Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, & nonton film unik. Juga nulis di https://dewipuspasari.net dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berburu Pekak dan Pasar yang Mulai Padat

21 Maret 2020   00:07 Diperbarui: 21 Maret 2020   00:11 66 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berburu Pekak dan Pasar yang Mulai Padat
Aku berburu pekak ke pasar (gambar: kompas.com)

Sebelum melakukan program work from home hari ini, aku dan pasangan berbelanja ke pasar. Ada beberapa barang yang tak ada di tukang ikan, seperti jahe, serai wangi, dan pekak alis bunga lawang, sehingga kami memutuskan ke pasar. Setiba di sana kami menjumpai hal yang tak seperti biasanya. Pasar Cijantung Jumat pagi (20/3) tak seperti biasanya.

Ketika tiba di parkiran kami sudah merasakan sesuatu yang tak biasa. Hari ini parkiran rame. Kemudian kami melihat orang-orang membawa belanjaan yang sarat ke kendaraan mereka.

Di jalan menuju pasar, orang-orang juga rame berlalu lalang. Beberapa di antaranya mengenakan masker. Ketika masuk ke dalam pasar, aku memutuskan untuk berbelanja secara kilat.

Dalam pasar begitu penuh. Selama ini aku cukup sering ke pasar Cijantung ini, belum pernah melihat pasar seramai, termasuk ketika mendekati hari raya. Apalagi hari ini bukan hari Sabtu atau Minggu. Wah apakah sudah ada gejala panic buying? Mudah-mudahan bukan.

Aku menghindari lapak yang ramai. Aku tak ingin berdesakan. Aku memilih lapak yang sepi. Masker tetap kukenakan.

Aku membeli sayuran, buah, telur, dan bumbu. Selain itu aku membeli jahe agak banyak. Rupanya sekarang mahal. Satu kilonya Rp 55 ribu. Sedangkan telur sekilonya Rp 26 ribu.

Aku juga membeli serai wangi dan tak lupa pekak. Aku akhir-akhir ini jatuh cinta pada pekak alias bunga lawang. Ia membantuku mengusir batuk pilek beberapa waktu lalu. 

Ketika kubaca, khasiat dari tanaman herbal ini banyak, salah satunya meningkatkan kekebalam tubuh. Kini aku menyediakan stok agar daya tahan tetap oke. Harga pekak Rp 2 ribu perbungkusnya. Isinya sekitar 8-10 buah bunga kering. Ia bisa dikunyah atau diseduh dengan air hangat.

Kami berbelanja tak sampai 30 menitan. Setiba di kendaraan dan menaruh belanjaan kami segera membersihkan tangan dengan desinfectan. Ponselku pun ikut kusterilkan. Kami agak was-was berada di kerumunan. Tak semuanya mengenakan masker. Sebagian besar penjual di pasar tak mengenakan masker.

Oh iya aku tak berani mengambil gambar tadi selama di pasar. Tadi ada beberapa orang mencurigakan yang tiba-tiba posisinya begitu dekat denganku, seperti hendak merampas dompet dan hapeku.

VIDEO PILIHAN