Mohon tunggu...
Devi Putri Pertiwi
Devi Putri Pertiwi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

@devipertiwip

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Sekantung Cabai Benih Kebaikan | Artikel Pengalaman Pribadi

21 September 2022   15:24 Diperbarui: 21 September 2022   15:36 158 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Sekantung Cabai Benih Kebaikan

Merasa hidup saya adalah kehidupan yang paling sengsara berarti saya tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan pada saya. Bukankah Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya? Sesekali saya lihat perjuangan orang-orang di luar sana untuk mengukir senyum di bibir mereka yang Ia cinta atau sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan. Sama halnya dengan saya, mereka punya kesulitan masing-masing. Tentunya sesuai dengan porsi yang diberikan-Nya.

Membahas perjuangan dengan kesulitan di dalamnya, teringat nenek yang saya temui ketika saya pergi ke warung. Nenek tersebut sudah dikenali masyarakat di desa saya karena mengalami gangguan jiwa. Nenek tersebut juga hidup sebatang kara karna tidak memiliki anak. Kaki dan tangan nenek itu penuh dengan luka karena gatal-gatal. Nenek tersebut membawa sekantung cabai. Nenek tersebut menawarkan cabai tersebut kepada pemilik warung tanpa menyebutkan harga yang Ia inginkan, mungkin karena Ia tidak tahu berapa harga untuk jumlah cabai yang sangat sedikit itu.

Pemilik warung tersebut secara spontan menolak permintaan nenek tersebut dengan alasan stok cabai miliknya masih banyak, padahal jumlah cabai yang ditawarkan sangat sedikit dan tidak akan berpengaruh banyak terhadap stok cabai miliknya. Mungkin jika cabai tersebut dijual sesuai dengan harga jual cabai saat ini hanya seharga Rp 2000. Akhirnya nenek tersebut pergi. Rasa iba menghampiri saya. Namun karena jumlah uang yang saya bawa waktu itu hanya cukup untuk membeli barang yang akan saya beli di warung itu, sehingga saya hanya diam.

Sambil menunggu barang yang saya beli diambilkan oleh pemilik warung saya melihat nenek tersebut masih sibuk menawarkan cabai tersebut kepada orang-orang di pinggir jalan. Namun sayangnya tidak satu pun dari mereka yang mau membelinya. Akhirnya saya pulang dengan perasaan iba yang masih memenuhi pikiran saya. Kemudian saya terpikir untuk mengambil sejumlah uang di rumah dan kembali menghampiri nenek tersebut. 

Ketika saya bertemu nenek itu, cabai yang Ia tawarkan tadi masih ada di kantong plastik yang Ia bawa. Kemudian saya turun dari sepedah motor saya, kemudian menghampiri nenek tersebut. Saya bertanya kepada nenek tersebut berapa harga yang Ia inginkan untuk cabai yang Ia bawa. Kemudian saya menawarkan sejumlah uang kepada nenek tersebut, namun Ia menolak karena Ia merasa harga yang saya tawarkan terlalu mahal. Namun akhirnya nenek tersebut menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

Tersentuh sekali hati saya melihat senyum nenek tersebut. Lalu saya berpikir, dimana hati manusia-manusia itu. Cabai dengan jumlah yang sedikit sekali tak satu pun dari mereka yang mau membeli. Nenek tersebut pun tak menyebutkan harga yang Ia minta. Apakah memang dunia ini sudah miskin kepedulian? Atau kehidupan mereka yang tak mau membeli cabai tersebut tak jauh berbeda dari kehidupan nenek itu? Saya rasa tidak. Memang harga yang saya tawarkan tidak banyak, tapi mungkin bisa membantu untuk nenek itu. Dari sini saya mengerti satu hal, Tuhan tidak akan membiarkan makhluk-Nya terlantar di dunia, karena Tuhan menyayanginya. Tuhan akan memberikan perantara agar makhluk-Nya bisa tetap hidup hingga batas waktunya masing-masing. Perantara tersebut salah satunya kita, manusia yang peduli sesama.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan