Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 232-234

11 Juli 2018   05:51 Diperbarui: 11 Juli 2018   06:06 259 0 0
Namaku Awai 232-234
Dok Pribadi

" Kalau kamu patuh, aku kehilanganmu..." ucap Tiong It dengan nada pedih.

" Kalau aku patuh, aku takkan duduk bersamamu sekarang,"

Tiong It mengartikan kata-kata itu sebagai tanda bahwa Awai membalas cintanya.

" Aku sungguh tak berguna, tak bisa melindungimu dari pukulan ibumu."

" Lama-lama aku terbiasa dipukul mama. Jangan kuatir. Kamu rela makan lontong demi bertemu denganku. Itu bagiku sangat berarti, sangat kuhargai, dan setelah makan, pulanglah... aku tak ingin ibuku menyerbu kesini untuk membuat keributan."

Tiong It mengangguk. Ia merasa itu cara terbaik menghadapi masalah mereka. Ia makan setengah piring." Aku sudah kenyang. Tolong berikan sisa makanan ini pada ikan-ikan di laut. Tolong minta ikan ikan itu menyampaikan pada Hantu Laut bahwa aku berterima kasih Hantu Laut tidak menggigitmu."

Awai tersenyum sambil meringis. Ia mengambil piring itu, memakan sisa makanan Tiong It tanpa malu malu. Gantian Tiong It terperangah. Tapi ia tak bersuara. Awai hanya makan sedikit.

" Kalau kurang, kupesankan lagi. " kata Tiong It, mengira Awai belum makan siang.

" Tidak usah. Paman Hsu tadi memesan nasi kari untukku. Aku hanya ingin mencicipi sisa makananmu, dan berbagi separo makanan dengan ikan. Pulanglah, akan kusampaikan pesanmu pada Hantu Laut,"

Tiong It tahu, andai ia terlalu lama, akan ketahuan oleh seseorang yang mengintai Awai, atau mengintainya. Jika ketahuan mereka berduaan, Awai pasti disiksa lagi. Ia tak ingin Awai kesakitan lagi. Ia mengangguk dan berjalan keluar menuju jalan raya.

Jam 3, Awai menenteng seember sisa makanan menuju ujung dermaga. Ia menyapa penjual ayam, penjual kepiting, menyapa tukang perahu. Setibanya di ujung dermaga, ia menuang sisa makanan itu ke laut. Ikan-ikan berebut memakan sisa makanan itu.

" Wahai ikan-ikan, sampaikan salam pada Hantu Laut, Awai berterima kasih ia telah menyelamatkan nyawaku. Juga sampaikan salam dari Han Tiong It, ia berjanji akan memenuhi janjinya." Kepala Awai diangkat sedikit. Ia menatap ke pangkal dermaga. Seorang wanita sedang membeli kepiting, tapi kepalanya ditolehkan ke ujung dermaga.

" Wanita itu memata-mataiku. Apakah disuruh mama ? Kenapa dia mau disuruh mama memata-mataiku ? " Awai segera mencuci ember. Ikan-ikan berenang kalang kabut. Ada yang masuk ke embernya. Awai mengeluarkan ikan itu dari ember. Ditatapnya, lalu dilepaskan kembali ke laut. Ia pulang menenteng ember kosong. Saat ia tiba di pangkal dermaga, pembeli misterius itu tak tampak batang hidungnya. Siapa pembeli kepiting misterius itu ? Apa hubungan wanita itu dengan ibunya ?

Pertemuan demi pertemuan berjalan dengan aman. Setiap jam 12 Tiong It datang ke Sudi Mampir, memesan sepiring lontong atau Mie Siram Saos kacang. Tiong It makan sedikit, Awai makan sedikit, sisanya diberikan pada ikan di laut. Selama seminggu, setiap Awai menuang makanan sisa ke laut, selalu ada seorang wanita di pangkal dermaga, kekadang pura pura membeli kepiting, kekadang membeli ayam. Setiap Awai kembali ke pasar, wanita itu menghilang. Siapa wanita itu?

Tiong mengatakan ia mencurigai So Ting Ling. Akhir-akhir ini So Ting Ling sering membeli es darinya, tapi setelah mengajak ngobrol, pembelian dibatalkan. Awai tak percaya itu ulah So Ting Ling. Ibunya tak suka pada keluarga So, bahkan membenci sepupunya sendiri. Ibunya dan ibu Ting Ling pernah bertengkar hebat. Tak mungkin ibunya mau diadu oleh seorang anak yang tak disukainya.

" Wanita yang pura-pura membeli kepiting itu yang mengadu pada mama. Aku tak tahu siapa wanita itu, dan kenapa benci padaku."

" Aku akan mencari tahu, " kata Tiong It.