Mohon tunggu...
Dewi ArumMelati
Dewi ArumMelati Mohon Tunggu... free time writer

bicara lewat aksara

Selanjutnya

Tutup

Digital

Bertani Seru ala Generasi Milenial

22 Mei 2019   22:46 Diperbarui: 22 Mei 2019   23:13 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kalau mendengar kata bertani mungkin pikiran kita masih terarah kepada Bapak Tani dengan topi capit yang sedang membajak sawah bersama kerbaunya di desa. Sebuah hal yang tabu untuk melakukan aktifitas pertanian di kota. Padahal, profesi bertani ini merupakan profesi yang sangat mulia pun mengingat potensi pertanian di Indonesia sangatlah besar. Tetapi citra petani ini seringkali dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai profesi rendahan yang tidak begitu membutuhkan pengetahuan. Bahkan, Insitut Pertanian satu-satunya di Indonesia seringkali diubah namanya menjadi Institut Perbankan karena mahasiswanya lebih banyak terjun ke dunia perbankan setelah lulus, ketimbang berkarir di bidang pertanian. 

Namun, bertani di masa sekarang tidaklah seperti yang kita bayangkan layaknya yang sudah saya deskripsikan sebelumnya. Masuknya teknologi dan digitalisasi benar-benar merubah cara pandang dan cara berperilaku beberapa lapisan masyarakat, termasuk tentang pandangan menjadi seorang petani. Walaupun ini hanya terbatas di kalangan yang melek teknologi yang asumsinya berasal dari masyarakat dengan perekonomian menengah ke atas serta didominasi generasi milenial. 

Pertanian organik sekarang sedang cukup naik di lini masa media sosial, teknologi pertanian juga cukup merebak bebas. Mulai dari sistem pendanaan pertanian yang memungkinkan kamu menjadi investor pertanian tanpa harus langsung turun ke sawah, penjualan barang-barang pertanian melalui sistem perdagangan elektronik (e-commerce), atau pemanfaatan internet of things (IoT) untuk meningkatkan produktifitas pertanian. Perusahaan start-up yang memiliki inovasi tersebut juga menjual namanya dengan merek beragam, dari yang namanya mengandung unsur pertanian atau perkebunan seperti Egritech, Tani Hub, Tani Fund, Igrow, Sayurbox, Habibi Garden, sampai dengan nama yang sangat nyentrik yang kita tak terpikir tentang pertanian saat mendengarnya seperti Si Kumis. 

Menemukan kemudahan yang sangat beragam, kamu bisa memilih ingin bertani dengan cara yang kamu suka. Kalau kamu tidak memiliki lahan yang luas, kamu bisa gunakan metode hidroponik ataupun membuat vertical garden di rumah. Tak perlu menanam dalam jumlah besar, sekedar untuk menanam cabai, daun bawang, dan sayur-sayuran lainnya pun juga bisa menjadi pilihan. 

Kalau kamu memiliki uang yang cukup banyak dan ingin membantu petani yang kekurangan dana, kamu bisa menjadi petani hanya dari balik layar ponsel melalui penyedia layanan crowdfunding pertanian seperti Tani Fund, Igrow dan lainnya. Mereka menyediakan berbagai opsi pertanian mulai dari sayuran, hingga buah-buahan, beberapa juga bahkan merambah ke peternakan. 

Kalau kamu sudah memiliki lahan pertanian, punya cukup dana namun produktifitasnya masih kurang optimal, kamu bisa mengulik berbagai cara yang bisa kamu temukan di laman pencarian, atau membeli alat penunjang pertanian di Si Kumis dan sejenisnya bahkan kamu bisa memanfaatkan internet of things dari Habibi Garden di mana sesuai dengan tagline yang mereka miliki, dengan alat ini kamu bisa seperti bicara dengan tumbuhan karena semua tentang tanamanmu bisa terpantau dan di unduh dalam bentuk data yang bisa diakses melalui personal komputer ataupun ponsel pintar kamu. 

Kalau kamu sudah cukup produktif dan butuh memperluas pasar melalui pemasaran elektronik yang bisa diakses secara daring, kamu bisa menghubungi layanan penjualan hasil pertanian digital seperti Sayurbox, TaniHub yang memang fokus utamanya adalah untuk menjual hasil tani, atau bahkan marketplace segala ada yang menjual berbagai jenis komoditi seperti Tokopedia, Blibli, dan lainnya. 

Dalam penjelasan di atas, banyak sekali disebutkan beberapa nama perusahaan yang mungkin sudah kamu kenal atau baru kamu kenal saat membaca artikel ini. Hal yang menarik dari hal-hal tersebut yang sudah saya sebutkan sebagai modernisasi pertanian di revolusi industri 4.0 ini adalah semua kalangan bisa menjadi petani, dan yang menjadi penggerak bukanlah generasi angkatan 60 atau 70an yang merupakan generasi baby boomers, melainkan para generasi milenial yang kebanyakan lahir di tahun 90an. 

Dengan segala kemudahan ini, apa kamu tertarik memajukan Indonesia melalui pertanian dan menjadikan #PertanianIndonesiaMaju?