Mohon tunggu...
Dessy Kushardiyanti
Dessy Kushardiyanti Mohon Tunggu... No Limit, No Regret, No Excuse

Dosen Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Syekh Nurjati - Master of Arts, Universitas Gadjah Mada

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Tiba-Tiba Menjadi Da'i: Dakwah Rahmatan Lil Alamin di Era Distruptive Media

21 April 2021   21:03 Diperbarui: 21 April 2021   21:08 59 3 0 Mohon Tunggu...

Berbicara soal media tidak akan ada habisnya, selain sebuah kesempatan juga menjadi tantangan bagi tiap pelaku di dalamnya. Mengacu pada teori Habermas maka semakin terbukti bahwa kini interaksi terjadi pada manusia dari tatap muka ke cyberspice. Tak terkecuali dalam konteks dakwah di era digital, banyak yang tiba-tiba menjadi da'i karena mudahnya aksesbilitas media dan pembuatan konten.

Kondisi covid-19 telah banyak merubah konstruksi society dalam melakukan komunikasi, tak terkecuali dalam mengikuti aktivitas keagamaan. Keterbatasan beraktivitas membuat perubahan sosial yang cukup berpengaruh dalam kemunculan model komunikasi yang syarat akan kepentingan dan tantangan. Kebutuhan media dakwah yang tepat juga menjadi solusi di tengah keragaman culture masyarakat Indonesia sehingga sesuai visi dakwah Rahmatan Lil Alamin

 Kegiatan dakwah adalah positif dilakukan dan media sosial membantu dalam distribusi dakwah yang efektif menjangkau banyak target pengguna. Tidak ada yang salah dalam penggunannya, selama penyampaian segala informasi dilakukan dengan jujur dan tanpa kepentingan.

Faktanya, di era distruptif media sosial memiliki kedangkalan yang sudah menjadi rahasia umum, tiba-tiba menjadi da'i dengan bungkusan konten, mengutamakan citra dan kepentingan media. Maka, ber-tabayun-lah terhadap berbagai informasi yang didapat, jangan sampai makna dakwah yang harusnya menjadi manfaat malah menjadi sesat hanya karena penyampaiannya yang kurang tepat dengan fakta atau bahkan pendustaan akan unsur agama.

Secara sederhana,Rahmatan Lil' alamin merujuk pada tujuan dakwah manakala muncul keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas. Cerminan dakwah Rasulullah dalam mengajak manusia ke jalan Allah dengan kasih sayang serta kelembutan.

Kebebasan bermedia juga menjadi tantangan di tengah rasa egoisme penggunanya dalam bertunduk pada sebuah informasi yang belum tentu kebenarannya, pentingnya menjaga perasaan dan terhindar dari berbagai kepentingan personal menjadi perlu dalam penyampaian dakwah di ranah media sosial, bisa dibayangkan betapa bahayanya emosi seseorang dalam penyampaian informasi yang berlebihan tanpa ada filterisasi bahkan dapat menyakiti banyak hati manusia. Pembicaraan agama menjadi hal yang tidak kalah sensitive di kalangan pengguna media sosial, serangan sosial tidak main-main didapat jika informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kaidah keislaman.

Era distruptive media juga membawa kita pada tantangan keterkejutan atas dasar kepentingan di ranah media sosial. Seberapa penting engagement bagi para content creator? Tentu sangat penting, karena adanya monetasi yang menguntungkan di beberapa media sosial, menjadi tantangan para penyampai dakwah agar tau batasan agar tidak terlalu terlena dengan banyak keuntungan duniawi yang ditawarkan, namun di sisi lain ada manfaat yang bisa diambil bahwa semakin banyak ilmu tersebar maka akan balik menjadi manfaat barokah bagi pendakwah, keviralan tentu akan membantu penyampai dakwah menebar manfaat lebih luas atas ilmu agama yang disampaikan.  

Siapa saja bisa menjadi da'i di media sosial, karena pada hakekatnya kita sebagai manusia lebih baik memiliki andil untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Walaupun kurangnya standarisasi kompetensi bagi pendakwah, berkemungkinan adanya konten dakwah di media sosial dalam penyampaian informasi keagamaan yang didasarkan pada kepentingan engagement dan kepentingan tertentu.

Tantangan pendakwah selanjutnya yaitu muncul dari segi kompetisi, mungkin jika penyampaian dakwah dilakukan secara langsung misal di masjid atau tempat tertentu, kita dapat dengan mudah menjaring penerima pesan sesuai target. Berbeda ketika dakwah dilakukan di media sosial yang memiliki jangkauan tak terbatas, maka akan bersaing dengan berbagai konten lain yang dapat menyebabkan informasi dakwah tidak tersampaikan dengan baik, hal inilah yang menjadi perhatian dan tantangan bagi pendakwah digital, bahwasannya selain substansi informasi, maka perlu pengetahuan perihal teknis.

Terlepas dari segala kepentingan dan tantangan penyampaiannya dakwah, maka niatkan untuk kebaikan niscaya Allah akan memberikan pertolongan. "Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa datang dengan (membawa) kejahatan, maka orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu hanya diberi balasan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Al-Qashas ayat 84).

VIDEO PILIHAN