk di pasar Pondok Gede. Jika saya tak kuliah di STAN, mungkin saat ini pun saya hanya pedagang jeruk," ceritanya ringan.

Namun intonasi suaranya meredup tatkala menceritakan tentang Ayahnya yang telah pergi meninggalkan dunia fana ini. Ada kerinduan dalam nada suaranya. Profesi Ayahnya sebagai seorang supir semasa hidupnya, tidak meninggalkan warisan harta untuk keenam anak dan isterinya. Otomatis sebagai anak keempat meski masih belia Kak Ani harus ikut membantu sang Ibu berjualan jeruk di pasar. Dari sosok Ayah lah dia mewarisi sikap seorang pejuang.

"Ayah saya selalu bilang, meski jadi tukang sapu jadilah tukang sapu terbaik,"   

Saya ikut terhanyut dalam kisahnya. Hari itu Jumat (11/5/2017) dari jendela kaca di lantai 16 Gedung Kantor Pusat Ditjen Pajak matahari terlihat mulai meninggi. Jarum jam telah menunjukkan angka 10.30 pagi. Padahal sejatinya janji wawancara dilakukan jam 8.30 pagi. Namun perubahan jadwal mendadak membuat saya menguntit Kak Ani melakukan aktivitasnya selama dua jam pagi itu.

Saya ikut duduk manis mendengarkan dia dan para stafnya membahas rencana kerja yang telah dilakukan bulan lalu dan yang harus dilakukan bulan Mei ini. Setelah itu Kak Ani bersama Direktur P2 Humas menerima tamu wartawan dari majalah Tempo yang datang untuk menjajaki kemungkinan sebuah kerjasama dengan Ditjen Pajak, saya pun ikut menemaninya. Kak Ani tetap penuh energi.

"Maaf ya Mba, dua acara tadi sebenarnya nggak ada dalam schedule saya," pintanya ramah.

Humas Siap Songsong Era Artificial Inteligence Hingga Ciptakan Branding

Di ruangannya yang ditata apik (beberapa foto dan lukisan diri tergantung di dinding), perempuan kelahiran Medan 43 tahun lalu itu bercerita banyak. Tak hanya tentang latar belakang keluarga yang telah menempanya menjadi sosok yang penuh semangat dan tangguh, namun terkait visinya ke depan untuk membawa Humas Ditjen Pajak siap menyongsong era teknologi artificial inteligence.

 "Kita harus harus mengemudikan gelombang teknologi yang luar biasa ini untuk kepentingan perpajakan," ujar perempuan yang hobi menyanyi dan seringkali didaulat sebagai MC ini bersemangat.

Berbicara tentang Artificial Inteligence (AI) adalah kecerdasan yang diciptakan dan dimasukkan  ke dalam sebuah mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang biasa dilakukan manusia. Jika ini diterapkan di Ditjen Pajak, bisa meningkatkan produktivitas pegawai, karena pegawai tak perlu dibebani pekerjaan administrasi yang sifatnya berulang. Seperti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dari wajib pajak tentang: PTKP, Tarif Pajak, pembayaran pajak, maupun aturan-aturan terbaru bisa dilakukan AI. Itu suatu keniscayaan memang.

Kak Ani yakin teknologi ini akan diterapkan di Ditjen Pajak ke depan. Dia bercerita beberapa waktu lalu sebuah provider telepon seluler telah menawarkan kerjasama ini. Karena Teknologi AI adalah sesuatu yang lumrah digunakan di perusahaan-perusahaan besar kini. Contohnya salah satu bank swasta terkenal telah menggunakan layanan chatbot untuk melayani nasabahnya. Untuk menjawab pertanyaan terkait kurs, lokasi mesin Anjungan Tunai Mandiri, cek mutasi rekening, dan promo diskon bisa dilakukan melalui aplikasi pesan instan atau chatbot. Jadi tidak perlu ditangani tenaga manusia lagi.

Kak Ani membayangkan jika suatu saat nanti semua data wajib pajak telah terintegrasi dengan baik dan dengan penggunaan AI, maka dalam sekejap seseorang dapat mengetahui permasalahannya dengan cepat. Misal saat seseorang mendapati teleponnya terblokir, ataupun kartu kreditnya tak bisa digunakan, kemudian melalui teknologi AI dia bisa mengetahui bahwa semua itu disebabkan karena dia belum membayar pajak. Kemudian klik: dia dipandu untuk membayar langsung saat itu juga. Luar biasa kemudahan dari sebuah teknologi.

Mata wanita yang selalu berpenampilan modis itu nampak berbinar-binar. Seolah dia sedang melihat kemajuan itu telah di depan mata. Meski dia menyadari  itu sebuah tantangan ke depan untuk diwujudkan.

Saat ditanyakan tugas apa yang paling menantang selama dia menjabat sebagai Kasubdit Humas, maka menurut Ibu tiga anak ini bekerja di pajak itu sendiri sebuah tantangan. Kenapa? Karena pada prinsipnya tak ada orang yang menyukai pajak. Bahkan kalau bisa pajak itu dihindari. Di sinilah peran Humas, bagaimana mengedukasi masyarakat agar menerima pajak, tidak menolaknya. Dan menumbuhkan kesadaran bahwa tulang punggung penerimaan negara adalah pajak.

Ketika kita berbicara tentang Humas maka salah satu fokus kita adalah penggunaan saluran komunikasi yang digunakan Ditjen Pajak untuk menyampaikan informasi kepada para pemangku kepentingan. Baik yang berada di luar (wajib pajak), maupun di dalam (pegawai pajak).

"Nggak mungkin lah kita berkomunikasi menggunakan saluran komunikasi yang sudah usang, misalnya. Saluran komunikasi yang digunakan semua orang kini adalah handphone. Maka itu yang harus kita manfaatkan."

Terlihat dia sangat menguasai bidang tugasnya. Tak heran setelah menyelesaikan pendidikan S2 dari Yokohama National University Jepang tahun 2002, selama sebelas tahun terakhir ini sejak terbentuknya Direktorat P2 Humas di Ditjen Pajak pada 2007 lalu,  bidang tugas Kak Ani memang tak pernah jauh dari Humas.

Coba kita simak. Tahun 2007 saat terbentuknya Direktorat P2 Humas, dia langsung ditempatkan ke Bidang P2 Humas Kanwil DJP Jakarta Timur sebagai Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 2011 dia dimutasi ke Kanwil Jakarta Utara masih dalam posisi yang sama. Dan kariernya terus melejit hingga menjadi Kepala Bidang (Kabid) Humas Kanwil Jakarta Pusat pada tahun 2013. Tak berhenti di situ, Ani Natalia akhirnya berlabuh sebagai Kasubdit Humas Ditjen Pajak.

Ketika menjabat sebagai Kasubdit Humas Ditjen Pajak inilah bintang Ani Natalia semakin bersinar.  Sosoknya seringkali muncul di layar televisi, terutama saat berlangsungnya program Amnesti Pajak.  Bahkan tahun lalu dia dinobatkan sebagai Insan PR INDONESIA 2017. Sebuah gelar kehormatan bagi mereka yang bergelut di bidang PR atau Humas. Maka tak berlebihan jika ada yang menyatakan: tokoh PR Pajak adalah Ani Natalia.

Namun dia terkekeh saat mendengar ungkapan itu. Menurutnya kebetulan saja ketika dia menjabat sebagai Kasubdit Humas Ditjen Pajak banyak kejadian luar biasa yang harus ditanggulanginya. Mulai dari peristiwa: kebakaran kantor pusat pajak, terbunuhnya pegawai pajak, mundurnya Dirjen Pajak, dan terakhir peristiwa yang menyita perhatian  masyarakat Indonesia yaitu: Amnesti Pajak.

Kak Ani mengingat Amnesti Pajak sebagai peristiwa yang akan dia kenang seumur hidupnya. Tak dipungkiri akan membanggakan ketika dia bisa bercerita suatu saat nanti bahwa dirinya telah ikut mengawal program itu. Dia belum lupa beberapa bulan sebelum program itu diluncurkan, dia harus mulai mempersiapkan semuanya. Mulai dari membuat logo dan jingle yang pas, sosialisasi, hingga strategi program yang akan berlangsung selama sembilan bulan penuh.

Masih lekat dalam ingatan kita slogan Amnesti Pajak yang sangat terkenal itu: Ungkap, Tebus, Lega. Ide itu lahir dari kreativitas pegawai pajak yang dikomandani Kak Ani.

"Saya harus memikirkan itu jauh-jauh hari. Nggak mungkin setelah Amnesti Pajak diluncurkan baru memikirkan logo, slogan, dan lain-lain," ceritanya.

Karena itu beberapa bulan sebelum Amnesti Pajak diluncurkan  Kak Ani  berinsiatif mengumpulkan para tim kreatif dari pegawai pajak yang terdiri dari: tim desain grafis, penulis, fotografi, dan videografi untuk berembuk bersama mempersiapkan tema yang akan diusung. Jika itu dinilai sukses, menurutnya itu adalah kesuksesan bersama.

Kini wajah humas semakin eksis di media sosial dan mulai diterima di kalangan kaum mileneal. Itupun tak luput dari strategi kehumasan juga. Untuk membentuk wajah Humas yang diterima semua pemangku kepentingan Kak Ani berinisiatif membentuk agen di seluruh Indonesia yang menyuarakan pajak. Karena menurutnya akan sulit jika semua itu harus dilakukan Humas kantor pusat. Berawal dari inilah muncul: taxmin media sosial di tiap kantor pajak yang menyosialisasikan pajak. Wajah Humas pajak pun semakin semarak.

Memanfaatkan talenta pegawai pajak sendiri menurut Kak Ani merupakan sebuah simbiosa mutualisme. Ditjen pajak tidak perlu memakai tenaga professional dari luar, karena para pegawai pajak ternyata memiliki kemampuan yang beragam. Maka dengan memanfaatkan kepiawaian pegawai sendiri akhirnya meminimalisir biaya. Sementara pegawai tersebut merasa diberi kesempatan untuk memanfaatkan talenta dan berperan serta dalam organisasi. Penghargaan yang juga didapatkan adalah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan diri melalui workshop-workshop yang diberikan Humas.

Ketika seorang pegawai merasa diberi tempat dan dihargai akan menimbulkan engagement  pada organisasi. Sehingga akan tumbuh pegawai-pegawai pajak yang bekerja dengan semangat tinggi dan merasakan ikatan kuat dengan organisasi. Mereka inilah yang akhirnya menjadi sumber pendorong inovasi dan kemajuan Ditjen Pajak. Maka dia tak memungkiri jika workshop-workshop maupun diklat-diklat sangat penting diberikan kepada pegawai untuk meningkatkan kemampuan diri. Wanita yang sehari-hari memperlakukan stafnya sebagai rekan kerja ini sangat peduli pada peningkatan kapasitas seorang pegawai.

"Kalau dalam posisi saya kan jika merasa butuh menghadiri sebuah seminar karena merasa perlu belajar sebuah keterampilan, maka saya tinggal tanya ke bagian umum saya bisa nggak ikut. Tapi tidak semua orang bisa begitu. Di sinilah organisasi harus hadir," paparnya.

Maksud Kak Ani adalah organisasi harus memberikan sarana bagi pegawainya untuk meningkatkan kapasitas diri. Ditjen Pajak kini memang berupaya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pegawainya untuk meningkatkan kemampuan diri melalui pemberian beasiswa untuk melanjutkan sekolah, workshop, diklat, maupun pemberian In House Training (IHT) yang dilakukan secara berkala.      

Muara kebahagiaan Ani Natalia adalah ketika akhirnya Humas berhasil menciptakan branding yang menjadi panduan seluruh kantor pajak. Dan branding yang disepakati bersama itu telah melalui riset branding, jadi tidak ujug-ujug muncul begitu saja. Salah satu branding itu terkait panduan dalam melakukan renovasi gedung kantor kantor dan tata letak ruang, sehingga ke depannya ada keseragaman. Masih terkait branding, Pedoman Komunikasi yang dikeluarkan Humas Ditjen Pajak mendapat piala emas dari PR Indonesia karena dinilai sangat komprehensif.

Di akhir wawancara Kak Ani membuka sebuah rahasia bahwa salah satu kebahagiaannya adalah saat ditugaskan memberikan kuliah umum di STAN. Di sana dia bisa membagikan pengalamannya, dan memberikan motivasi pada adik-adik kelasnya supaya mereka tidak minder dan berkecil hati dengan kondisi apapun yang dijalani. 

Dia menunjuk dirinya sendiri. Jika dulu dia menyalahkan keadaan karena keterbatasan ekonomi keluarganya, maka dia tidak akan pernah sampai di sini. Tidak akan pernah bisa mengabdi di Ditjen Pajak ini, bahkan mungkin tetap bergelut di pasar seperti selorohnya. Bagi dia kuliah di STAN adalah sebuah jembatan yang disiapkan Tuhan untuknya. 

Kak Ani tak berlebihan memang. Dengan perjalanan hidup yang telah mewarnainya , dan kemampuannya mengubah kendala sebagai peluang, maka dia adalah salah satu sosok pimpinan yang bisa dijadikan inspirasi bagi generasi muda kini.  



Ditayangkan pertama kali di https://www.pajak.go.id/article/ani-natalia-ubah-kendala-jadi-peluang