Hijau Artikel Utama

Mimpi untuk Lingkungan yang Lestari

23 Mei 2017   21:15 Diperbarui: 24 Mei 2017   15:08 654 3 1
Mimpi untuk Lingkungan yang Lestari
Ilustrasi. Komunitas Bedog Lestari

Bisa jadi Anda sering menemukan pertanyaan berikut ini, atau minimal pertanyaan-pertanyaan ini hinggap di kepala. 

Kenapa kelestarian lingkungan penting untuk dicapai? Bagaimana mencapai lingkungan yang lestari? Seperti apakah gambarannya lingkungan yang lestari tersebut? 

Tulisan ini sedikit banyak mencoba untuk menjawab pertanyaan di atas. Selamat membaca. 

Pentingnya lingkungan yang lestari

Hubungan manusia dan lingkungannya seperti manusia dengan tempat tidurnya. Tempat tidur sebagai benda mati tak memerlukan manusia. Namun, manusia-lah yang memerlukannya. Bagaimana kita tidur bila tempat tidur tak ada di sana?

Lingkungan menopang kehidupan manusia, meskipun seringkali manusia tak menyadarinya. Bagaimana manusia hidup bila lingkungan tak ada lagi di sana?

Setiap manusia hendaknya membantu lingkungan untuk bersuara. Sebab, lingkungan tak bisa menyuarakan penderitaannya. Tugas manusia selain menyuarakan dan menjaga, setidaknya juga tidak semakin merusaknya.

Berbagai pelayanan dari lingkungan yang telah kita nikmati sehari-hari hendaknya tak membuat kita lupa dan terlena. Melupakan generasi mendatang yang juga berhak untuk menikmati berbagai layanan dari lingkungan selayaknya apa yang kita nikmati saat ini.

Jejak langkah manusia terhadap lingkungan sungguh mengerikan. Setiap hari, hutan yang ditebang di daerah tropis termasuk Indonesia adalah seluas 40 kali lapangan sepak bola. Bila hal ini terus berlanjut, barangkali generasi mendatang tidak akan tahu lagi seperti apa keanekaragaman hayati di dalam hutan yang lestari.

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi diperkirakan akan mencapai angka sembilan milyar pada tahun 2050. Di sisi lain, bumi yang kita tinggali dan lingkungannya tidak bertambah. Berbagai penelitian menyimpulkan, manusia saat ini sudah memerlukan satu setengah bumi; dan pada tahun 2050 kita akan memerlukan dua buah bumi untuk menyokong kehidupan seluruh manusia. Ke mana kita harus mencari lingkungan selain bumi untuk menopang semua manusia itu?

Sembilan milyar bukanlah angka yang sedikit. Mereka semua memerlukan udara, makan, air, dan tempat tinggal. Di samping itu, mereka juga membutuhkan berbagai fasilitas pendukung. Selain itu semua, tidak kalah pentingnya mereka juga memerlukan lahan untuk membuang hajat. Apakah bumi bisa memenuhi semua kebutuhan itu?

Jumlah manusia yang demikian banyaknya itu kebanyakan tinggal di kota. Di antara mereka ada yang hidup berkecupukan di apartemen atau perumahan yang mewah. Namun, banyak juga yang harus hidup berhimpitan di gang-gang kecil, di pinggir sungai, di bawah rel dan jalan layang.

Memenuhi kebutuhan dasar bagi manusia di kota itu bukanlah persoalan yang sepele. Bahan makanan dan air bersih didatangkan dari tempat-tempat yang jauh. Kota tempat mereka tinggal tidak mungkin menghasilkan itu semua. Sistem transportasi dan penyimpanan makanan pun didesain. Sebuah deraan lagi bagi lingkungan untuk mendukung sistem itu berjalan. Minyak bumi untuk memastikan trasportasi makanan dari pinggiran ke kota bisa dilakukan. Penyedotan air di pegunungan dilakukan secara besar-besaran agar orang-orang di kota bisa minum dan mandi. Lahan pertanian di pinggir kota diubah untuk membangun gudang atau pasar atau tempat perbelanjaan di mana barang-barang kebutuhan bisa disimpan dan diperjualbelikan.

Pinggir kota dan desa-desa selalu menjadi daerah yang dikorbankan. Penduduknya banyak yang pindah ke kota dan meninggalkan lahan-lahan pertanian. Satu saat nanti, bila semua sudah di kota, siapa yang akan menanam tanaman untuk pangan orang di kota?

Menuju lingkungan lestari

Kelestarian lingkungan adalah jalan satu-satunya bila manusia ingin terus hidup. Lingkungan yang lestari adalah peninggalan terbaik manusia yang hidup saat ini kepada generasi mendatang. Bukan pertumbuhan ekonomi, hak asasi, kebebasan beragama, terorisme, atau isu-isu kemanusiaan lain yang perlu diperhatikan. Semua itu tidak akan berarti sama sekali bila lingkungan telah rusak dan manusia punah karena tidak bisa makan, minum, dan buang hajat.

Manusia modern hendaknya mulai mengalihkan pandangannya ke lingkungan di sekitarnya. Mereka sebisa mungkin menyadari dari mana udara yang dihirup, dari mana datangnya makanan di atas meja, dari mana asal air yang keluar dari keran, atau pun ke mana kotoran-kotoran mereka harus dibuang.

Setelah kesadaran itu tumbuh, mereka pun bisa mulai dengan hal-hal sederhana. Menanam pohon di rumah untuk memenuhi kebutuhan udara segar atau bahan makanan sederhana seperti cabai, tomat, dan sayur-mayur. Menyangkut penghematan air, mereka bisa mempersingkat waktu mandi agar air tidak banyak yang terbuang percuma. Dalam hal pengelolaan sampah, mereka bisa mendaur ulang dan menggunakan kembali plastik, botol, dan sampah-sampah lainnya.

Kota dengan berbagai teknologi dan fasilitas yang tersedia harus mulai melirik ke berbagai peralatan yang ramah lingkungan dan hemat listrik. Sumber listrik pun sudah harus beralih ke sumber daya alam yang dapat diperbaharui seperti angin dan tenaga surya. Penduduk kota pun hendaknya harus mulai beralih dari sepeda motor dan mobil pribadi ke angkutan publik atau sepeda. Lebih penting, mereka harus lebih banyak menggunakan anugerah Tuhan berupa dua tungkai untuk berjalan kaki.

Semua hal itu hanya bisa dilakukan bila ada dukungan dari pemerintah dan juga dunia usaha. Pemerintah perlu mengeluarkan aturan untuk membatasi laju urbanisasi penduduk desa ke kota. Para petani pun mestinya mendapatkan perhatian, profesi mulia sebagai penyedia pangan selama ini tidak banyak dilirik. Penghargaan kepada mereka harus diperbaiki sehingga banyak yang berminat dan tak perlu pergi dari desanya.

Pemerintah dibantu dunia usaha bisa mengusahakan berbagai fasilitas di kota yang mendukung pelestarian lingkungan. Lahan terbuka hijau dan bukan mall yang hendaknya diperbanyak. Lahan di mana udara segar diproduksi dan keluarga-keluarga bisa bersama-sama menghabiskan waktu dan bukan menghabiskan uang. Jalur-jalur untuk pejalan kaki yang teduh, steril, dan aman yang menyatu dengan jalur untuk pesepeda harus dibangun di samping jalan-jalan utama agar orang tertarik untuk berjalan kaki dan bersepeda. Fasilitas trasportasi untuk publik pun perlu diperbaiki dan diperbanyak agar orang meninggalkan kendaraan pribadinya dan menggunakan fasilitas transportasi umum.

Bila semua pihak bekerja sama dan ada keinginan bersama untuk berubah, maka kelestarian lingkungan bukanlah hal yang tidak bisa dicapai.

Bayangkanlah sebuah kota yang jalan rayanya sepi karena hanya diisi oleh angkutan publik dan bukan sepeda motor atau mobil pribadi. Sebuah kota yang penduduknya berjalan kaki atau bersepeda ke sana kemari. Sebuah kota yang memiliki banyak taman di mana orang tua mengobrol penuh kemesraan dan anak-anak berlari. Taman yang memiliki banyak pohon di mana burung-burung beterbangan dan berkicau riang di dahan yang tinggi. Langit biru di atas sana, ada sungai kecil dengan gemericik beningnya air, angin segar pun berhembus sepoi-sepoi. Bila berbagai pihak bekerja sama, semoga semua itu bisa dicapai dan bukan hanya menjadi mimpi.

oOo