Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 237-239

13 Juli 2018   05:50 Diperbarui: 13 Juli 2018   06:16 288 0 0

Sebelum jam 12, Awai membereskan semua piring gelas kotor agar saat Tiong It datang ia bisa menemani Tiong It .

" Semalam aku ketemu Joyah di Rumah Hantu. Kamu ingat pembantu makcik Yo yang bernama Joyah?" tanya Awai pada Tiong It.

Tiong It mengangguk. " Rumah Hantu yang mana ?" Tiong It memakan sesuap pesanannnya.

" Itu tuh, rumah di ujung jalan Rumbia, yang pernah ada orang bunuh diri." Cerita Awai bersemangat.

" Oh, itu. Rumah makcik Soraya Hanifa. Kenapa Joyah bisa tinggal di rumah itu ?" tanya Tiong It.

" Kamu kenal pemilik rumah itu ? " tanya Awai.

Lagi lagi Tiong It mengangguk. " Kenapa Joyah bisa ke rumah itu ? " ulang Tiong It.

" Makcik Yo membeli rumah itu. Katanya harganya murah. Joyah disuruh memasak di rumah itu agar tak perlu menyewa lagi. Joyah ketakutan setelah kuberitahu di rumah itu pernah ada yang bunuh diri." Cerita Awai.

" Bagus juga kalau makcik Yo yang membeli rumah itu. Aku pernah bertemu roh makcik Soraya." Ucap Tiong It kalem. Ia teringat kenangan kala ia mencari setangkai bunga mawar untuk dipersembahkan pada Awai.

" Bohong. Kamu pasti membual. Mana mungkin manusia bertemu roh orang yang sudah mati 2 tahun yang lalu."

" Sungguh. " Ekspresi Tiong It minta dipercaya. "Aku pernah bertemu roh makcik Ros. " Tiong It teringat ucapan Soraya Hanifa. Sesuatu yang sulit di dapat, kalau didapat, akan lebih dihargai. Tiong It menceritakan apa yang dialaminya. 

Awai mendengarkan hingga mulutnya terbuka lebar. Ia tak menyangka, demi berbaikan dengannya, Tiong It rela datang ke kuburan pada tengah malam hanya untuk mengambil setangkai bunga mawar. Kini ia yakin Tiong It benar benar mencintainya, sanggup berkorban apapun demi dirinya. Dulu ia menyangka bunga itu dibeli Tiong It dari pasar. Kini ia tahu Tiong It mendapatkan bunga itu dengan penuh pengorbanan.

Tiong It teringat janjinya pada Makcik Ros. Setelah Tan Suki pulang ke rumahnya, ia tak pernah mencari bunga ros lagi ke rumah makcik Ros. Ia bahkan tak tahu rumah itu telah dijual oleh Pak Hanif, ayahnya makcik Ros.

" Oke. Kalau begitu sore nanti kamu mengunjungi makcik Yo, aku akan ke rumah Makcik Ros, memohon agar makcik Ros tidak mengganggu Joyah atau makcik Yo jika keduanya tinggal di rumah itu. "

" Oke. Aku setuju. Sudah hampir jam satu, sebaiknya kamu pulang." Kata Awai. Tanpa membantah Tiong It berjalan keluar.

Jam 3, saat Awai membuang sisa makanan, kali ini bukan wanita parobaya yang membeli kepiting, tapi seorang anak lelaki yang paling dibenci Awai. Kam Bing Ti nyengir ketika melihat Awai membawa seember sampah lewat di depannya. Ia menutup hidung.

" Wah, tak kusangka Tan Hua Wai jadi pembantu. Menyedihkan sekali nasibmu. Mendingkamu melamar di bengkel sepeda ayahku, tak perlu mencium bau busuk setiap hari,"

Awai mencueki ocehan Bing Ti. Ia berjalan ke ujung dermaga, menuang sisa makanan, mencuci ember, lalu kembali ke pasar. Kam Bing Ti masih nangkring di depan penjual kepiting.

" Wai, anak bangsat itu tak kemari lagi, ya ?" tanya Bing Ti.

" Oh, jadi kamu yang memata-mataiku ? Siapa yang menyuruhmu, Bing? " tanya Awai geram.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2