Mohon tunggu...
Desy Pangapuli
Desy Pangapuli Mohon Tunggu... Be grateful and cheerful

Penulis lepas yang suka berpetualang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Self-Reward karena Kita Bukan Robot

5 Maret 2021   03:48 Diperbarui: 5 Maret 2021   04:03 133 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Self-Reward karena Kita Bukan Robot
https://www.shutterstock.com/

Kita bukanlah robot itu pasti.  Kita manusia yang memiliki rasa, dan batas lelah.  Lelah secara fisik dan non-fisik alias jiwa kita yang lelah.  Siapapun, entah karyawan, pelajar, tua dan muda, laki-laki ataupun perempuan semuanya bisa lelah!  Percayalah, tidak dosa kok kalau sesekali kita mengucap terima kasih kepada diri sendiri atas semua lelah selama ini.  Bahasa kerennya, "Self Reward."

Kebetulan, saya memang mengenalkan self-reward kepada kedua buah hati sedari mereka usia playgroup.  Nilai yang saya tanamkan, bahwa hari sekolah adalah untuk belajar, sedangkan weekend untuk happy-happy, dan liburan panjang untuk happy banget!  Bagi saya ini cara belajar untuk bertanggungjawab.

Yup, ada 2 happy, jika di weekend maka sebisanya sehabis pulang Gereja kami sempatkan jalan seharian, dan makan di luar dengan menu pilihan anak-anak.  Sedangkan kalau happy banget, maka ini kompromi antara pasangan dan anak-anak mereka mau liburan kemana.  Maklum, yang menyetir itu bapaknya.  Kebiasaan keluarga kecil kami menghabiskan liburan panjang dengan keliling Indonesia berkendaraan.  Sejauh ini kami sudah menyeberang hingga pulau Bali dan Sumatra.  Kira-kira begitulah keseruan self-reward kami saat sebelum pandemi.

Itulah sebabnya anak-anak berusaha keras belajar dengan giat agar memperoleh nilai maksimal.  Pencapaian yang membuat diri mereka merasa pantas menikmati penghargaan atau self-reward.

Ini bukan nyogok!   Nilai ini terbentuk dan terpola manis menjadi memotivasi.  Menjadikan mereka pantang menyerah demi memperoleh hasil terbaik, sekalipun ditengah pandemi seperti saat ini.  Seiring mereka tumbuh, ada kepuasaan terhadap diri sendiri karena berhasil memberi yang terbaik.

Meski di posisi orang tua, saya juga menghormati cara kedua anak saya menikmati self-reward.  Menyadari kondisi saat ini sulit, maka umumnya mereka memberikan apresiasi kepada diri sendiri dengan cara sangat sederhana, misalnya dengan bermain game setengah hari, menikmati minuman kekinian dari hasil mencontek youtube, ataupun seperti putriku si sulung lebih senang tenggelam menulis puisi.

Sebagai mama dari dua bocah ABG, pandemi sungguh memberikan tantangan hebat.  Hidup menjadi luarbiasa sulit, karena selain sebagai istri, ibu, dan sekaligus guru untuk kedua buah hati di saat bersamaan.  Padahal saya juga masih ada tanggungjawab pekerjaan lainnya.  Ujungnya, kaki jadi tangan, dan tangan menjadi kaki.  Tidak peduli bagaimana, semua harus berjalan bersamaan dengan hasil yang terbaik.

Sehingga untuk saya, self-reward adalah me time.  Saat ketika saya memutuskan tidak melakukan apapun, kecuali menyenangkan diri sendiri.  Disaat itulah saya memutuskan tidak masak, leha-leha main game, menulis sepuasnya atau bahkan masak kue beraneka jenis, terserah semau saya.  Intinya, saya bebas melakukan apapun yang saya sukai!

Hahahah...apakah ada yang protes jika saya kumat?  Nggak tuh, karena saya jujur mengatakan kepada seisi rumah, "Mama capek, mau istirahat."  Yup, inilah cara saya mengapresiasi diri sendiri.  Memberikan waktu kepada fisik dan jiwa yang lelah.

Lucunya, bentuk self-reward saya sekalipun me time, tidaklah melulu untuk diri sendiri.  Di beberapa kesempatan, saya memberi kejutan dengan mentraktir seisi rumah.  Di lain waktu lagi, saya pun membagi berkat.  Berkat tidak melulu bicara materi, tetapi juga tentang terlibat dalam komunitas sosial, ataupun sekedar menjadi tempat curhat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x