Mohon tunggu...
Devi Meilana Trisnawati
Devi Meilana Trisnawati Mohon Tunggu... Pengajar - Seorang Ibu Rumah Tangga, Pengajar Paruh Waktu dan Blogger

Pengagum Berat Westlife. Menaruh cinta pada dunia Ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Karier Cemerlang Tanpa Menyiksa Diri? Hai "Workaholic", Ikuti Ritual Ini!

23 April 2018   23:33 Diperbarui: 24 April 2018   09:27 1091
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya paham, bagi anda yang sedang berada di zona usia produktif, anda akan selalu mengedepankan kepentingan yang berkaitan dengan karir anda. Namun, jangan sampai, tindakan tersebut menjadi candu bangi anda. Kenapa? Karena anda bisa disebut sebagai seorang workaholic. Workaholic akan menganggap kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung perkembangan karirnya, adalah "wasting time" alias tidak penting.

Bahkan, bila workaholic tidak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaannya, ia akan cemas. Workaholic akan bekerja lebih dari jam kerja normal. Selain itu, workaholic akan mengabaikan aspek lain dalam hidup selain yang berkaitan dengan pekerjaan.Anda Apakah anda termasuk orang yang seperti itu? Gosh, maka anda termasuk workaholic! Anda gila! Tepatnya gila terhadap pekerjaan anda!

Berhentilah menyiksa diri anda! Sayangi diri anda! Apakah dengan bekerja penuh tanpa menatap sisi kehidupan lainnya, anda akan sukses dalam hidup? Karir anda akan cemerlang? Anda akan banyak uang? Lalu anda akan bahagia? Oh belum tentu!

Negara-negara yang warganya menyandang status workaholic terbanyak menurut survei yang dilakukan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan hingga Kanada bukan berarti menjadi negara paling produktif. Bukan jaminan mereka menjadi bahagia. Di Jepang sendiri, Karoshi yang merupakan nama lain dari workaholic, telah membuat 1000 orang meninggal setiap tahunnya.

Keroshi (Workaholic di Jepang) menjadi penyebab kematian di Jepang (sumber: thevocket.com)
Keroshi (Workaholic di Jepang) menjadi penyebab kematian di Jepang (sumber: thevocket.com)
Mengerikan bukan? Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena workaholic hanya fokus  pada satu aspek, yaitu ekonomi yang tujuannya bermuara pada prestis atau gengsi. Bagaimana dengan aspek lain seperti kesehatan dan sosial? Ya! Mereka akan mengabaikan kedua hal tersebut. Aspek kesehatan sangat perlu diperhatikan karena berkaitan dengan tubuh anda. Tubuh yang sehat akan memberikan semangat dan energi positif yang merangsang otak untuk berpikir positif juga.

Aspek sosial juga akan memberikan dampak bahagia. Interaksi kepada lingkungan sekitar akan memberikan anda pelajaran baru secara moral dari orang-orang yang tidak anda duga. Bahkan belum anda jumpai sebelumnya. Mereka dengan senang hati berbagi pengalaman bagaimana mencegah suatu masalah bahkan mengatasi bila masalah itu sampai terjadi.

Bagaimana agar aspek kesehatan dan sosial bisa tetap dijalani meski berhadapakan dengan pekerjaan yang menumpuk? Jawabannya adalah lupakan kompetisi sejenak! Jalani GAYA HIDUP SEHAT. Sehat secara fisik dan juga secara psikis. Namun, bagaimana menerapkan keduanya? Maksudnya sambil menyelam, minum air ? Bisa! Coba, terapkan ritual di bawah ini!

1. Mencari Role Model

Carilah role model yang mampu memberikan motivasi anda untuk bergaya hidup sehat. Bila anda mengidolakan  seseorang, jangan lupa cari tahu gaya hidup sehat yang diterapkan oleh role model anda.

Di Indonesia, ada beberapa public figure yang menjadi icon gaya hidup sehat, seperti Dian Sastro, Melani Putria, Nadine Chandrawinata hingga Choky Sitohang. Mereka adalah tokoh-tokoh yang menerapkan gaya hidup sehat dengan disiplin dan teratur.

Nadine Chandrawinata adalah salah satu figur yang dapat memotivasi anda untuk hidup sehat (sumber: kompas.com)
Nadine Chandrawinata adalah salah satu figur yang dapat memotivasi anda untuk hidup sehat (sumber: kompas.com)
2. Bergabung dengan Komunitas

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun