Capt Maha Dewa Agni Jatayu
Capt Maha Dewa Agni Jatayu Captain Pilot

Seorang Pilot & Pekerja Sosial Profesional Pengamat Dunia Penerbangan Sipil & Militer Menulis Hanya Untuk Berbagi Pengalaman & Ilmu Bermanfaat " TIDAK BERPOLITIK " Hidup Hanya Untuk Dunia & Akherat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Yang Tidak Ingin Saya Lakukan Lagi Sebagai Pilot

29 Oktober 2018   09:51 Diperbarui: 12 November 2018   07:19 3959 37 19
Yang Tidak Ingin Saya Lakukan Lagi Sebagai Pilot
pixabay

Seperti yang kita ketahui secara umum atau garis besar, kehidupan seorang penerbang atau pilot, di gambarkan adalah sosok pribadi yang mempunyai keberuntungan dalam segala hal di kehidupan. Di antaranya adalah bisa terbang ke mana saja, punya uang banyak, seragam bagus, pramugari cantik, dll sebagainya.

Pernyataan di atas bisa dibilang benar juga bisa di bilang salah, tak mengapa. Tapi sejujurnya seseorang yang menjadi pilot adalah karena faktor takdir dari Allah SWT, selain memang suka terbang.

Karena tidak ada pekerjaan atau pun yang kita lakukan sebagai seorang manusia yang tidak luput dari yang namanya takdir dari Allah SWT. Suka tidak suka itulah kenyataan yang ada dan harus kita terima apa adanya.

Bagaimana dengan kesukaannya dengan terbang atau menerbangkan pesawat ? Jawabnya ya mudah saja, memang kami suka terbang dan akan tetap menyukainya hingga akhir menutup mata.

Saya tidak ingin berdebat kusir dengan hal di atas. Oleh karena itu kita langsung saja pada pokok tulisan saya kali. Ini berdasarkan pengalaman nyata (Before Airbus A 320 Air Asia - QZ 8501) pribadi saya, yang tidak ingin saya ulang lagi di masa sekarang atau pun akan datang.

Suatu ketika (beberapa tahun yang lalu - 2012) saya dan Co Pilot melakukan penerbangan pada jam 08.15 pagi hari, dengan cuaca yang cukup bagus. Istirahat saya dan Crew juga cukup baik, sesuai dengan standar yang  di persyaratkan.

p6-5bd7962443322f0f1362cee2.jpg
p6-5bd7962443322f0f1362cee2.jpg
Masuk Cockpit, kami kemudian langsung duduk di kursi masing-masing, kebetulan hari itu saya bertindak sebagai Captain & Pilot In Command duduk di sebelah kiri dan Co Pilot sebelah kanan Cockpit. Kami melakukan pemeriksaan Cockpit dan mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan penerbangan.

Sebelumnya pesawat yang akan kami gunakan (Airbus A 321 Neo - Regesterasi USA Country) telah melakukan pendaratan pada jam 06.30 pagi dari California, Amerika. Para crew sebelumnya telah turun dan kemudian otomatis pesawat diserahkan kepada pihak mekanik perusahaan.Untuk di lakukan Fre Flight Maintenance sebelum terbang kembali ke tujuan berikutnya.

Setelah para penumpang (129 orang) naik dan pintu di tutup oleh pihak Ground Crew, sebelum pesawat di push back ke posisi untuk melakukan taxi dan sambil ke-2 mesin pesawat di hidupkan, tiba-tiba saya lihat ada peringatan mengenai Rudder Travel Limiter dari Elektronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM).Secara naluri saya langsung bertindak untuk menghentikan proses Push Back dan meminta agar pesawat Return To Apron atau kembali lagi ke Parking Stand untuk melakukan pengecekan dan perbaikan atas masalah tadi di atas.Hal ini lumrah saya lakukan sebagai Captain Pilot pesawat yang menjadi tanggung jawab saya.Karena apa bila pesawat telah Move On Its Own Power, mengalami gangguan atau kerusakan.Maka berdasarkan Good Air Man Ship yang saya miliki, saya bisa mengambil keputusan Go Or Not To Go (Membatalkan Atau Melanjut kan penerbangan) Sebab dalam dunia penerbangan Safety First adalah segalanya.

Pihak mekanik langsung melakukan perbaikan Trouble Shooting Manual, dengan mencabut CB computer pesawat (FAC 1 & 2) sembari melakukan test IBITE. Dan akhirnya masalah tersebut bisa teratasi.Perbaikan tidak sampai 15 menit & di acc untuk kembali melanjutkan penerbangan.Tidak ada catatan khusus dalam masalah ini, hanya pihak mekanik menyatakan apabila nanti sudah landing di tempat tujuan agar melaporkan hal ini pada mekanik setempat.Saya hanya mengiyakan & kemudian menulisnya di dalam Aircraft Log Book, sebagai bagian dari prosedure yang berlaku.  

Kami lalu melakukan lepas landas dengan baik. Semua terkontrol dengan baik, sampai akhirnya pada waktu pesawat melakukan pendakian pada 15000 ft. pesan sama yang keluar dari ECAM kembali muncul.Saya teringat dengan yang di lakukan oleh pihak mekanik perusahaan pada waktu mengatasi hal ini.Dengan (Reaksi Spontan) sigap saya melakukan pencabutan CB dengan maksud mereset FAC pesawat.

Beberapa saat kemudian pesan itu hilang, tapi sekitar tiga menit kemudian muncul lagi.Anehnya kembali saya melakukan reset dengan cara yang sama, untuk mengatasi hal tersebut! Saya hanya telah melakukan perbuatan mencontoh apa yang di lakukan oleh pihak tekhnisi tanpa tahu akibat terusannya (Kesalahan & Kebodohan Saya) .Ketinggian pesawat pada waktu itu sekitar 17500 ft.Secara kalkulasi telah terjadi tiga kali kejadian yang sama pada masalah yang sama juga ! Serta tindakan yang sama pula !

p8-5bd7967a43322f0f1401b756.jpg
p8-5bd7967a43322f0f1401b756.jpg
Dalam pikiran & hati saya yang paling dalam, saya bertanya : Gejala kerusakan apa ini sebenarnya ? Bisakah saya mengatasinya ?

Co Pilot saya bertanya kepada saya apakah tindakan saya saat itu bisa mengatasi masalah yang terjadi ? Layaknya seorang Captain Pilot yang telah mempunyai ribuan jam terbang dan pengalaman yang banyak, spontan (Sedikit Memaksa Berbohong) saya menyatakan, "Semua Oke Dan Bisa Teratasi Dengan Baik ". Astaga apa yang telah saya lakukan barusan ? Mulai di sinilah saya melakukan "Kebohongan" yang akan berakibat fatal pada beberapa menit dan detik ke depan.

Sejujurnya saya melakukan itu karena (Mungkin) untuk menyatakan pada bawahan secara garis besar bahwa, sayalah yang berkuasa dan saya sangat berpengalaman akan segala hal yang ada dalam pengawasan kerja saya.

Co Pilot saya pun tidak menyanggah ucapan saya karena (Mungkin) sungkan dengan saya. Lagi pula, menurut saya, apa yang saya lakukan adalah demi (Ego) menunjukan dominasi besar dan superioritas saya dalam pekerjaan sebagai seorang pilot di perusahaan penerbangan ini. Namun harapan terbesar saya yang utama adalah untuk menenangkan Co Pilot saya yang masih baru saat itu.Sebenarnya dalam penerbangan ini, CockpitRecources Management yang tepat guna dari perusahaan harus di jalan kan oleh saya.Tapi saya telah khilap melakukan sesuatu yang seharusnya bisa saya tidak lakukan (Saya Menyesalinya). 

q22-5be8c71b677ffb4a43404f14.jpg
q22-5be8c71b677ffb4a43404f14.jpg
ECAM secara continue menyalakan pesan R.T.L. Tanpa saya sadari, ternyata pesawat telah berguling ke kanan dengan kecepatan kurang lebih sekitar 9 - 10 derajat per detik.Akibatnya pesawat berbelok secara ekstrim hingga 69 derajat ! (Kejadian Ini Hampir Sama Persis Dengan Kejadian Airbus A 320 Air Asia - QZ 8501 - Pada Tanggal 28 Desember 2014) Pesawat menjadi oleng & seperti mempunyai nyawa sendiri yang seakan berontak ingin lepas dari kami.Tidak cukup dengan kejutan itu, Alarm peringatan utama berbunyi nyaring di dalam Cockpit ! Saya sangat kaget & bingung dengan kejadian yang mendadak itu.Untungnya lagi saya segera menguasai diri & menyadari hal tersebut.Kalau tidak entah bagaimana akhir jalan ceritanya.Walau pun sempat panik, saya dan crew langsung bereaksi cepat untuk melakukan Recovery Procedure.

Saya tidak tahu persis, bagaimana dengan situasi serta kondisi para penumpang dan Flight Attendant yang ada di cabin.Tapi yang jelas (Berdasarkan Keterangan F.A Setelah Kejadian) suasana di cabin menjadi berantakan seperti habis di landa topan kecil ! Semua penumpang berteriak histeris, namun kemudian menjadi terdiam & sunyi dengan segala aktivitas yang bisa menenangkan diri mereka (Maafkan Saya) Yang pasti pihak F.A berusaha membantu mereka dengan segala apa yang bisa mereka lakukan pada saat itu.  

Berdasarkan hasil analisa, bahwa kejadian Ini di akibatkan karena pada waktu FAC 1 & 2 saya reset maka posisinya telah berubah dari kondisi normal menjadi Alternate Law (Sejumlah Proteksi Mati) sehingga sistem Auto Pilot pesawat dan Auto Trush menjadi tidak bekerja sebagai mana mestinya.Perlu di ketahui, pungsi dari Flight Augmentation Computer(FAC) adalah di antaranya membatasi gerak Rudder (Kendali Serong), Aileron (Kendali Guling), Elevator (kendali angkat).Sebenarnya berdasarkan yang saya ketahui jika ke 2 FAC ini mati maka sebenarnya pesawat masih bisa di terbangkan seperti biasa.Hanya saja pengendaliannya menjadi manual & tidak automatis seperti menggunakan Auto Pilot..

Kejadian berikutnya terdengar suara agak keras & mesin pesawat sebelah kanan tiba - tiba mati ! Tentu saja ini merupakan hal yang jarang terjadi saya alami, rentetan kejadian ini memerlukan penanganan extra cepat & tepat untuk mengatasinya.Kami coba melakukan prosedur penyalaan kembali mesin yang mati tersebut.Kami melakukan Engines Restart, antara 6 atau 7 x percobaan (Lupa Tepatnya)  Yang pada akhirnya mesin tersebut bisa di hidup kan kembali & berpungsi dengan normal seperti sedia kala ! Sekarang tinggal bagai mana mengatasi masalah yang terakhir & akan menentukan nasib kami berikutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3