Mohon tunggu...
Dewi Silitonga
Dewi Silitonga Mohon Tunggu... Sedang dipikirkan

Pemilik doorsmer

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Memangnya Kalau Belum Menikah Itu Hina Banget, Ya?

12 Juni 2019   20:02 Diperbarui: 12 Juni 2019   20:10 0 4 1 Mohon Tunggu...

Baru-baru ini saya dapat pengalaman buruk dari seorang bapak. Bapak ini memang pelanggan di usaha saya. Hanya jarang ngobrol. Saat itu saya berdiri di sampingnya. Dan pembicaraan pun mengalir

"Anakmu berapa?"

"Tidak ada, pak"

"Suamimu?"

"Tidak ada. Saya belum menikah"

"Orang seusiamu anaknya sudah besar-besar lo..."

Saya senyum saja. Si bapak melanjutkan pembicaraan.

"Kamu jadi selingkuhan atau istri simpanan saja. Biaya hidup dijamin. Tidak perlu capek -capek kerja kayak gini. Di Batam ini banyak yang begitu".

Saya memilih meninggalkan bapak itu dan melakukan pekerjaan lain. Ide macam apa ini?. Entah setan apa yang merasuk si bapak.

Pernah juga saya diwawancara di sebuah perusahaan. Perusahaan ternama punya reputasi bagus. Seperti wawancara pada umumnya, nama saya dipanggil, dipersilahkan duduk. Sipewawancara membaca cv saya. Dan kalian tau dia bilang apa? "Umur kita hampir saya, kamu belum menikah padahal anak saya sudah besar, sudah mau kuliah. Saya sudah punya rumah, kendaraan, jabatan, dan kamu masih melamar? Saya tau tipe perempuan seperti kamu, pasti kamu pingin menaklukkan orang, mandang rendah laki-laki ...". Saya sudah lupa sebagian. Dan kalimat itu diulang ulang. 

Ini wawancara apa? Saya ko nggak ditanya-tanya. Malah terdengar seperti penghakiman. Seketika itu juga penilaian saya terhadap perusahaan itu berubah total. Diakhir wawancara dia mengaku anaknya masih sd. Emangnya saya peduli?.

Dan ada lagi yang lebih buruk. Saat saya pulkam, teman mendiang mama saya lewat depan rumah. Saya menyapa dan menanyakan kabarnya. Dan tau responnya apa?. "Kamu itu perempuan, tidak berharga kalau hidup sendiri. Kalau menikah barulah bernilai, berharga, dan berguna di keluarga maupun masyarakat". 

Pernah juga teman lama yang baru ketemu di fesbuk. Setelah bertukar nomor telepon. Saya menanyakan kabar langsung dibalas dengan menanyakan anak saya ada berapa. Saya jawab jujurlah. Dia langsung bilang, "kau bodoh sekali. Tak habis pikir lihat kau. Orang sudah nikah dua tiga kali, kau sekalipun belum. Kenapa? Kau lebih suka uang ya? Tidak terpikir lagi mau kawin?...".  Saya akhiri telepon dengan, "sudah ya, kalau kamu sudah bisa ngomong pake bahasa yang baik, kita bisa bertelepon lagi".

Keluarga saya saja tidak pernah komplen, ribut mengenai saya. Semua sepakat, kalau saya senang tak apa. 

Menanyakan status tentu saja boleh. Kenalin kek, doain. Bukan ngatain yang tidak-tidak. Apalagi kasih ide konyol.