Mohon tunggu...
Detha Arya Tifada
Detha Arya Tifada Mohon Tunggu... Editor - Content Writer

Journalist | Email: dethazyo@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Liburan Anti Ribet, Berjumpa Langsung dengan (Monumen) Pahlawan dari Batavia

6 Juni 2019   12:33 Diperbarui: 6 Juni 2019   12:39 122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Monumen Kepala Peter Erberveld/ dethazyo

Strategi pembangunan monumen dapat dikatakan efektif. Kenapa? Karena setelah kejadian itu, hampir tak ada lagi pemberontakan melawan kompeni di Batavia. Itu diungkap oleh Mayumi Yamamoto dalam buku yang sama dengan William Bradley Norton, Pahlawan dari Batavia.

Saking istimewanya monument ini, Kaneko Mitsuhari dalam Kaneko Mitsuharu shishu (antologi Kaneko Mitsuharu), turut mengungkap bahwa keistimewaan utama Batavia bukanlah patung perunggu Gubernur Jendral sekaligus pendiri Batavia, Jan Pieterszoon Coen, bukan juga gerbang kemenangan. Karena keistimewaan utama itu adalah kepala Pieter Erberveld.

Mengunjungi dan Melihat Langsung Monument Erberveld

tengkorak yang ikonik/ dethazyo
tengkorak yang ikonik/ dethazyo
Atas keistimewaan cerita dari monument Erberveld, diri pribadi pun ikut-ikutan ingin mengunjungi dan mempelajari langsung sesuatu yang dulunya sempat diagung-agungkan sebagai simbol kemerdekaan. Pikiran ini diambil, sama seperti yang sering diutarakan oleh Antropolog Inggris, Kate Fox. Ia sering berujar "kalau ingin mempelajari sebuah kota di Inggris, Anda perlu pergi ke Pub setempat."

Nah, lantas saya harus kemana? Apa monumen tersebut masih berada di tempat yang sama, Kampung Pecah Kulit alias di Jalan Jacatraweg aka jalan pangeran Jayakarta? Atau di tempat lainnya? Who knows?

Maka dari itu, semangat #antiribet dan #DiBikinSimpel mendominasi, sehingga jemari langsung merespon pertanyaan yang ada, kemudian dengan lihai berselancar mencari informasi melalui dunia maya.

Sayangnya, informasi yang dapat malah mengungkap monumen tersebut telah dibongkar pada tahun 1942 disertai adanya upacara penguburan tengkorak oleh pasukan Jepang. Penjajah Jepang menganggap Erberveld terlalu banyak mengingatkan lembar sejarah gelap masa kolonial, maka dari itu pembokaran dilakukan guna menghapus sejarah gelap dari benak orang-orang nusantara.

Beruntung, setelah Indonesia merdeka, monument tersebut didirikan kembali, namun bukan di tempat asalnya, Jacatraweg. Kini, monument kepala Erbelveld dengan gagah berdiri di Museum taman Prasasti atau yang lebih dikenal dengan nama Kerkhof Laan (nama asli TPU Kebon Jahe Kober yang sejak juli 1977 diresmikan sebagai Museum Taman Prasasti), dan tak menunggu lama, kala berjumpa kembali dengan akhir pekan, diri pun melangkah ke museum yang dulunya dijuluki "kuburan orang Belanda" atau istilah kerennya "Graff der Hollanders."

Benar saja, walau ini kali pertama berkunjung, hati dibuat takjud dengan keindahan kuburan zaman belanda. Kalau kata anak millenials "ini mah bukan tempat pemakaman umum, tapi tempat yang instagramable bingit." Hehehee.

Sebelum menemukan monument, lebih dulu diri menjelajahi Museum dengan berjumpa langsung dengan makam istri dari sang Gubernur Jendral asal Inggris, Thomas Stamford Raffles, Olivia Marianne Raffles (1814), pendiri sekolah Kedokteran Stovia, Dr. H. F. Roll (1935), dan Nisan seseorang yang terkenal dengan catatan hariannya yang berjudul "Catatan Seorang Demonstran," Soe Hok Gie (1969).

nisan soe hok gie/ dethazyo
nisan soe hok gie/ dethazyo
Barulah setelahnya langkah tepat berhenti dihadapan monumen dengan ciri khas tengkorak yang tertancap. Sejenak diri langsung setuju dengan anggapan Mayumi Yamamoto kembali, susuna taman dengan monumen-monumen dan batu-batu nisannya seakan menggambar profil Pieter Erberveld sebagai pahlawan kemerdekaan atau paling tidak pahlawan antikolonial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun