Mohon tunggu...
Deva Yohana
Deva Yohana Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Pecinta buku, sastra dan bahasa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Strategi Membangun Budaya Baca di Desa

23 Juni 2021   22:24 Diperbarui: 24 Juni 2021   00:51 60 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Strategi Membangun Budaya Baca di Desa
Photo by Olia Danilevich from Pexels

Adanya masyarakat pembelajar merupakan prasyarat agar menjadi bangsa yang maju dan berkembang. Salah satu indikator dari adanya masyarakat pembelajar adalah masyarakat yang gemar membaca. Benar adanya bahwa membaca adalah jendela dunia. Kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke Amerika untuk tahu bagaimana sejarah, kebudayaan maupun bahasanya. Cukup dengan membuka buku yang membahas tentang Amerika sudah bisa kita dapatkan banyak informasi tentang apa saja yang ada di sana.

Jika tubuh kita mendapatkan energi dari makanan, raga kita menjadi kuat dengan rajin berolahraga, maka jiwa kita membutuhkan ilmu dan pengetahuan sebagai pelepas dahaganya dan   salah satu caranya adalah dengan banyak membaca.  

Marilah kita lantangkan kepada dunia bahwa 'membaca buku itu penting!' pasti tidak akan ada yang membantahnya. Oleh karena itu, menjadi beralasan bagi kita orang-orang dewasa untuk mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Dengan membiasakan kegiatan membaca sejak dini tentu akan membuat mereka mudah dalam mempelajari apa pun, termasuk meningkatkan prestasi akademik di sekolah.

Kenyataan yang terjadi di lapangan sungguh berbeda, terutama bagi anak-anak desa. Mungkin bisa dihitung jari anak-anak yang sekarang ini lebih memilih menghabiskan waktu mereka dengan membaca buku dari pada bermain HP. 

Di depan rumah, di rumah tetangga, di depan warung, atau bahkan di pinggir jalan sangat lazim kita menjumpai anak-anak sedang bermain gawai. Semoga saja kita tidak sedang salah sangka dengan menuduh mereka bermain game padahal mereka sedang membaca buku elektronik di HP. Kan dosa juga kalau nuduh!

'Yang penting bisa baca', 'minat baca', dan 'budaya baca' merupakan tiga hal yang berbeda. Tahap 'yang penting bisa baca' adalah tahap pertama seseorang dalam melalui fase membaca. Ini merupakan tingkatan membaca secara teknis. 

Tidak ada kebutuhan khusus dari orang tersebut terhadap bahan bacaan. Tahapan kedua adalah 'minat baca'. Namanya juga minat yang dibaca adalah sesuatu yang diminati, yang berhubungan dengan pekerjaan atau studi yang sedang ditempuh. 

Tahapan ini disebut sebagai tahapan membaca secara fungsional, sudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan. Nah, yang terakhir adalah 'budaya baca'. 

Pada tahap ini, membaca sudah melebur dalam diri seseorang, menjadi gaya hidupnya. Ia butuh membaca sebagaimana ia butuh makanan sehingga aktivitas membaca tidak bisa dilewatkan barang satu hari pun. Pada tahap ini seorang pembaca tidak lagi memilah bacaan apa yang harus dikonsumsi, membaca apa saja oke. Pertanyaannya, sudah sampai tahap manakah kita?

Membangun budaya baca di desa sangatlah penting. Jangan sampai kita terutama anak-anak  ditaklukkan oleh kemajuan teknologi yang berdampak buruk bagi masa depan. Karena kita sebagai warga desa pun memiliki potensi yang sama dengan mereka yang tinggal di Jakarta, Surabaya bahkan Amerika. Diperlukan strategi dan kerja sama dari berbagai pihak untuk bisa mewujudkan ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kesadaran orang tua 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN