Detha Arya Tifada
Detha Arya Tifada content writer

Adrenaline junkie, Journalist, Content writer, Copywriter, see more about me at tifada.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Mengenal Bulog, Sekali Lagi

16 Mei 2018   13:02 Diperbarui: 16 Mei 2018   13:23 352 2 0
Mengenal Bulog, Sekali Lagi
KITA, Komoditi komersial teranyar BULOG/ dethazyo

Anggapan diri pribadi dari dulu hingga sekarang terkait Perusahaan Umum BULOG atau Perum BULOG, entah mengapa tetap sama. Sekalipun ada mengajak diskusi sambil ngopi-ngopi di persimpangan jalan, pandangan bahwa BULOG hanya mengurisi masalah barang pokok ter-khususnya beras selalu keluar sebagai jawaban dengan tugas menjaga stabilisasi harga sekaligus menjaga stock dipasaran, baik tingkat produsen & konsumen.

Hal diatas tentu tak salah, cuman sebagai orang awam, karena adanya pribahasa "tak kenal maka tak sayang" diri pribadi dapat dikatakan generasi yang kurang updatealias Kudet. Betapa tidak, BULOG yang semenjak 51 tahun lalu telah hadir memberikan kontribusi positif bagi negeri, secara pasti telah melakukan banyak transformasi diberbagai lini.

BULOG yang lahir pada tahun 1967, awalnya dimunculkan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional. Bahkan, saat itu namanya saja belum menjadi BULOG tetapi Lembaga Pemerintah Nondepartemen (LPND) pengelolahan multi komoditas. Nah, baru setelah 1998 hingga menjelang 2014, tugas pokok BULOG hanya berfokus pada komoditas beras saja.

Berita baiknya, pada 2015 tugas BULOG bertambah dengan mengelolah 3 komoditas (padi, jagung, & kedelai). Serta belum genap setahun, pada tahun berikutnya (2016), tugas BULOG ditambah menjadi pengelolahan 11 komoditas yang diantaranya terdapat beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng, bahkan hingga cabe.

Kini ,BULOG mulai menyasar ranah komersil yang terbagi menjadi tiga kategori Unit bisnis (UB. Jastasma, UB. Opaset, UB. Industri, UB. Ritel), anak perusahaan (JP. Logistics), serta bisnis utama (perdagangan komoditi dengan brand KITA).

Tentu hal ini menjadi salah satu upaya yang patut diapresiasi, dan merupakan kemandirian dari salah satu Badan Usaha Milik Negera (BUMN) guna mencari pundi-pundi pendapatan, selain dari menunggu kucuran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Seperti dijelaskan tadi diatas, BULOG memiliki 4 unit bisnis. Ini penjelasannya lebih lanjut:

Pertama, UB. Jastasma, UB ini berfokus pada usaha jasa survey kualitas, jasa sistem penyimpanan, dan jasa pemberantasan hama.

Kedua, UB. Opaset, UB ini berfokus pada kegiatan usaha optimalisasi asset serta meningkatkan asset menjadi lebih produktif. Seperti bangunan, gudang, ataupun lahan kosong.

Ketiga, UB. Ritel, UB ini berfokus pada pengembangan jaringan pendistribusian komoditi-komoditi BULOG, misalnya bekerjasama dengan Transmart dan supermarket-supermarket lokal seluruh Indonesia.

Keempat, UB. Industri. UB ini berfokus pada pengelolahan bahan pokok makanan, mulai dari produksi, perdagangan hingga jasa.

Itu baru UB-nya BULOG, untuk anak perusahaan sendiri Bulog memiliki JP. Logistics yang melakukan usaha di bidang Freight Forwarding, Warehousing, dan shipment. Untuk informasi, Inilah fasilitas yang menjadi unggulan BULOG untuk memindahkan stock dari suatu tempat ke tempat lain.

KITA, Komoditi Komersial Teranyar Perum BULOG

produk dari KITA/ dethazyo
produk dari KITA/ dethazyo
Sesuatu yang menarik dan menjadi BIsnis Utama dari BULOG ialah perdagangan Komoditi. Dalam hal ini BULOG telah memiliki 'KITA' sebagai komoditi komersial teranyar perum BULOG. Untuk informasi, meski masih seumur jagung, gaung dari KITA sudah diapresiasi loh oleh orang nomor satu Indonesia, siapa lagi kalau bukan Presiden Joko Widodo.

Saat ini komoditi BULOG yang hadir guna meramaikan produk KITA, antara lain Minyak Goreng KITA (Minyak Goreng), Manis KITA (Gula), Terigu KITA (Tepung Terigu), Beras KITA (Beras), dan Daging KITA (Daging). Bahkan, tak tanggung-tanggung KITA, ingin menghadirkan standart pangan berkualitas dengan harga kompetitif dan layak edar di Indonesia, apalagi ditambah dengan semboyan yang diusung ialah mudah, murah, & sehat.

Tak cukup sampai situ, BULOG pun dengan senang hati memberikan medium kepada masyarakat untuk meraih pundi-pundi tambahan melalui RPK (rumah pangan kita) dengan memasarkan semua komoditi yang dimiliki oleh BULOG, Semacam perpanjang tangan produk KITA menuju konsumen. Hal yang membuat berbeda dengan bisnis lainnya, ialah BULOG menetapkan peraturan bahwa di satu RW hanya berdiri satu RPK. Langkah ini patut diapresiasi, jika tidak, maka persaingan-persaingan dalam bentuk perang dagang dan harga akan muncul ke permukaan.

Lalu mudahkah cara mendaftar? Berhubung diri pribadi di undang dalam acara 'Kopiwriting' yang mengupas "strategi BULOG perkuat sektor komersial' dan mendengarkan langsung penjelasan dari Tri Wahyudi Saleh selaku direktur komersial perum BULOG di Kanawa Coffee, Jakarta Selatan pada kamis 3 mei 2018. Beliau menjamin prosesnya cukup mudah. Kumpulin berkas-berkas yang menjadi syarat, datangi kantor BULOG guna mendaftar RPK, menunggu verifikasi dan kira-kira prosesnya kurang dari seminggu. Begitu kiranya yang sudah-sudah.

Bapak Tri Wahyudi Saleh selaku direktur komersial perum BULOG saat memberikan penjelasan/ dethazyo
Bapak Tri Wahyudi Saleh selaku direktur komersial perum BULOG saat memberikan penjelasan/ dethazyo
"Harus nyiapin dana berapa?" untuk awalan seseorang yang mau membuka RPK hanya dikenakan biaya sebesar 5 juta rupiah sebagai modal yang ditukarkan dengan ragam komoditi dari produk KITA. Beruntungnya, medium untuk promosi seperti spanduk juga turut didapat dan itu merupakan bonus yang di berikan oleh BULOG.  

MANISKITA/ dethazyo
MANISKITA/ dethazyo
Masalah harga pasaran dari produk KITA cukup ramah dikantong masyarakat, produknya murah dan mudah didapat, serta kesehatannya cukup terjamin. Diri pribadi pun turut merasakan nikmatnya nge-teh pagi-pagi bersama Manis Kita, disandingkan dengan pisang goreng berbalut Terigu KITA dan di goreng dengan Minyak KITA. Dan hal yang menjadi favorit dari produk KITA ialah Beras KITA, kualitas premium dari beras ini mampu membuat nafsu makan sekeluarga menjadi bertambah. Kira-kira nikmat mana lagi yang kau dustakan? Hasek...

signature
signature