Mohon tunggu...
Desy Pangapuli
Desy Pangapuli Mohon Tunggu... Be grateful and cheerful

Penulis lepas yang suka berpetualang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Berhenti Berharap

8 September 2020   01:49 Diperbarui: 8 September 2020   02:03 69 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Berhenti Berharap
Ilustrasi: https://www.lampost.co/

Tulisan ini sebenarnya adalah janji penulis kepada diri sendiri.  Hadiah untuk si bungsu yang baru saja berulang tahun Agustus kemarin.  Tidak terasa 15 tahun sudah aku membesarkannya, dan itu bukan hal yang mudah.  Ada airmata mengalir deras, setidaknya dari usianya 4 bulan hingga 12 tahun.  Selebihnya adalah jatuh bangun dengan ceritanya tersendiri.  Percaya, semuanya pasti indah pada waktunya.

Menjadi ibu "saja" menanggalkan pekerjaan dan jabatan "lumayan" di kantor bukanlah hal yang mudah.  Berhadapan dengan kepelikan kantor berbeda dengan mengurus 2 anak.   Sangatlah menguras segalanya karena mereka darah daging kita.  Bukan laptop atau orang lain yang tidak terlalu melibatkan emosional disini.  Apalagi di artikel terdahulu berjudul Mama, Apakah Aku ada Masalah? penulis juga mempunyai perjuangan mengenai si sulung, putriku.  Puji Tuhan, kini dirinya tumbuh seperti anak lainnya, sangat membanggakan dengan prestasi, dan utamanya tetap tetap rendah hati.

Kembali kepada si bungsu yang sedari usianya 4 bulan menjadi langganan rumah sakit.  Tidak tanggung-tanggung terkadang kami seperti berlibur di rumah sakit, sangking lamanya dirawat.  Kebayang betapa mengerikannya jika dilihat dari biaya.  Tetapi, Tuhan dengan caraNya yang luarbiasa selalu memberikan jalan sehingga semuanya selalu terselesaikan dengan mukjizat.

Berbicara mukjizat tentunya abstrak, karena setiap orang mempunyai penilaian masing-masing.  Tetapi melewati lebih dari 12 tahun bersama si bungsu disampingku, apakah itu bukan mukjizat?

Kilas balik ketika pertama kali si kecil dirawat saat usianya 4 bulan, berawal ketika dirinya step lalu diagnosa ashma.  Kebayang bagaimana penulis harus menghadapi ini semua.  Bukan hal yang mudah seorang bayi diinfus, karena dirinya akan bergerak tidak nyaman.  Inilah yang pernah terjadi, saat suatu malam penulis terbangun karena merasa dingin dan basah.  Kebetulan karena masih bayi maka penulis harus ikutan tidur dalam boks bayi bersamanya.

Lanjut, tersadar merasa basah kemudian penulis duduk mencari tahu apa ini.  Kaget, dan lemas ternyata itu adalah darah!  Darah segar yang mengucur karena infus di kaki si kecil terlepas.  Panik penulis memanggil perawat yang kemudian segera datang dan meminta penulis untuk segera menyusui si kecil yang sudah terlihat. lemas.

Cerita soal infus pun bukan hanya sekali, karena perjalanan waktu membuat rumah sakit jadi rumah kedua kami.  Satu cerita adalah ketika si bungsu di usia TK yang kembali harus dirawat, dan cerita horor ini berulang, bahkan membuat gurunya yang ketika itu sedang membesuk pingsan.  Merasa senang dengan  kunjungan gurunya, jarum infus itupun ditariknya.  Yup, putraku ini walaupun sering sakit, tetapi dia anak yang aktif dan penuh semangat.  Itulah sebabnya penulis membiarkannya untuk bersekolah seperti anak lainnya.

Perjalanan hidupnya yang sering sakit membuat penulis memotivasinya bahwa, "kelemahan bukanlah sebuah kekurangan.  Tetapi jadikan itu sebagai kekuatan untuk mengejar mimpi!  Apapun itu mimpimu dek," begitu penulis selalu mengatakan kepadanya.

Putraku ini sejak kecil kerap panas tinggi hingga 40-41 derajat.  Pemicunya bisa dikarenakan apa yang dimakannya, atau pun hanya karena lelah yang kemudian berujung panas tinggi.  Padahal sebagai ibu, penulis telah dengan begitu ketat memperhatikan ini.  Tetapi hal-hal diluar dugaan tetap tak terhindarkan.

Satu cerita dari rentetan step putraku ini dimana aku nyaris kehilangannya.  Ketika itu usianya sekitar 1 tahun dan memang sedang demam.  Menjaganya seperti biasa dengan segala bekal pemahaman dari dokter.  Dimulai dari obat dari mulut, hingga obat step yang (maaf) dimasukan dari dubur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN