Mohon tunggu...
Sridewanto Pinuji
Sridewanto Pinuji Mohon Tunggu... Penulis Blog

Penulis untuk topik kebencanaan dan lingkungan

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

10 Ancaman Global yang Perlu Diwaspadai Dunia Usaha

3 Maret 2020   16:03 Diperbarui: 4 Maret 2020   10:25 395 1 0 Mohon Tunggu...

Krisis adalah suatu fenomena yang kompleks, memberi dampak korban dan kerugian ekonomi, dan langkah antisipasinya memerlukan keterlibatan banyak pihak.
 
Contoh krisis yang baru-baru ini terjadi adalah peristiwa banjir Jakarta, krisis di Yaman dan Syria, hingga merebaknya virus Korona ke seluruh dunia. Selain itu, perubahan iklim juga menjadi contoh lain dari krisis yang dihadapi umat manusia.
 
Setiap hari kita mengalami risiko krisis yang berbeda-beda. Namun, di antara risiko tersebut ada yang benar-benar menjadi krisis dan ada pula yang tetap menjadi risiko atau tidak berubah bentuk menjadi krisis.  
 
Menurut Allianz Risk Barometer tahun 2020, ada 10 ancaman yang dihadapi oleh dunia usaha dan masyarakat pada umumnya.
 
Ancaman pertama adalah risiko serangan siber. Para pengusaha menghadapi tantangan di sektor siber karena maha data dan mahalnya biaya jika terjadi serangan atau bocornya keamanan siber. Selain itu, krisis siber juga terjadi karena meningkatnya serangan virus dan proses pengadilan yang harus dilalui setelah terjadinya krisis siber tersebut.
 
Dalam dunia politik, krisis siber juga memberikan keuntungan sekaligus dampak yang luar biasa besar bagi warga suatu negara. Di Indonesia, kita dapat melihat dan merasakan bagaimana perang siber ini terjadi, terutama menjelang Pemilu.
 
Ancaman kedua adalah gangguan bisnis karena kebakaran dan bencana alam. Selain bisa mengakibatkan korban, kerugian karena rusaknya perangkat bisnis atau properti juga menjadi suatu hal yang menakutkan.
 
Usaha atau bisnis saat ini juga mengalami ancaman dari pemicu lain, seperti gangguan (disrupsi) platform digital atau teknologi baru (lebih detail bisa dibaca pada ancaman kesembilan), gangguan pada rantai pasok, risiko politik, hingga kondisi lingkungan.  
 
Ancaman ketiga adalah perubahan peraturan atau ketidakpastian hukum yang menentukan iklim investasi di suatu tempat. Ilustrasi dari ancaman ini adalah naiknya status Indonesia sebagai negara maju yang mengurangi berbagai kemudahan ekspor ke Amerika. Selain itu, fenomena seperti Brexit juga menjadi tantangan bagi industri.
 
Ancaman keempat adalah kejadian bencana alam. Banjir di Jakarta, angin topan di Filipina, kebakaran hutan dan lahan hebat di Australia adalah beberapa berita yang menjadi headline akhir-akhir ini.
 
Meskipun secara global kerugian dan asuransi akibat bencana pada tahun 2019 menurun dibanding pada tahun 2017, tetapi risiko bencana masih menjadi risiko ketiga tertinggi di berbagai wilayah. Hal ini terjadi karena kejadian bencana alam sering dipengaruhi oleh kondisi meteorologi, geofisik, klimatologi, dan hidrologi.
 
Ancaman kelima adalah perkembangan pasar. Tahun 2019 ditandai sebagai periode penuh gejolak oleh peneliti ekonomi di Allianz. Selain itu, ketidakpastian karena konflik perdagangan dan kondisi politik akan terus mempengaruhi kondisi pasar. Gabungan antara gejolak (volatility) dan ketidakpastian (uncertainty) menyebabkan arah pasar global sulit diprediksi.
 
Ancaman keenam adalah kebakaran dan ledakan. Meskipun dalam Barometer Risiko Allianz menduduki peringkat keenam, tetapi sebenarnya kebakaran menjadi penyebab pertama kerugian finansial berdasarkan analisis klaim dari perusahaan asuransi AGCS.
 
Banyak perusahaan besar telah berinvestasi untuk mengurangi risiko dengan meningkatkan perlindungan dan pengelolaan risiko. Namun, nilai properti atau aset per meter persegi pada perusahaan atau industri meningkat empat kali lipat selama dekade terakhir.
 
Akibatnya, satu peristiwa kebakaran kecil sudah mampu menyebabkan kerugian dan gangguan bisnis yang sangat besar. Belum lagi jika melihat dampak ikutannya di sektor-sektor terkait industri tersebut.
 
Ancaman ketujuh adalah perubahan iklim dan gejolak cuaca. Pebisnis dan kalangan usaha harus mempertimbangkan seluruh risiko terkait dengan perubahan iklim. Risiko tersebut mencakup dampak pada operasi, reputasi, dan peraturan.
 
Risiko-risiko tersebut menambah ancaman kerusakan fasilitas produksi karena bencana alam. Kendati demikian, antisipasi perubahan pada saat yang sama juga menciptakan peluang dengan tindakan dan investasi yang terukur dan tepat.
 
Ancaman kedelapan adalah hilangnya reputasi atau nilai merek (brand value). Kondisi ini dapat terjadi, misalnya karena skandal pada perusahaan yang mempengaruhi reputasi. Hal ini dapat terjadi karena bermacam hal, seperti serangan siber, media sosial, serta kesalahan (missconduct) perusahaan dan suplier.
 
Perhitungan kerugian reputasi perusahaan cukup sulit dilakukan. Namun, saat reputasi tersebut rusak, nilai pasar (market vallue) dapat langsung kolaps dengan sangat cepat.
 
Saat ini diprediksi lebih dari seperempat krisis karena rusaknya reputasi tersebar hanya dalam waktu beberapa jam saja setelah peristiwa terjadi. Tiga perempat lainnya terjadi dalam kurun waktu 24 jam. Namun, dampak rusaknya reputasi pada pasar saham dapat terjadi lebih cepat di era media sosial seperti saat ini.
 
Kendati risikonya makin meningkat, tetapi berbagai perusahaan belum melakukan perlindungan yang cukup terhadap konsekuensi dari rusaknya reputasi. Perencanaan yang efektif dan pengelolaan risiko semakin penting. Perusahaan dan sektor bisnis juga perlu melakukan respon secara profesional terhadap rusaknya reputasi, karena dapat menentukan dan membuat perbedaan.
 
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nilai sebuah perusahaan dapat meningkat 6% apabila mampu secara efektif mengelola krisis reputasi. Perusahaan asuransi juga dapat meningkatkan pendampingan yang terukur untuk risiko yang tidak terukur. Mereka juga dapat memberikan solusi, seperti perlindungan terhadap pengurangan keuntungan karena penurunan reputasi.
 
Hal lain yang dapat disiapkan untuk menjaga reputasi, misalnya penyiapan biaya rektifikasi dan saran, krisis respon reputasi 24/7, dan strategik laporan analisis media.
 
Ancaman kesembilan berasal dari teknologi yang baru. Kendati teknologi baru juga memicu hadirnya peluang-peluang baru untuk dunia bisnis dan usaha, tetapi kehadirannya juga mampu menghadirkan dampak yang tidak diharapkan.
 
Sebagai ilustrasi adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence). Teknologi ini menjadi pengubah arah di berbagai industri. AI memungkinkan dunia usaha untuk meningkatkan efisiensi, pembuatan produk baru, dan melakukan pekerjaan yang berulang-ulang.
 
Namun, pemanfaatan AI juga menimbulkan ancaman risiko yang besar di masa datang. Mesin-mesin terkomputerisasi dikhawatirkan akan mampu membuat keputusan sendiri atas nama manusia.
 
Persoalan yang kompleks dari teknologi baru juga bisa terjadi karena transfer pengambilan keputusan, tidak transparan, ditambah kesilapan manusia dalam melihat risiko dan ketidakmampuan memprediksi dampak di masa depan. Sebagai tambahan, persoalan etik dan sosial dari penggunaan kecerdasan buatan juga masih menjadi perdebatan serius.
 
Ancaman terakhir atau kesepuluh adalah perkembangan kondisi ekonomi makro. Pemerintah di berbagai negara dunia menghadapi resesi dan pertumbuhan ekonomi yang konstan. Kondisi itu masih ditambah dengan adanya krisis dan gejolak politik di berbagai negara.
 
Ancaman dalam bidang ekonomi lainnya di antaranya adalah ketidakefektivan stimulus menghadapi kerentanan global dan kebijakan moneter. Selain itu, adanya akumulasi hutang menjadi ancaman serius di beberapa negara maju.
 
Tidak kalah penting, perekonomian global juga berisiko, bahkan sudah terdampak akibat merebaknya virus Covid-19. Negara-negara di dunia kini tengah melakukan upaya mitigasi dampak virus tersebut pada perekonomian masing-masing.
 
Di antara 10 risiko tersebut di atas, manakah yang paling membuat Anda khawatir dan upaya apa yang sudah Anda rencanakan atau lakukan?

VIDEO PILIHAN