Mohon tunggu...
Ambardewi
Ambardewi Mohon Tunggu... Pecinta seni, buku dan musik

Menulis adalah selera... Mengembangkan ide yang menjadi sebuah tulisan yang menginspirasi adalah tabungan ilmu yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri melainkan untuk orang lain.. Jangan memenjarakan ide.... keluar,,, dan tulislah!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Indonesiaku, Stay Healthy! Lebih Baik "Worrie" daripada "Sorry"

18 Maret 2020   23:06 Diperbarui: 19 Maret 2020   00:40 115 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesiaku, Stay Healthy! Lebih Baik "Worrie" daripada "Sorry"
pixabay.com

Hari ini, hari ke 18 di bulan Maret 2018. Indonesia sedang mengalami kondisi yang tidak baik. Pandemic Covid-19 yang masuk ke Indonesia menuai banyak steatmen dari pemerintah, media masa dan juga masyarakat. Ada yang menilai bahwa tindakan pemerintah kurang tanggap akan pencegahan covid-19 masuk ke Indonesia. 

Media social yang terus menjejali masyarakat dengan berbagai pemberitaan yang mengedukasi maupun tidak sedikit ada yang juga membuat panik. Sedangkan masyarakat sendiri, ada yang bersikap panik, peduli hingga ada yang masih bersikap tidak mengindahkan alias masa bodoh.

Sejak pertama kali virus corona diberitakan berasal dari wuhan china, saya pribadi berpikir. Tidak mungkin adanya akibat jika tidak ada sebab. Kemudian adanya pemberitaan bahwa virus tersebut berasal dari kelelawar yang konon kabarnya dikonsumsi oleh masyarakat wuhan. Saya juga sangat menyadari adanya bahaya yang disebabkan olehnya. 

Hingga pemberitaan semakin meluas, merebak ke beberapa negara, dan yang saya mengikuti hingga hari ini adalah banyaknya warga yang positif covid-19 di Milan. 

Bahkan tadi pagi, saya membaca sebuah tulisan di facebook mengenai seseorang yang mengingatkan betapa 'rakus'nya manusia yang menyantap segala jenis binatang liar seperti kelelawar, kucing hutan dsb. Tulisan tersebut berpendapat bahwa semua yang terjadi saat ini adalah hokum alam. Apa yang manusia perbuat, ini adalah saat untuk menuai. Dan parahnya, semua menjadi ikut bertanggung jawab.

Di Indonesia sendiri, masyarakat yang awalnya membuat lelucon, lagu dan sikap masa bodoh akan adanya virus ini pun akhirnya mulai merasakan dampaknya. 

Beberapa korban yang positif pun masih belum menjadi pembelajaran bagi sebagian masyarakat yang masih saja berkeliaran hingga liburan pada saat Presiden menghimbau untuk tetap stay di rumah dan memberlakukan apa yang disebut "social distancing".  

Media massa yang memberitakan banyak sekali kasus-kasus yang merebak di Indonesia, di beberapa daerah, rekaman seseorang yang mengaku suspect hingga berita-berita hoax terkait masker dan hand sanitizer yang saat ini sedang diperebutkan.

Miris memang jika melihat banyak oknum yang menyalahgunakan kondisi ibu pertiwi yang sedang sakit. Menaikkan harga masker, banyak harga-harga bahan pokok yang melonjak tajam, minimnya produk hand sanitizer hingga peran pemerintah yang menurut saya kurang konkret dalam melindungi segenap warga negara sesuai amanah konstitusi kita. 

Masyarakat dalam golongan kaya, mereka mampu menimbun, membeli harga masker, hand sanitizer dan kebutuhan pokok dengan harga yang mahal, tetapi bagaimana nasib masyarakat yang kurang mampu dalam menghadapi permasalahan yang serius seperti sekarang ini? bagaimana mereka melindungi anak, keluarganya dengan masker yang begitu mahal? Lihatlah kami pak Presiden. Semoga kebutuhan antisipasi pencegahan covid-19 bisa disupply khusus dan gratis dari Pemerintah.

Terkait social distancing, hal inilah yang memang perlu memiliki kesadaran diri dan demi kebaikan bersama. Tidak hanya anda, satu atau dua orang saja yang merasa bosan dan tertekan dengan keadaan seperti ini. tapi satu Indonesia. Ibu pertiwi kita sedang sakit. Butuh komitmen Bersama untuk menaklukkan hal ini. ini bukan perkara biasa. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan untuk memperpanjang Status Keadaan Tertentu Darurat Wabah Bencana Penyakit Akibat Virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, per 28 Januari hingga 28 Februari 2020, sesuai arahan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).  

Apakah ini masih dianggap sesuatu yang biasa. Selayaknya, sebagai manusia yang berakal, kita tahu pilihan mana yang kita ambil. Satu langkah saja seperti tetap stay di rumah, itu bisa menyelematkan nyawa kita dan orang lain. Mengapa kita harus menunggu ada korban dulu sampai kita percaya?

Serangan-serangan pemeberitaan yang ada di grup whatsaap, facebook, Instagram sebagian ada yang memberikan efek positif dan ada juga yang menambah kepanikan. 

Seringkali saya melihat, komentar-komentar dari netijen ada yang masih bisa bercanda ditengah kehiruk pikukan dunia semacam ini. rasa empati dan mengerti akan kondisi orang lain rasanya sudah terkalahkan oleh tingginya rating dan banyaknya like.

Disisi lain, selain kita pribadi, apa kabar dengan tenaga medis yang hingga detik ini mereka masih berjuang untuk menyelamatkan sesama yang merasa bahwa dirinya terjangkit atau suspect. Para pahlawan medis kita juga berjuang ditengah sempitnya regulasi dan kebijakan. 

Kami pun sebagai masyarakat panik dan takut. Padahal kesehatan merupakan hak asasi manusia dan pemenuhannya dijamin oleh negara baik dengan pemenuhan kualitas pelayanan kesehatan dan obat-obatan. Semoga Allah melindung mereka dan keluarga.

Bagi sektor swasta yang masih 'egois' mempekerjakan karyawan ditengah status kewaspadaan covid-19, orang-orang yang memang tidak bisa diwakilkan kehadirannya dan dituntut untuk bekerja di luar rumah, seyogyanya mengindahkan protokol-protokol yang telah dihimbau oleh pihak pemerintah. Sadar akan kesehatan pribadi dan invidu itu penting.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN