Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, & nonton film unik. Juga nulis di https://dewipuspasari.net dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Kisah-kisah ketika Liburan ke Baluran

11 Juli 2018   22:23 Diperbarui: 12 Juli 2018   07:30 2003 9 5
Kisah-kisah ketika Liburan ke Baluran
Taman Nasional Baluran yang menawan (dokpri)

Hawa di luar begitu gerah dan sinar matahari panas menyengat. Musim kemarau rupanya sudah menunjukkan gelagatnya. Setelah dua hari mengeksplorasi Jember, kami pun melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Perjalanan berjam-jam menunjukkan tanda. Ketika pepohonan yang seperti tengah meranggas mulai bermunculan  menyambut kami, aku langsung tahu tujuan kami sudah dekat. Kami siap mengeksplorasi Taman Nasional Baluran.

Taman Nasional Baluran sudah lama masuk dalam daftar obyek wisata yang ingin kutuju. Akhirnya baru libur lebaran lalu aku berkesempatan jalan-jalan ke Taman Nasional yang dulu bernama Hutan Lindung dan Suaka Margasatwa ini.

Kayaknya sudah dekat nih (dokpri)
Kayaknya sudah dekat nih (dokpri)
Ya kami tiba juga akhirnya ke sini (dokpri)
Ya kami tiba juga akhirnya ke sini (dokpri)
Jam menunjukkan pukul 14.00 lewat ketika kami sampai di gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Kami harus beli tiket terlebih dulu, berupa tiket perorangan dan tiket kendaraan. Tiket hariannya Rp 17.500,- dan untuk tiket masuk roda dua dan roda empat masing-masing sebesarRp 7,5 ribu dan Rp 15 ribu rupiah. Untuk hari kerja maka tarifnya lebih murah Rp 2,5 ribu.

Oh ya mobilnya oleh petugas dicek dulu. Jika mobil jenis sedan maka dicek dulu ground clearance dan jumlah penumpangnya. Mengapa begitu? Karena jalan sepanjang Baluran banyak yang rusak. Jika dipaksa bisa-bisa malah kendaraannya bermasalah. Apabila ditolak masuk maka ada mobil atau motor sewa pengganti.

Oke si Putih lolos. Sebelum berangkat kami pun melihat-lihat koleksi hewan yang sebagian dipajang dalam vitrin bak sebuah museum kecil. Ada ular, elang, kepala rusa, dan cerita sejarah Taman Nasional Baluran ini.

Tempat pembelian tiket masuk sekaligus museum mungil (dokpri)
Tempat pembelian tiket masuk sekaligus museum mungil (dokpri)
Baca Sejarahnya Dulu Yuk

Taman Nasional Baluran ini punya kisah panjang dari hutan lindung dan suaka margasatwa. Apa ya bedanya? Kalau kubaca dari UU no 41 tahun 1999, perbedaan antara hutan lindung,suaka margasatwa, dan taman nasional itu terletak lebih pada fungsinya.

Hutan lindung lebih berfungsi untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Suaka margasatwa bagian dari kawasan suaka alam. Ia berfungsi untuk sebagai tempat hidup satwa khas atau hutan yang memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi. Sedangkan taman nasional merupakan hutan yang luas untuk pengawetan keanekaragaman hayati dan perlindungan alam.

Baluran diambil dari nama gunung, Gunung Baluran. Kisah taman nasional ini dimulai pada tahun 1930 ketika Direktur Kebun Raya Bogor, KW. Dammerman,  mengusulkan Baluran sebagai hutan lindung. Dua tahun sebelumnya, AH. Loedeboer, seorang pemburu di kawasan Baluran menganggap daerah ini cocok sebagai tempat perlindungan satwa. Sejak ditetapkan sebagai hutan lindung, perburuan di daerah Baluran pun dilarang.

Nama Baluran selanjutnya resmi ditetapkan berubah menjadi suaka margasatwa pada tahun 1937 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pada tahun 1962 oleh Menteri Pertanian dan Agraria RI. Kemudian, Baluran menjadi taman nasional pada tahun 1980 oleh Menteri Pertanian.

Taman nasional ini termasuk yang tertua dan memiliki biodiversitas yang tinggi, bersama-sama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, TN Ujung Kulon, TN Komodo, dan TN Gunung Leuser. Seandainya pada tahun 1949 Perum Perhutani tidak menebang habis hutan alam murni tua pohon kesambi dan menggantinya dengan hutan jati maka keragaman hayati di Baluran akan makin lengkap. Sekarang hutan pohon kesambi tidak ditemukan lagi di Indonesia.

Kalau lihat ini seperti melihat salah satu adegan di film Marlina si Pembunuh hehehe (dokpri)
Kalau lihat ini seperti melihat salah satu adegan di film Marlina si Pembunuh hehehe (dokpri)
Hewan-hewan di sini berupa rusa, banteng, monyet, merak, elang, kerbau liar, ayam hutan, macan tutul dan masih banyak lagi. Tentang macan tutul ini menurut salah satu polisi hutan ditengarai masih ada tapi jarang turun dan lebih sering bersembunyi. Oh ya si polhut ini juga bercerita jika ia pernah menemui jejak ajag, tapi jarang muncul.

Usai berkeliling museum mini tersebut, si Putih siap tempur untuk melakukan off-road. Rupanya jalanannya memang banyak yang tak mulus.

Sepanjang jalan kami disambut oleh tanaman yang kering seperti meranggas. Kemudian di bagian tengah, kami mendapati kawasan evergreen. Di antara pepohonan yang nampak meranggas terdapat hutan yang tanamannya selalu hijau. Setelah melewati evergreen kami kembali melalui pepohonan yang seolah-olah meranggas.

Mulai masuk kawasan evergreen (dokpri)
Mulai masuk kawasan evergreen (dokpri)
Wah beberapa bagian jalan begitu rusak sehingga kami harus berpindah ke sisi jalan. Di depan kami nampak mobil pickup yang berupaya tetap gagah menempuh jalan yang kurang syantik ini. Melihat mereka entah kenapa jadi ingat adegan di film Marlina Si Pembunuh. Agak-agak mirip begitu dengan latarnya yang gersang.

Setelah menempuh jalan yang kurang nyaman, kami kemudian disambut monyet. Lho kok monyet? Bukan rusa atau kerbau liar?

Disambut monyet (dokpri)
Disambut monyet (dokpri)
Waduh monyetnya penuh semangat (dokpri)
Waduh monyetnya penuh semangat (dokpri)
Hutan sabana yang eksotis membentang di kanan kiri. Indah dan tempat inilah yang dituju bagi wisatawan yang ingin mencicipi rasa Afrika sehingga disebut Africa van Java. Namun, perhatianku lagi-lagi teralihkan oleh para monyet.

Mereka berlarian setiap kali ada kendaraan mendekat. Tampang mereka itu seolah-olah cerdas, bisa menduga jika ada kendaraan berarti ada manusia dan bakal ada makanan.

Duh aku jadi was-was. Aku punya pengalaman beberapa kali kurang enak dengan monyet. Aku jadi was-was.

Monyet-monyet itu memandangku dengan penuh minat. Wah tas mba itu kayaknya penuh makanan enak, mungkin seperti itu pikiran mereka. Untung pasanganku tahu aku was-was dan melindungiku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3